Sudah Punya Pengalaman Kerja tapi Tetap Susah Dapat Kerja? Ini Alasannya

Punya pengalaman kerja bertahun-tahun seharusnya membuat seseorang lebih mudah mendapatkan pekerjaan.

Setidaknya, begitulah anggapan yang selama ini banyak dipercaya.

Fresh graduate mungkin perlu mengirim puluhan lamaran untuk mendapatkan panggilan pertama. Sementara orang yang sudah memiliki pengalaman kerja seharusnya memiliki nilai tambah karena sudah memahami dunia kerja.

Namun kenyataannya tidak selalu seperti itu.

Ada pencari kerja yang sudah memiliki pengalaman lima, tujuh, bahkan lebih dari sepuluh tahun, tetapi tetap harus mengirim banyak lamaran sebelum mendapatkan pekerjaan baru.

Sebagian bahkan sudah mengikuti beberapa proses rekrutmen dan interview tetapi belum juga mendapatkan offering.

Situasi ini tentu membingungkan.

Kalau pengalaman sudah banyak, kenapa masih susah mendapatkan kerja?

Jawabannya adalah karena pengalaman kerja memang penting, tetapi lamanya pengalaman bukan satu-satunya hal yang menentukan apakah seseorang cocok untuk sebuah pekerjaan.

Perusahaan juga melihat relevansi pengalaman, kompetensi, kebutuhan posisi, ekspektasi kandidat, dan kondisi rekrutmen pada saat itu.

Hal ini menjadi salah satu bagian dari fenomena yang lebih luas mengenai kenapa cari kerja sekarang terasa lebih sulit.

Pengalaman Kerja Memang Penting, tetapi Bukan Jaminan Diterima

Memiliki pengalaman memberikan sejumlah keuntungan.

Orang yang sudah bekerja sebelumnya biasanya sudah terbiasa dengan:

  • tanggung jawab pekerjaan;
  • target;
  • komunikasi profesional;
  • kerja sama tim;
  • penyelesaian masalah;
  • serta dinamika lingkungan kerja.

Perusahaan juga tidak harus memulai semuanya dari nol.

Namun, perusahaan tetap memiliki kebutuhan tertentu.

Seorang kandidat bisa memiliki pengalaman panjang, tetapi jika pengalaman tersebut tidak sesuai dengan pekerjaan yang sedang dibutuhkan, keunggulannya bisa berkurang.

Karena itu, lebih tepat melihat pengalaman kerja dalam dua dimensi:

berapa lama seseorang bekerja

dan

apa yang benar-benar dipelajari serta dikerjakan selama bekerja.

Dua orang bisa sama-sama memiliki pengalaman lima tahun, tetapi kemampuan dan pengalaman spesifiknya bisa sangat berbeda.

Lama Pengalaman Tidak Selalu Sama dengan Relevansi

Ini mungkin merupakan alasan paling penting mengapa orang berpengalaman tetap bisa kesulitan mendapatkan pekerjaan.

Misalnya seseorang memiliki pengalaman tujuh tahun sebagai customer service.

Secara angka, tujuh tahun tentu terlihat kuat.

Namun ketika melamar posisi baru, perusahaan mungkin mencari kandidat yang memiliki pengalaman:

  • menangani pelanggan korporasi;
  • menggunakan sistem CRM tertentu;
  • menangani komplain melalui kanal digital;
  • memimpin tim customer service;
  • atau memiliki pengalaman pada industri tertentu.

Kandidat dengan pengalaman tujuh tahun tersebut belum tentu memiliki semua pengalaman yang dicari.

Sementara kandidat lain mungkin hanya memiliki empat tahun pengalaman, tetapi pernah melakukan hampir seluruh pekerjaan yang dibutuhkan.

Dalam kondisi seperti ini, kandidat dengan pengalaman lebih sedikit bisa saja lebih relevan.

Jadi, pertanyaan pentingnya bukan:

“Berapa tahun saya sudah bekerja?”

Tetapi:

“Seberapa dekat pengalaman saya dengan pekerjaan yang ingin saya dapatkan?”

Perusahaan Tidak Hanya Membeli Pengalaman, tetapi Kemampuan

Ketika perusahaan merekrut seseorang, yang sebenarnya dibutuhkan bukan sekadar jumlah tahun pengalaman.

Perusahaan membutuhkan seseorang yang dapat menjalankan pekerjaan.

Karena itu, pengalaman akan menjadi lebih bernilai jika dapat menunjukkan kemampuan yang konkret.

Misalnya:

Daripada hanya menulis:

“Memiliki pengalaman lima tahun sebagai staf administrasi.”

Lebih informatif jika pengalaman tersebut menunjukkan hal seperti:

  • mengelola dokumen dalam jumlah besar;
  • mengoperasikan sistem administrasi tertentu;
  • menangani laporan rutin;
  • berkoordinasi dengan beberapa departemen;
  • atau meningkatkan efisiensi proses tertentu.

Dengan demikian, perusahaan dapat melihat hubungan antara pengalaman sebelumnya dan pekerjaan yang akan dilakukan.

Skill yang Dibutuhkan Perusahaan Bisa Berubah

Salah satu tantangan bagi pekerja berpengalaman adalah perubahan kebutuhan dunia kerja.

Seseorang mungkin memiliki pengalaman yang sangat baik pada pekerjaan sebelumnya.

Tetapi teknologi, sistem, prosedur, atau cara kerja di industri tersebut dapat berubah.

Akibatnya, kemampuan yang dahulu menjadi nilai tambah belum tentu memiliki nilai yang sama untuk posisi baru.

Ini bukan berarti pengalaman lama menjadi tidak berguna.

Pengalaman tetap memberikan dasar yang kuat.

Namun, pekerja perlu memastikan bahwa kemampuan tersebut masih relevan dan terus berkembang.

Karena itu, semakin lama seseorang berada di dunia kerja, semakin penting untuk tidak hanya mengumpulkan tahun pengalaman, tetapi juga memperbarui kompetensi.

Pengalaman yang Terlalu Spesifik Juga Bisa Menjadi Tantangan

Pengalaman yang spesifik dapat menjadi keunggulan ketika menemukan posisi yang tepat.

Tetapi pada saat yang sama, pengalaman tersebut dapat mempersempit pilihan.

Misalnya seseorang selama bertahun-tahun bekerja pada satu fungsi yang sangat khusus.

Ketika mencari pekerjaan baru, tidak semua perusahaan membutuhkan fungsi tersebut.

Akibatnya, jumlah posisi yang benar-benar sesuai bisa lebih sedikit.

Ini berbeda dengan fresh graduate yang mungkin masih lebih fleksibel terhadap berbagai jenis posisi entry level.

Bukan berarti pengalaman spesifik adalah sesuatu yang buruk.

Justru pengalaman spesifik dapat menjadi keunggulan besar jika dipasangkan dengan kebutuhan perusahaan yang tepat.

Masalahnya adalah jumlah peluang yang relevan mungkin lebih terbatas.

Semakin Senior, Ekspektasi Perusahaan dan Kandidat Bisa Semakin Kompleks

Senioritas juga dapat membuat proses pencarian kerja menjadi lebih kompleks.

Seiring bertambahnya pengalaman, biasanya seseorang memiliki:

  • ekspektasi kompensasi yang lebih tinggi;
  • tanggung jawab yang lebih besar;
  • preferensi pekerjaan yang lebih spesifik;
  • kebutuhan lokasi tertentu;
  • atau target jenjang karier tertentu.

Di sisi lain, perusahaan memiliki anggaran dan struktur organisasi sendiri.

Akibatnya, kandidat dan perusahaan bisa sama-sama merasa cocok dari sisi pekerjaan, tetapi tidak menemukan kesepakatan dari sisi lainnya.

Misalnya perusahaan membutuhkan kandidat berpengalaman, tetapi anggaran yang tersedia berada di bawah ekspektasi kandidat.

Proses pun dapat berhenti meskipun kedua pihak sebenarnya melihat adanya kecocokan.

Kandidat Berpengalaman Juga Punya Lebih Banyak Kompetitor

Persaingan di pasar kerja bukan hanya antara fresh graduate dengan pekerja senior.

Pekerja berpengalaman bersaing dengan pekerja berpengalaman lainnya.

Sebuah posisi level menengah atau senior bisa menarik kandidat yang:

  • memiliki pengalaman serupa;
  • pernah bekerja di perusahaan sejenis;
  • memiliki sertifikasi yang sama;
  • atau bahkan sudah memiliki pengalaman memegang tanggung jawab yang lebih besar.

Artinya, pengalaman yang dimiliki kandidat tidak berdiri sendiri.

Nilainya harus dibandingkan dengan kandidat lain yang melamar posisi yang sama.

Inilah salah satu alasan mengapa seseorang yang sebelumnya mudah mendapatkan pekerjaan bisa mengalami proses yang lebih panjang ketika mencari pekerjaan baru.

Perusahaan Bisa Mencari “Kombinasi” Pengalaman Tertentu

Ada situasi ketika perusahaan sebenarnya tidak mencari kandidat dengan pengalaman paling panjang.

Mereka mencari kombinasi tertentu.

Misalnya:

pengalaman di industri tertentu + kemampuan software tertentu + pengalaman memimpin tim.

Kandidat A mungkin memiliki 10 tahun pengalaman, tetapi hanya memenuhi dua dari tiga kebutuhan tersebut.

Kandidat B memiliki enam tahun pengalaman, tetapi memenuhi ketiganya.

Dalam situasi seperti itu, kandidat B dapat menjadi pilihan yang lebih menarik.

Jadi, proses seleksi bukan kompetisi sederhana berdasarkan:

siapa yang pengalaman kerjanya paling lama.

Lebih tepatnya:

siapa yang paling sesuai dengan kebutuhan posisi.

CV Pekerja Berpengalaman Juga Bisa Menjadi Terlalu Umum

Semakin lama seseorang bekerja, semakin banyak pengalaman yang dapat dimasukkan ke dalam CV.

Namun terlalu banyak informasi justru dapat membuat pengalaman yang paling relevan sulit terlihat.

Misalnya seseorang sudah bekerja selama 10 tahun dan memasukkan hampir seluruh tanggung jawab dari semua pekerjaan sebelumnya.

CV akhirnya menjadi panjang.

Tetapi recruiter harus mencari sendiri:

“Bagian mana yang paling relevan dengan posisi ini?”

Karena itu, pekerja berpengalaman justru perlu lebih selektif dalam menyusun CV.

Tidak semua pengalaman harus memiliki porsi yang sama.

Pengalaman yang paling dekat dengan posisi yang dilamar sebaiknya lebih terlihat.

Jangan Hanya Menjual “Lama Pengalaman”

Kesalahan lain yang bisa terjadi adalah terlalu mengandalkan angka tahun pengalaman.

Kalimat:

“Saya sudah memiliki pengalaman 10 tahun.”

memang terdengar meyakinkan.

Tetapi pertanyaan berikutnya adalah:

“Selama 10 tahun itu, apa yang Anda kerjakan dan apa yang bisa Anda bawa ke posisi ini?”

Inilah mengapa pengalaman sebaiknya diterjemahkan menjadi kemampuan dan hasil.

Misalnya:

Pengalaman: menangani pelanggan selama beberapa tahun.

Lebih kuat jika dijelaskan menjadi:

Kemampuan: menangani keluhan, menyelesaikan masalah pelanggan, menggunakan sistem tertentu, dan mempertahankan kualitas layanan.

Perusahaan dapat lebih mudah melihat manfaat pengalaman tersebut.

Bagaimana dengan Tenaga Kesehatan?

Persoalan relevansi pengalaman juga sangat penting bagi tenaga kesehatan.

Seseorang dapat memiliki pengalaman kerja bertahun-tahun, tetapi pengalaman tersebut mungkin berasal dari unit atau jenis fasilitas tertentu.

Ketika melamar posisi baru, pengalaman tersebut perlu dilihat kembali berdasarkan kebutuhan posisi.

Misalnya pengalaman di:

  • rawat inap;
  • ICU;
  • IGD;
  • kamar operasi;
  • klinik;
  • home care;
  • laboratorium;
  • apotek;
  • atau unit lainnya.

Setiap lingkungan kerja dapat memiliki tuntutan kompetensi yang berbeda.

Karena itu, tenaga kesehatan sebaiknya tidak hanya menuliskan:

“Memiliki pengalaman lima tahun.”

Tetapi menjelaskan pengalaman lima tahun tersebut digunakan untuk melakukan apa.

Semakin jelas relevansinya, semakin mudah perusahaan memahami nilai pengalaman kandidat.

Pengalaman dan Sertifikasi Bisa Saling Melengkapi

Untuk beberapa pekerjaan tenaga kesehatan, pengalaman bukan satu-satunya hal yang perlu diperhatikan.

Persyaratan profesi dan sertifikasi tertentu juga dapat menjadi bagian penting dari proses rekrutmen.

Artinya, kandidat dengan pengalaman panjang tetap perlu memastikan dokumen dan kualifikasi yang dibutuhkan posisi masih sesuai.

Pengalaman memberikan bukti bahwa seseorang pernah melakukan pekerjaan tersebut.

Sementara kualifikasi dan persyaratan lainnya dapat menunjukkan bahwa kandidat memenuhi kebutuhan formal posisi.

Keduanya bisa menjadi kombinasi yang lebih kuat.

Bagaimana Jika Sudah Berpengalaman tetapi Tetap Sulit Mendapatkan Pekerjaan?

Jika Anda sudah memiliki pengalaman tetapi masih kesulitan mendapatkan pekerjaan, jangan langsung menganggap pengalaman tersebut tidak berguna.

Lakukan evaluasi dari sisi relevansi.

Tanyakan:

Apakah posisi yang saya lamar sesuai dengan pengalaman utama saya?

Jika tidak, mungkin perlu memperluas kemampuan atau mencari posisi yang lebih dekat dengan pengalaman.

Apakah kemampuan saya masih relevan?

Jika ada perubahan teknologi atau sistem kerja, pertimbangkan untuk memperbarui kemampuan.

Apakah CV saya menonjolkan pengalaman yang relevan?

Jangan biarkan pengalaman penting tertutup oleh informasi yang kurang relevan.

Apakah ekspektasi saya realistis?

Pertimbangkan lokasi, posisi, senioritas, kompensasi, dan kondisi pasar.

Apakah saya hanya mencari berdasarkan jabatan?

Dua perusahaan bisa menggunakan nama jabatan yang sama untuk pekerjaan dengan tanggung jawab berbeda.

Karena itu, baca deskripsi pekerjaan, bukan hanya judulnya.

Jangan Menganggap Pengalaman Sebagai “Tiket Otomatis”

Pengalaman kerja memang memberikan keunggulan.

Namun pengalaman bukan tiket otomatis untuk mendapatkan pekerjaan.

Setiap kali berpindah perusahaan, seseorang kembali masuk ke proses seleksi.

Perusahaan tetap akan bertanya:

“Apa yang bisa kandidat ini lakukan untuk posisi yang kami buka?”

Karena itu, pekerja berpengalaman perlu mengubah cara memandang pengalaman.

Bukan:

“Saya sudah bekerja lama, jadi seharusnya saya diterima.”

Tetapi:

“Saya memiliki pengalaman tertentu yang relevan dan dapat membantu perusahaan menyelesaikan kebutuhan posisi ini.”

Perubahan sudut pandang tersebut dapat membuat proses pencarian kerja menjadi lebih terarah.

Kapan Pengalaman Menjadi Keunggulan?

Pengalaman menjadi sangat bernilai ketika tiga hal bertemu:

Pengalaman yang relevan + kemampuan yang dibutuhkan + posisi yang tepat.

Jika ketiganya bertemu, pengalaman bertahun-tahun dapat menjadi keunggulan yang kuat.

Namun jika hanya ada pengalaman tanpa relevansi, keunggulan tersebut tidak selalu terlihat.

Itulah sebabnya pencari kerja berpengalaman perlu lebih selektif dalam memilih lowongan.

Tidak semua posisi harus dilamar hanya karena judul pekerjaannya terlihat sesuai.

Kesimpulan

Memiliki pengalaman kerja bertahun-tahun memang merupakan aset.

Tetapi pengalaman tidak otomatis membuat seseorang mudah mendapatkan pekerjaan.

Perusahaan tidak hanya mempertimbangkan berapa lama kandidat bekerja. Mereka juga melihat apakah pengalaman tersebut relevan dengan posisi, apakah kemampuan kandidat masih sesuai dengan kebutuhan, bagaimana posisi kandidat dibandingkan pelamar lain, serta apakah ekspektasi kedua pihak dapat bertemu.

Bagi tenaga kesehatan, relevansi pengalaman bahkan dapat menjadi semakin penting karena kebutuhan setiap fasilitas dan unit kerja dapat berbeda.

Karena itu, jika Anda sudah berpengalaman tetapi tetap merasa sulit mendapatkan pekerjaan, jangan hanya menambah jumlah lamaran.

Evaluasi kembali relevansi pengalaman, kompetensi, CV, jenis posisi yang dituju, serta persyaratan pekerjaan.

Pada akhirnya, mendapatkan pekerjaan bukan hanya tentang memiliki pengalaman paling banyak.

Yang lebih penting adalah menemukan posisi yang membutuhkan pengalaman yang Anda miliki.

Dan ketika persaingan pencarian kerja semakin ketat, memahami mengapa proses tersebut terasa lebih sulit menjadi langkah penting sebelum menentukan strategi berikutnya. Pembahasan yang lebih luas mengenai kondisi tersebut dapat dibaca dalam artikel kenapa cari kerja sekarang terasa lebih sulit.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top