Sudah melamar ke banyak perusahaan, CV beberapa kali berhasil lolos, bahkan sudah mengikuti interview berkali-kali. Tetapi sampai sekarang belum ada satu pun yang berujung pada offering.
Kalau sedang berada di posisi tersebut, wajar jika muncul pertanyaan:
“Sebenarnya saya salah di mana?”
Situasi ini cukup membingungkan karena mendapatkan panggilan interview berarti profil Anda sebenarnya sudah menarik perhatian perusahaan. Namun, berhasil masuk ke tahap interview belum tentu berarti peluang diterima sudah besar.
Ada banyak hal yang dapat menentukan keputusan akhir perusahaan. Sebagian berasal dari kandidat, tetapi sebagian lainnya justru berada di luar kendali kandidat.
Hal ini juga menjadi salah satu alasan mengapa banyak pencari kerja merasa kenapa cari kerja sekarang terasa lebih sulit, meskipun lowongan pekerjaan terlihat tersedia di berbagai platform.
Mendapat Interview Berarti CV Anda Sudah Menarik Perhatian
Sebelum menyalahkan diri sendiri karena gagal mendapatkan pekerjaan, ada satu hal yang perlu dilihat terlebih dahulu.
Jika Anda sudah beberapa kali mendapatkan panggilan interview, berarti CV dan profil Anda setidaknya berhasil melewati penyaringan awal pada beberapa perusahaan.
Dengan kata lain, masalahnya belum tentu:
“Saya tidak punya kemampuan.”
Bisa jadi masalahnya berada pada tahap berikutnya.
Proses rekrutmen biasanya terdiri dari beberapa penyaringan. Kandidat dapat melewati tahap administrasi, interview HR, interview user, tes, hingga tahap akhir sebelum perusahaan menentukan kandidat yang akan menerima offering.
Semakin jauh proses yang berhasil dilewati, semakin banyak pula faktor yang dapat memengaruhi keputusan.
Karena itu, gagal setelah interview tidak otomatis berarti Anda kandidat yang buruk.
Kenapa Sudah Interview tapi Tidak Diterima?
Tidak ada satu alasan yang berlaku untuk semua perusahaan. Namun, ada beberapa kemungkinan yang cukup umum.
1. Ada Kandidat Lain yang Lebih Sesuai
Ini mungkin terdengar sederhana, tetapi sangat mungkin terjadi.
Bayangkan sebuah perusahaan memiliki tiga kandidat untuk satu posisi.
Ketiganya memiliki pengalaman yang baik dan mampu menjawab pertanyaan interview dengan cukup bagus.
Pada akhirnya perusahaan tetap harus memilih satu orang.
Kandidat yang tidak diterima bukan berarti tidak kompeten. Bisa saja kandidat lain memiliki pengalaman yang sedikit lebih relevan dengan kebutuhan perusahaan.
Misalnya perusahaan membutuhkan seseorang yang sudah pernah menangani sistem tertentu. Anda memiliki pengalaman lima tahun, sementara kandidat lain memiliki pengalaman empat tahun tetapi menggunakan sistem yang sama selama beberapa tahun terakhir.
Dalam kondisi seperti ini, perusahaan bisa memilih kandidat yang dianggap membutuhkan waktu adaptasi lebih singkat.
Jadi, terkadang persoalannya bukan siapa yang bagus dan siapa yang tidak bagus, melainkan siapa yang paling sesuai dengan kebutuhan posisi tersebut.
2. Jawaban Interview Belum Menunjukkan Nilai yang Anda Miliki
Memiliki pengalaman tidak selalu berarti mampu menjelaskannya dengan baik saat interview.
Ini adalah masalah yang cukup sering terjadi.
Misalnya seorang kandidat memiliki pengalaman menangani banyak pekerjaan, tetapi ketika ditanya:
“Apa pencapaian terbesar Anda di pekerjaan sebelumnya?”
Jawabannya hanya:
“Saya bertanggung jawab mengerjakan tugas tersebut setiap hari.”
Jawaban seperti itu belum menunjukkan dampak dari pekerjaan yang dilakukan.
Akan lebih kuat jika kandidat dapat menjelaskan:
- apa masalah yang dihadapi;
- apa tanggung jawabnya;
- tindakan yang dilakukan;
- hasil yang diperoleh;
- dan apa yang dipelajari dari pengalaman tersebut.
Perusahaan tidak hanya ingin mengetahui apa yang pernah Anda kerjakan, tetapi juga bagaimana pengalaman tersebut dapat memberikan nilai pada posisi yang sedang dibuka.
3. Pengalaman Anda Tidak Sepenuhnya Sesuai dengan Posisi
Seseorang dapat memiliki pengalaman bertahun-tahun tetapi tetap tidak menjadi kandidat terbaik untuk suatu posisi.
Misalnya Anda memiliki pengalaman sebagai tenaga kesehatan di satu jenis fasilitas atau unit tertentu.
Ketika melamar posisi lain, perusahaan mungkin membutuhkan pengalaman yang lebih spesifik.
Perbedaannya dapat berupa:
- jenis fasilitas kesehatan;
- unit kerja;
- jenis pasien;
- sistem kerja;
- kompetensi tertentu;
- sertifikasi;
- atau pengalaman menggunakan prosedur tertentu.
Karena itu, jangan hanya melihat:
“Saya sudah punya pengalaman.”
Lihat juga:
“Apakah pengalaman saya relevan dengan posisi ini?”
Ini menjadi semakin penting ketika persaingan kandidat tinggi.
4. Ekspektasi Gaji Tidak Bertemu
Interview dapat berjalan dengan baik, tetapi proses tetap berhenti ketika pembahasan kompensasi tidak menemukan titik temu.
Misalnya perusahaan memiliki anggaran tertentu untuk sebuah posisi, sedangkan ekspektasi kandidat berada cukup jauh di atas angka tersebut.
Bukan berarti salah satu pihak salah.
Kandidat memiliki pertimbangan mengenai nilai pengalaman dan kebutuhannya. Perusahaan juga memiliki anggaran dan struktur kompensasi.
Karena itu, sebelum mengikuti proses rekrutmen, sebaiknya pencari kerja memahami kisaran kompensasi yang realistis untuk posisi dan lokasi yang dituju.
Jika ditanya mengenai ekspektasi gaji, hindari memberikan angka tanpa pertimbangan.
Pahami terlebih dahulu:
- tanggung jawab pekerjaan;
- pengalaman yang dibutuhkan;
- lokasi;
- sistem kerja;
- tunjangan;
- dan keseluruhan kompensasi.
5. Perusahaan Membutuhkan Kandidat yang Bisa Mulai Lebih Cepat
Faktor lain yang sering tidak terlihat dari sisi pencari kerja adalah waktu mulai bekerja.
Perusahaan mungkin membutuhkan karyawan dalam waktu dekat.
Sementara kandidat masih memiliki kewajiban di tempat kerja sebelumnya dan membutuhkan waktu untuk menyelesaikan masa pemberitahuan.
Dalam kondisi tertentu, perusahaan dapat memilih kandidat lain yang tersedia lebih cepat.
Ini bukan berarti kandidat dengan notice period lebih panjang tidak bagus.
Hanya saja, kebutuhan perusahaan pada saat itu berbeda.
6. Posisi Bisa Berubah atau Ditunda
Tidak semua proses rekrutmen berakhir karena perusahaan menemukan kandidat yang lebih baik.
Ada kemungkinan kebutuhan perusahaan berubah.
Misalnya:
- posisi ditunda;
- anggaran berubah;
- kebutuhan tim berubah;
- posisi digabung dengan pekerjaan lain;
- atau proses rekrutmen dihentikan sementara.
Dari sisi kandidat, kondisi tersebut sering terlihat seperti:
“Saya sudah interview, tetapi tidak ada kabar.”
Padahal penyebabnya belum tentu berkaitan dengan performa interview.
Inilah mengapa kandidat sebaiknya tidak langsung menyimpulkan bahwa dirinya gagal karena tidak memiliki kemampuan yang cukup.
7. Terlalu Fokus Menjawab Pertanyaan, tetapi Kurang Memahami Posisi
Interview bukan sekadar sesi tanya jawab.
Kesalahan yang cukup umum adalah kandidat mempersiapkan jawaban sebanyak mungkin tetapi tidak memahami pekerjaan yang dilamar.
Akibatnya, jawaban terdengar seperti hafalan.
Padahal interviewer ingin melihat apakah kandidat memahami:
- apa tanggung jawab posisi;
- tantangan pekerjaan;
- kemampuan yang dibutuhkan;
- dan bagaimana pengalaman kandidat dapat membantu menjalankan pekerjaan tersebut.
Sebelum interview, baca kembali deskripsi pekerjaan.
Kemudian tanyakan kepada diri sendiri:
“Dari semua pengalaman saya, bagian mana yang paling relevan dengan posisi ini?”
Jawaban atas pertanyaan tersebut dapat menjadi dasar untuk menjelaskan pengalaman saat interview.
Kalau Sudah Gagal Berkali-kali, Bagaimana Mengetahui Masalahnya?
Jangan hanya menghitung:
“Saya sudah gagal interview 5 kali.”
Coba lihat pola kegagalannya.
Misalnya:
Sering melamar tetapi jarang mendapat interview
Kemungkinan yang perlu diperiksa:
- CV kurang relevan;
- posisi yang dilamar terlalu jauh dari pengalaman;
- persyaratan tidak terpenuhi;
- cara mencari lowongan belum cukup terarah.
Sering mendapat interview tetapi berhenti di tahap HR
Periksa kembali:
- cara menjelaskan pengalaman;
- alasan pindah kerja;
- ekspektasi gaji;
- komunikasi;
- dan kesiapan menjawab pertanyaan dasar.
Sering lolos HR tetapi gagal di interview user
Perhatikan:
- kemampuan teknis;
- pemahaman terhadap pekerjaan;
- pengalaman yang relevan;
- kemampuan menyelesaikan masalah;
- dan contoh konkret dari pengalaman sebelumnya.
Sering sampai tahap akhir tetapi tidak mendapatkan offering
Pada tahap ini, evaluasi tidak boleh hanya diarahkan kepada diri sendiri.
Bisa saja penyebabnya:
- kandidat lain lebih cocok;
- kompensasi tidak sesuai;
- availability;
- kebutuhan perusahaan berubah;
- atau posisi akhirnya ditunda.
Melihat pola seperti ini jauh lebih berguna daripada sekadar memperbanyak jumlah lamaran.
Jangan Mengubah Strategi Hanya karena Satu Kegagalan
Satu kali gagal interview tidak cukup untuk menyimpulkan bahwa strategi Anda salah.
Bahkan dua atau tiga kali gagal juga belum tentu menunjukkan masalah yang sama.
Namun jika sudah berkali-kali mengalami hasil yang serupa, mulai lakukan evaluasi.
Buat catatan sederhana setiap kali selesai interview.
Catat:
- posisi yang dilamar;
- jenis perusahaan atau fasilitas;
- tahap terakhir yang dicapai;
- pertanyaan yang terasa sulit;
- ekspektasi gaji;
- pengalaman yang paling banyak ditanyakan;
- dan apakah ada feedback dari perusahaan.
Setelah beberapa proses, Anda mungkin mulai melihat pola.
Misalnya ternyata hampir semua posisi yang gagal membutuhkan pengalaman tertentu yang belum dimiliki.
Atau ternyata Anda sering kesulitan menjelaskan pengalaman ketika ditanya mengenai pencapaian.
Dengan begitu, kegagalan dapat menjadi informasi untuk memperbaiki proses berikutnya.
Jangan Terlalu Cepat Menyimpulkan “Saya Tidak Laku”
Ini bagian yang sering terlupakan ketika seseorang sudah berkali-kali gagal.
Penolakan pekerjaan dapat memengaruhi kepercayaan diri.
Setelah beberapa kali tidak mendapatkan offering, seseorang mungkin mulai berpikir:
“Mungkin saya memang tidak cukup bagus.”
Padahal proses rekrutmen bukan ujian yang hanya memiliki satu faktor penilaian.
Anda bisa menjadi kandidat yang kompeten tetapi tetap tidak dipilih karena ada kandidat lain yang lebih sesuai dengan kebutuhan perusahaan saat itu.
Perbedaan tersebut penting.
Tidak diterima di satu perusahaan bukan berarti tidak layak bekerja.
Dan tidak diterima berkali-kali juga bukan berarti tidak ada peluang.
Yang perlu dilakukan adalah mencari tahu apakah ada pola yang dapat diperbaiki.
Bagaimana dengan Tenaga Kesehatan?
Bagi tenaga kesehatan, evaluasi setelah gagal interview juga perlu melihat kesesuaian antara profil kandidat dengan kebutuhan fasilitas kesehatan.
Jangan hanya mencatat:
“Saya gagal interview di rumah sakit.”
Pertanyaan yang lebih berguna adalah:
“Saya gagal pada posisi apa dan apa persyaratan khusus posisi tersebut?”
Perhatikan kembali:
- profesi;
- pendidikan;
- pengalaman unit;
- kompetensi;
- sertifikasi;
- persyaratan administratif;
- lokasi;
- sistem shift;
- serta jenis fasilitas kesehatan.
Misalnya seorang kandidat memiliki pengalaman yang kuat di satu unit, tetapi terus melamar posisi yang membutuhkan pengalaman berbeda.
Dalam situasi seperti itu, masalahnya mungkin bukan kemampuan kandidat secara keseluruhan, melainkan ketidaksesuaian antara pengalaman dengan posisi yang dituju.
Kapan Harus Mengubah Cara Mencari Kerja?
Tidak ada angka pasti mengenai berapa kali seseorang harus gagal sebelum mengubah strategi.
Namun, jika Anda sudah mengirim banyak lamaran dan mengikuti beberapa interview tanpa perkembangan, jangan hanya menambah jumlah lamaran.
Coba ubah salah satu variabel.
Misalnya:
Jika posisi yang dilamar terlalu luas → persempit berdasarkan kompetensi.
Jika lokasi terlalu terbatas → pertimbangkan lokasi alternatif.
Jika pengalaman tidak cocok → cari posisi yang lebih dekat dengan pengalaman utama.
Jika interview sering gagal → evaluasi cara menjelaskan pengalaman.
Jika kompensasi sering tidak cocok → pelajari kembali ekspektasi dan struktur kompensasi posisi yang dituju.
Tujuannya bukan menurunkan standar secara sembarangan.
Tujuannya adalah membuat pencarian kerja menjadi lebih realistis dan terarah.
Kesimpulan
Sudah mengikuti interview berkali-kali tetapi belum mendapatkan pekerjaan memang dapat membuat frustrasi.
Namun, hasil tersebut tidak selalu berarti Anda tidak kompeten.
Ada banyak faktor yang menentukan keputusan akhir perusahaan, mulai dari kecocokan pengalaman, kandidat lain, ekspektasi kompensasi, waktu mulai bekerja, kebutuhan perusahaan, hingga perubahan posisi.
Karena itu, jika sudah beberapa kali gagal, jangan hanya bertanya:
“Kenapa saya tidak diterima?”
Coba ubah menjadi:
“Di tahap mana saya paling sering berhenti, dan apa yang bisa saya evaluasi dari pola tersebut?”
Perubahan cara melihat proses ini penting, terutama ketika persaingan pencarian kerja semakin ketat.
Banyaknya lowongan yang tersedia juga tidak otomatis membuat setiap kandidat mudah mendapatkan pekerjaan. Kesesuaian antara kandidat dan posisi menjadi semakin penting, sebagaimana telah dibahas dalam artikel utama mengenai kenapa cari kerja sekarang terasa lebih sulit.
Bagi tenaga kesehatan, pencarian kerja juga sebaiknya dilakukan berdasarkan profesi, kompetensi, pengalaman, lokasi, dan persyaratan posisi. Dengan cara tersebut, setiap lamaran yang dikirim memiliki alasan yang lebih jelas dan peluang yang lebih relevan.