Kenapa Cari Kerja Sekarang Terasa Lebih Sulit? Padahal Lowongan Banyak

Pernah merasa sudah melamar ke banyak perusahaan, beberapa kali mengikuti interview, bahkan sudah memiliki pengalaman kerja, tetapi tetap belum mendapatkan pekerjaan?

Perasaan seperti ini semakin sering muncul di kalangan pencari kerja. Ada yang membandingkan kondisi sekarang dengan beberapa tahun lalu ketika satu atau dua kali interview sudah cukup untuk mendapatkan pekerjaan. Sekarang, tidak sedikit kandidat yang sudah mengikuti lima, tujuh, bahkan lebih banyak proses interview tetapi belum juga menerima offering.

Di sisi lain, ketika membuka portal lowongan kerja, posisi yang tersedia terlihat sangat banyak.

Lalu, sebenarnya kenapa cari kerja sekarang terasa lebih sulit padahal lowongan kerja terus bermunculan?

Jawabannya tidak sesederhana karena lapangan pekerjaan sedang sedikit. Ada beberapa faktor yang membuat proses mendapatkan pekerjaan menjadi lebih kompetitif, mulai dari jumlah pelamar, kecocokan kualifikasi, kebutuhan perusahaan yang semakin spesifik, proses rekrutmen, hingga ekspektasi antara kandidat dan pemberi kerja.

Apakah Cari Kerja di Indonesia Memang Semakin Sulit?

Sebelum menyimpulkan bahwa mencari kerja sekarang memang lebih sulit, kita perlu melihat data ketenagakerjaan terlebih dahulu.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Indonesia pada Mei 2026 sebesar 4,65 persen. Angka tersebut justru turun 0,03 persen poin dibandingkan Februari 2026. Pada periode yang sama, jumlah penduduk yang bekerja mencapai sekitar 148,19 juta orang.

Artinya, data tersebut tidak menunjukkan bahwa seluruh pasar kerja Indonesia sedang memburuk secara sederhana.

Namun, angka pengangguran juga tidak bisa digunakan untuk menjawab seluruh pengalaman pencari kerja.

Seseorang bisa saja aktif mencari pekerjaan, mendapatkan beberapa panggilan interview, tetapi berkali-kali gagal pada tahap akhir. Bagi orang tersebut, pasar kerja tetap terasa sulit meskipun angka TPT secara nasional tidak meningkat.

Karena itu, ada perbedaan antara:

  • berapa banyak orang yang menganggur;
  • berapa banyak lowongan yang tersedia;
  • berapa banyak pelamar untuk setiap lowongan;
  • seberapa cocok kualifikasi pelamar dengan kebutuhan perusahaan; dan
  • berapa banyak kandidat yang akhirnya benar-benar menerima pekerjaan.

Kelima hal tersebut tidak selalu bergerak dalam arah yang sama.

Lowongan Kerja Banyak Belum Berarti Mudah Mendapatkan Pekerjaan

Salah satu hal yang membuat pencari kerja bingung adalah banyaknya lowongan yang terlihat di berbagai platform.

Setiap hari ada perusahaan yang membuka posisi baru. Namun, keberadaan sebuah lowongan belum tentu berarti posisi tersebut mudah dimasuki oleh semua pencari kerja.

Bayangkan sebuah perusahaan membuka satu posisi dan mendapatkan ratusan lamaran.

Dari seluruh pelamar tersebut, mungkin hanya sebagian yang memenuhi persyaratan administrasi. Setelah itu, kandidat kembali disaring berdasarkan pengalaman, keterampilan, pendidikan, lokasi, ekspektasi gaji, hasil tes, dan interview.

Pada akhirnya, satu lowongan mungkin hanya menghasilkan satu kandidat yang diterima.

Jadi dari sudut pandang pencari kerja:

“Lowongannya banyak.”

Tetapi dari sudut pandang proses rekrutmen:

“Persaingan untuk mendapatkan satu posisi tetap bisa sangat tinggi.”

Inilah salah satu alasan mengapa jumlah lowongan yang terlihat di internet tidak bisa langsung diterjemahkan menjadi peluang diterima yang besar.

Persaingan Tidak Hanya Datang dari Fresh Graduate

Ada anggapan bahwa kesulitan mencari kerja terutama dialami oleh fresh graduate.

Padahal, pengalaman kerja juga tidak otomatis membuat seseorang bebas dari persaingan.

Kandidat dengan pengalaman lima atau tujuh tahun tetap bisa bersaing dengan kandidat lain yang memiliki pengalaman serupa.

Bahkan, semakin senior seseorang, posisi yang benar-benar sesuai dengan profilnya bisa menjadi semakin spesifik.

Misalnya, seseorang memiliki pengalaman bertahun-tahun pada bidang tertentu. Ia tentu mempunyai keunggulan dibandingkan kandidat tanpa pengalaman. Tetapi perusahaan mungkin sedang mencari orang dengan kombinasi pengalaman yang lebih spesifik, misalnya:

  • pernah menangani industri tertentu;
  • menguasai software tertentu;
  • memiliki pengalaman memimpin tim;
  • memiliki sertifikasi tertentu;
  • bersedia ditempatkan di lokasi tertentu; atau
  • memiliki ekspektasi gaji yang sesuai dengan anggaran perusahaan.

Jadi persoalannya bukan selalu:

“Saya kurang pengalaman.”

Bisa saja persoalannya adalah:

“Pengalaman saya belum cukup relevan dengan kebutuhan posisi yang tersedia.”

Pengalaman Kerja Tidak Selalu Sama dengan Relevansi

Ini salah satu perubahan penting yang perlu dipahami pencari kerja.

Perusahaan tidak hanya melihat berapa lama seseorang bekerja. Mereka juga perlu mengetahui apakah pengalaman tersebut bisa membantu menyelesaikan kebutuhan pada posisi yang sedang dibuka.

Contohnya, seseorang memiliki pengalaman kerja selama tujuh tahun. Angka tersebut terlihat kuat di CV.

Namun jika posisi yang dilamar membutuhkan kemampuan yang berbeda, pengalaman tujuh tahun tersebut belum tentu memberikan keunggulan sebesar yang dibayangkan.

Sebaliknya, kandidat dengan pengalaman lebih sedikit tetapi sangat sesuai dengan kebutuhan posisi bisa saja lebih menarik bagi perusahaan.

Karena itu, pertanyaan yang lebih tepat bukan hanya:

“Berapa tahun pengalaman saya?”

Tetapi juga:

“Seberapa relevan pengalaman saya dengan pekerjaan yang saya incar?”

Perubahan cara perusahaan menilai kandidat inilah yang membuat sebagian pencari kerja berpengalaman tetap merasa kesulitan mendapatkan pekerjaan.

Kenapa Sudah Interview Berkali-kali tetapi Belum Diterima?

Ada kondisi yang lebih membingungkan lagi.

CV sudah lolos.

Panggilan interview sudah datang.

Bahkan interview sudah dilakukan beberapa kali.

Tetapi setelah itu tidak ada offering.

Situasi seperti ini tidak selalu berarti kandidat tidak kompeten.

Dalam satu proses rekrutmen, perusahaan bisa saja memiliki beberapa kandidat yang sama-sama memenuhi kualifikasi. Pada tahap akhir, keputusan dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor.

Misalnya:

1. Ada kandidat yang lebih sesuai

Dua kandidat bisa sama-sama bagus, tetapi salah satunya memiliki pengalaman yang lebih dekat dengan kebutuhan posisi.

2. Ekspektasi gaji tidak sesuai

Kandidat mungkin memiliki pengalaman yang baik, tetapi ekspektasi kompensasinya berada di luar anggaran perusahaan.

3. Ketersediaan kandidat berbeda

Perusahaan mungkin membutuhkan orang yang bisa mulai bekerja dalam waktu tertentu, sedangkan kandidat memiliki masa notice yang lebih panjang.

4. Kebutuhan perusahaan berubah

Proses rekrutmen bisa berubah ketika kondisi bisnis atau kebutuhan tim berubah.

Posisi yang awalnya ingin segera diisi bisa saja ditunda atau bahkan dibatalkan.

5. Faktor kecocokan

Interview tidak hanya digunakan untuk menilai kemampuan teknis. Perusahaan juga dapat mempertimbangkan cara berkomunikasi, pola kerja, kebutuhan tim, dan kecocokan dengan posisi.

Karena itu, gagal mendapatkan offering setelah interview tidak selalu berarti seseorang melakukan kesalahan besar.

Kadang-kadang, kandidat hanya kalah dalam kompetisi yang sangat tipis.

Mengapa Perusahaan Terlihat Semakin Selektif?

Bagi pencari kerja, proses seleksi yang panjang bisa terasa melelahkan.

Namun dari sisi perusahaan, merekrut karyawan juga merupakan keputusan yang memiliki konsekuensi.

Perusahaan harus mempertimbangkan biaya rekrutmen, gaji, waktu onboarding, produktivitas, dan kebutuhan tim.

Akibatnya, perusahaan dapat menjadi lebih berhati-hati dalam menentukan kandidat.

Lowongan yang dahulu mungkin cukup menggunakan persyaratan umum seperti “minimal dua tahun pengalaman”, sekarang bisa disertai kebutuhan yang lebih spesifik.

Semakin spesifik kebutuhan tersebut, semakin kecil pula jumlah kandidat yang benar-benar cocok.

Di sinilah terjadi apa yang sering disebut sebagai mismatch antara pencari kerja dan kebutuhan perusahaan.

Apa Itu Mismatch dalam Dunia Kerja?

Mismatch secara sederhana adalah kondisi ketika kemampuan, pengalaman, pendidikan, lokasi, atau ekspektasi pencari kerja tidak sepenuhnya sesuai dengan kebutuhan pekerjaan.

Misalnya, sebuah perusahaan membutuhkan seseorang dengan pengalaman tertentu.

Di sisi lain, banyak kandidat tersedia, tetapi pengalaman mereka berada pada bidang yang berbeda.

Secara jumlah, kandidatnya banyak.

Tetapi secara kecocokan, kandidat yang benar-benar memenuhi kebutuhan bisa jauh lebih sedikit.

Hal yang sama dapat terjadi pada tenaga kesehatan.

Seorang tenaga kesehatan mungkin memiliki pendidikan dan pengalaman yang baik, tetapi belum tentu cocok dengan semua posisi yang tersedia.

Kebutuhan setiap fasilitas kesehatan dapat berbeda berdasarkan:

  • jenis fasilitas;
  • unit kerja;
  • pengalaman;
  • kompetensi;
  • sertifikasi;
  • lokasi;
  • sistem kerja; dan
  • persyaratan administratif yang berlaku.

Karena itu, banyaknya lowongan tenaga kesehatan tidak otomatis berarti setiap tenaga kesehatan akan mudah mendapatkan pekerjaan.

Kondisi Ini Juga Dirasakan Tenaga Kesehatan

Tenaga kesehatan memiliki karakteristik pencarian kerja yang sedikit berbeda dari sebagian profesi lainnya.

Untuk beberapa posisi, kandidat bukan hanya perlu memiliki latar belakang pendidikan yang sesuai, tetapi juga harus memperhatikan persyaratan profesi dan kebutuhan fasilitas kesehatan.

Artinya, pencari kerja tidak cukup hanya mencari:

“Ada lowongan perawat.”

Tetapi perlu bertanya:

“Apakah posisi tersebut sesuai dengan kualifikasi, pengalaman, lokasi, dan kondisi kerja yang saya cari?”

Hal yang sama berlaku untuk profesi tenaga kesehatan lainnya.

Karena itu, strategi pencarian kerja tenaga kesehatan sebaiknya tidak hanya mengandalkan jumlah lamaran.

Yang lebih penting adalah menemukan lowongan yang benar-benar relevan dengan profil kandidat.

Apakah Berarti Harus Melamar Sebanyak-banyaknya?

Tidak selalu.

Mengirim sebanyak mungkin lamaran memang dapat meningkatkan jumlah peluang yang dicoba. Tetapi jika sebagian besar lowongan tidak sesuai dengan profil, pencari kerja hanya akan menghabiskan lebih banyak waktu tanpa meningkatkan kualitas peluang secara signifikan.

Lebih baik membedakan antara:

banyak melamar

dan

banyak melamar pada posisi yang relevan.

Misalnya, daripada mengirim 100 lamaran secara acak, seseorang dapat membuat daftar posisi yang paling sesuai dengan:

  • pendidikan;
  • pengalaman;
  • kompetensi;
  • lokasi yang diinginkan;
  • kisaran gaji;
  • jenis pekerjaan; dan
  • persyaratan yang dimiliki.

Dengan pendekatan tersebut, proses pencarian kerja menjadi lebih terarah.

Apa yang Bisa Dilakukan Jika Sudah Berkali-kali Gagal?

Jika sudah melamar dan mengikuti interview berkali-kali tetapi belum mendapatkan pekerjaan, jangan hanya menambah jumlah lamaran.

Coba evaluasi prosesnya.

Jika jarang mendapat panggilan interview

Periksa kembali:

  • CV;
  • kesesuaian pengalaman dengan posisi;
  • keyword dan informasi penting dalam CV;
  • persyaratan lowongan;
  • jenis pekerjaan yang dilamar.

Jika sering mendapat interview tetapi tidak lolos

Fokuskan evaluasi pada:

  • cara menjelaskan pengalaman;
  • pemahaman terhadap posisi;
  • jawaban interview;
  • ekspektasi gaji;
  • kesiapan menghadapi pertanyaan teknis;
  • serta kesesuaian antara pengalaman dan kebutuhan perusahaan.

Jika sudah sampai tahap akhir tetapi belum mendapat offering

Jangan langsung menyimpulkan bahwa seluruh strategi pencarian kerja salah.

Bisa jadi kompetisi kandidat memang ketat atau perusahaan memilih kandidat lain yang sedikit lebih sesuai.

Yang penting adalah melihat pola.

Jika kegagalan terjadi berulang kali pada tahap yang sama, di situlah ada sesuatu yang layak diperbaiki.

Jangan Sampai Karena Terdesak, Semua Pekerjaan Terlihat Harus Diambil

Lamanya mencari pekerjaan juga dapat membuat seseorang menurunkan standar secara drastis.

Ini bisa dipahami.

Semakin lama belum bekerja, semakin besar tekanan untuk segera mendapatkan penghasilan.

Namun keputusan menerima pekerjaan tetap perlu dipertimbangkan.

Pekerjaan yang tidak sesuai sama sekali dengan kemampuan, lokasi, kompensasi, atau tujuan karier belum tentu menjadi solusi jangka panjang.

Karena itu, pencari kerja perlu membedakan antara:

terbuka terhadap peluang baru

dan

menerima semua pekerjaan tanpa mempertimbangkan kecocokan.

Keduanya bukan hal yang sama.

Jadi, Kenapa Cari Kerja Sekarang Terasa Lebih Sulit?

Jika dirangkum, ada beberapa alasan mengapa proses mencari kerja dapat terasa lebih sulit meskipun lowongan tetap terlihat banyak:

  1. Persaingan untuk setiap posisi bisa tinggi.
  2. Perusahaan mencari kandidat dengan kebutuhan yang semakin spesifik.
  3. Pengalaman belum tentu sama dengan relevansi.
  4. Kandidat berpengalaman juga bersaing dengan kandidat berpengalaman lainnya.
  5. Proses rekrutmen memiliki banyak tahap penyaringan.
  6. Ekspektasi kandidat dan perusahaan tidak selalu bertemu.
  7. Sebagian lowongan tidak sesuai dengan kualifikasi setiap pencari kerja.
  8. Kebutuhan perusahaan dapat berubah selama proses rekrutmen.
  9. Jumlah lowongan tidak sama dengan jumlah peluang yang benar-benar cocok bagi setiap orang.

Jadi, mungkin masalahnya bukan semata-mata karena “lowongan kerja sekarang sedikit.”

Masalahnya bisa lebih kompleks:

Peluang kerja ada, tetapi persaingan dan kecocokan antara kandidat dengan pekerjaan menjadi semakin penting.

Bagaimana Tenaga Kesehatan Bisa Menyikapinya?

Bagi tenaga kesehatan yang sedang mencari pekerjaan, salah satu pendekatan yang dapat dilakukan adalah mempersempit pencarian berdasarkan profil dan kebutuhan pribadi.

Jangan hanya mencari berdasarkan profesi.

Pertimbangkan juga:

  • lokasi;
  • jenis fasilitas kesehatan;
  • unit atau bidang pekerjaan;
  • pengalaman yang dimiliki;
  • persyaratan posisi;
  • sistem kerja;
  • dan peluang pengembangan ke depannya.

Dengan begitu, pencarian kerja tidak lagi sekadar:

“Saya harus mendapatkan pekerjaan secepatnya.”

Tetapi berubah menjadi:

“Saya harus menemukan peluang yang paling masuk akal untuk profil saya.”

Pendekatan ini mungkin tidak selalu membuat prosesnya menjadi instan. Namun, pencarian yang lebih terarah dapat membantu mengurangi waktu yang terbuang untuk melamar posisi yang sejak awal kurang sesuai.

Kesimpulan

Rasa frustrasi karena sudah berkali-kali melamar dan interview tetapi belum mendapatkan pekerjaan bukan sesuatu yang aneh.

Di satu sisi, data nasional tidak menunjukkan bahwa seluruh pasar kerja Indonesia sedang mengalami kemerosotan. BPS mencatat TPT Mei 2026 sebesar 4,65 persen dan jumlah penduduk bekerja mencapai 148,19 juta orang.

Di sisi lain, pengalaman setiap pencari kerja dapat sangat berbeda.

Seseorang bisa melihat puluhan lowongan setiap hari tetapi hanya menemukan beberapa posisi yang benar-benar sesuai. Setelah melamar, ia masih harus bersaing dengan kandidat lain yang mungkin memiliki pengalaman dan kualifikasi serupa.

Karena itu, banyaknya lowongan tidak selalu berarti proses mendapatkan pekerjaan menjadi mudah.

Bagi pencari kerja, terutama tenaga kesehatan, tantangannya bukan hanya menemukan lowongan. Tantangannya adalah menemukan lowongan yang sesuai dengan kualifikasi dan tujuan karier, kemudian mampu melewati proses seleksi yang ada.

Jika Anda sedang mencari peluang kerja di bidang kesehatan, gunakan waktu pencarian dengan lebih terarah. Perhatikan profesi, lokasi, kualifikasi, pengalaman, dan persyaratan setiap posisi sebelum mengirimkan lamaran.

Hirenakes membantu mempertemukan pencari kerja tenaga kesehatan dengan informasi lowongan yang relevan, sehingga proses pencarian kerja dapat dilakukan dengan lebih terarah.

4 thoughts on “Kenapa Cari Kerja Sekarang Terasa Lebih Sulit? Padahal Lowongan Banyak”

  1. Pingback: Sudah Interview Berkali-kali tapi Tidak Diterima Kerja? Ini yang Perlu Dievaluasi - Hirenakes.com

  2. Pingback: Kenapa Lowongan Kerja Banyak tapi Tetap Susah Dapat Kerja? - Hirenakes.com

  3. Pingback: Sudah Punya Pengalaman Kerja tapi Tetap Susah Dapat Kerja? Ini Alasannya - Hirenakes.com

  4. Pingback: Bagaimana Memilih Lowongan Kerja yang Sesuai Sebelum Melamar? - Hirenakes.com

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top