Buka portal lowongan kerja, puluhan bahkan ratusan posisi terlihat tersedia. Ada lowongan baru hampir setiap hari, mulai dari posisi entry level hingga pekerjaan yang membutuhkan pengalaman bertahun-tahun.
Tetapi di sisi lain, masih banyak pencari kerja yang merasa kesulitan mendapatkan pekerjaan.
Sudah mengirim banyak lamaran, tetapi hanya beberapa yang mendapat respons. Ada juga yang berhasil masuk tahap interview, tetapi akhirnya tidak mendapatkan offering.
Situasi ini menimbulkan pertanyaan yang cukup masuk akal:
Kalau lowongan kerja banyak, kenapa masih susah mendapatkan pekerjaan?
Jawabannya adalah karena jumlah lowongan yang terlihat bukan berarti jumlah peluang yang cocok dan bisa dimenangkan oleh setiap pencari kerja.
Ada perbedaan antara sebuah posisi yang tersedia dan sebuah posisi yang benar-benar sesuai dengan profil seseorang.
Hal inilah yang perlu dipahami ketika mencari pekerjaan, termasuk bagi tenaga kesehatan yang melihat banyak informasi lowongan di berbagai platform.
Banyak Lowongan Tidak Berarti Sedikit Persaingan
Satu kesalahan dalam melihat pasar kerja adalah menganggap setiap lowongan sebagai satu kesempatan yang relatif mudah untuk didapatkan.
Padahal satu posisi bisa menerima banyak pelamar.
Misalnya sebuah perusahaan membuka satu posisi untuk seorang staf.
Jika ada 200 orang yang melamar, tetap hanya satu kandidat yang akan mendapatkan posisi tersebut.
Artinya, meskipun di internet terlihat ada ribuan lowongan, setiap posisi tetap memiliki persaingan masing-masing.
Karena itu, angka jumlah lowongan tidak bisa berdiri sendiri untuk menentukan seberapa mudah seseorang mendapatkan pekerjaan.
Yang lebih penting adalah melihat:
- berapa banyak kandidat yang melamar;
- berapa banyak kandidat yang memenuhi syarat;
- seberapa spesifik persyaratan posisi;
- berapa jumlah posisi yang benar-benar tersedia;
- dan seberapa cocok profil kandidat dengan kebutuhan perusahaan.
Tidak Semua Lowongan Cocok untuk Semua Pencari Kerja
Bayangkan seseorang sedang mencari pekerjaan.
Ia mungkin menemukan 100 lowongan yang menggunakan kata kunci sesuai dengan profesinya.
Namun setelah membaca persyaratannya, ternyata hanya 10 yang benar-benar sesuai.
Dari 10 lowongan tersebut:
- beberapa membutuhkan pengalaman tertentu;
- beberapa berada di kota yang tidak diinginkan;
- beberapa memiliki persyaratan pendidikan berbeda;
- beberapa membutuhkan sertifikasi tertentu;
- dan beberapa menawarkan kondisi kerja yang tidak sesuai.
Pada akhirnya, jumlah lowongan yang benar-benar relevan bisa jauh lebih sedikit daripada yang terlihat pada hasil pencarian.
Inilah perbedaan antara:
jumlah lowongan yang tersedia
dan
jumlah lowongan yang relevan bagi seorang kandidat.
Semakin spesifik profil seseorang, semakin penting kemampuan menyaring lowongan.
Persyaratan Lowongan Membatasi Jumlah Kandidat yang Benar-Benar Sesuai
Sebuah lowongan bisa terlihat sangat menarik sampai kita membaca bagian kualifikasinya.
Misalnya perusahaan membutuhkan kandidat dengan:
- pengalaman minimal tiga tahun;
- kemampuan menggunakan software tertentu;
- pendidikan tertentu;
- sertifikasi tertentu;
- kemampuan bahasa tertentu;
- atau kesediaan bekerja dengan sistem shift.
Kandidat yang tidak memenuhi salah satu persyaratan penting belum tentu langsung gugur, tetapi peluangnya dapat berbeda dengan kandidat yang memenuhi hampir seluruh kriteria.
Hal ini menjelaskan mengapa seseorang bisa melihat banyak lowongan setiap hari tetapi tetap hanya memiliki sedikit posisi yang benar-benar layak dilamar.
Persaingan Terjadi pada Lowongan yang Sama-sama Menarik
Pencari kerja biasanya tidak hanya memilih pekerjaan berdasarkan ketersediaan.
Mereka juga mempertimbangkan:
- gaji;
- lokasi;
- reputasi perusahaan;
- jam kerja;
- fasilitas;
- peluang karier;
- jenis pekerjaan;
- dan lingkungan kerja.
Akibatnya, lowongan yang memiliki kondisi lebih menarik dapat menerima lebih banyak pelamar.
Sebaliknya, posisi yang kurang menarik mungkin memiliki jumlah pelamar yang lebih sedikit.
Jadi, bukan semua lowongan memiliki tingkat persaingan yang sama.
Dua posisi dengan profesi yang sama bisa memiliki jumlah pelamar yang sangat berbeda hanya karena lokasi, gaji, jam kerja, atau persyaratannya berbeda.
Mengapa Pengalaman Tidak Selalu Membuat Persaingan Menjadi Mudah?
Pencari kerja berpengalaman sering memiliki anggapan bahwa semakin lama bekerja, semakin mudah mendapatkan pekerjaan.
Pengalaman memang merupakan aset.
Namun perusahaan biasanya tidak hanya melihat lamanya seseorang bekerja.
Mereka juga mempertimbangkan relevansi pengalaman tersebut dengan posisi yang sedang dibuka.
Contohnya, seseorang memiliki pengalaman kerja selama tujuh tahun.
Jika lowongan yang dituju membutuhkan pengalaman spesifik yang berbeda dari pekerjaan sebelumnya, kandidat tersebut mungkin tetap harus bersaing dengan orang lain yang pengalamannya lebih dekat dengan kebutuhan posisi.
Jadi:
7 tahun pengalaman tidak selalu lebih unggul daripada 3 tahun pengalaman yang sangat relevan.
Yang dilihat bukan hanya durasi pengalaman, tetapi apa yang dilakukan selama pengalaman tersebut.
Ada Perbedaan antara “Memenuhi Syarat” dan “Paling Sesuai”
Ini adalah salah satu alasan mengapa pencari kerja bisa merasa bingung setelah membaca kualifikasi lowongan.
Misalnya tertulis:
“Minimal pengalaman dua tahun.”
Seseorang dengan pengalaman lima tahun mungkin merasa sudah sangat memenuhi persyaratan.
Namun bisa saja ada kandidat lain dengan pengalaman tiga tahun yang pernah melakukan pekerjaan yang hampir sama persis dengan tanggung jawab posisi tersebut.
Keduanya memenuhi syarat.
Tetapi salah satunya mungkin dianggap lebih sesuai.
Karena itu, memenuhi seluruh persyaratan minimum bukan berarti otomatis menjadi kandidat yang akan dipilih.
Persyaratan minimum adalah pintu masuk, bukan jaminan diterima.
Lowongan yang Terlihat di Internet Juga Tidak Selalu Berarti Proses Rekrutmen Masih Sama
Pencari kerja biasanya melihat lowongan dari berbagai platform.
Namun sebuah informasi lowongan dapat tetap muncul di internet meskipun kondisi rekrutmennya sudah berubah.
Perusahaan bisa saja:
- sudah menerima banyak kandidat;
- sedang melakukan proses seleksi;
- menunda perekrutan;
- mengubah kebutuhan posisi;
- atau menghentikan proses rekrutmen.
Karena itu, jangan menganggap semua lowongan yang ditemukan memiliki peluang yang sama.
Semakin lama sebuah lowongan tersedia, semakin penting untuk memperhatikan informasi seperti tanggal posting, deadline, dan petunjuk dari perusahaan mengenai status rekrutmen.
Mengapa Lowongan di Kota Tertentu Terlihat Sangat Banyak tetapi Tetap Kompetitif?
Konsentrasi lapangan kerja juga memengaruhi persaingan.
Kota besar biasanya memiliki lebih banyak perusahaan, rumah sakit, klinik, dan fasilitas lain.
Akibatnya, jumlah lowongan juga bisa terlihat lebih tinggi.
Namun pencari kerja yang tertarik datang ke kota tersebut juga lebih banyak.
Dengan kata lain:
lebih banyak lowongan dapat berjalan bersamaan dengan lebih banyak pelamar.
Hal ini membuat jumlah lowongan saja tidak cukup untuk menyimpulkan bahwa persaingan lebih ringan.
Bagaimana dengan Lowongan Tenaga Kesehatan?
Fenomena yang sama dapat terjadi pada tenaga kesehatan.
Misalnya seseorang melihat banyak lowongan untuk profesinya.
Namun setelah disaring berdasarkan kualifikasi, ternyata sebagian besar posisi memiliki persyaratan berbeda.
Sebuah rumah sakit mungkin membutuhkan pengalaman pada unit tertentu.
Klinik mungkin mencari kandidat dengan kemampuan berbeda.
Fasilitas kesehatan lain mungkin membutuhkan kandidat yang bersedia bekerja dengan sistem shift atau ditempatkan di lokasi tertentu.
Akibatnya, seorang tenaga kesehatan dapat melihat banyak lowongan tetapi hanya beberapa yang benar-benar cocok dengan profilnya.
Inilah mengapa pencarian kerja tenaga kesehatan sebaiknya tidak hanya berdasarkan kata kunci profesi.
Pencari kerja juga perlu memperhatikan:
- jenis fasilitas kesehatan;
- unit atau posisi;
- pendidikan;
- pengalaman;
- kompetensi;
- sertifikasi;
- lokasi;
- sistem kerja;
- dan persyaratan lain yang tercantum dalam lowongan.
Jangan Mengukur Peluang dari Jumlah Lamaran Saja
Ada kebiasaan yang cukup umum ketika mencari kerja:
“Kalau belum diterima, berarti saya harus melamar lebih banyak.”
Tidak selalu demikian.
Jika seseorang sudah mengirim 100 lamaran tetapi sebagian besar tidak benar-benar sesuai, menambah jumlah lamaran menjadi 200 belum tentu menyelesaikan masalah.
Yang perlu ditingkatkan bisa jadi bukan jumlah lamaran, tetapi kualitas kecocokan antara lamaran dan posisi.
Contohnya:
Daripada melamar 20 posisi yang hanya sedikit sesuai, seseorang mungkin lebih baik memilih 5–10 posisi yang benar-benar relevan kemudian menyiapkan lamaran dengan lebih baik.
Pendekatan tersebut tidak menjamin diterima.
Namun pencari kerja memiliki alasan yang lebih kuat untuk melamar setiap posisi tersebut.
Bagaimana Cara Menilai Apakah Sebuah Lowongan Layak Dilamar?
Sebelum mengirim lamaran, coba lakukan penyaringan sederhana.
1. Periksa pendidikan
Apakah latar belakang pendidikan Anda sesuai dengan persyaratan?
2. Periksa pengalaman
Apakah pengalaman yang diminta benar-benar Anda miliki?
3. Periksa kompetensi
Apakah kemampuan utama yang disebutkan dalam lowongan sesuai dengan kemampuan Anda?
4. Periksa lokasi
Apakah lokasi pekerjaan realistis bagi Anda?
5. Periksa sistem kerja
Apakah Anda bersedia bekerja shift, lembur, atau sistem kerja lain yang disebutkan?
6. Periksa persyaratan khusus
Untuk posisi tertentu, mungkin terdapat sertifikasi atau dokumen profesi yang perlu diperhatikan.
7. Perhatikan jenis pekerjaan
Pastikan tanggung jawab posisi benar-benar sesuai dengan pekerjaan yang ingin Anda jalani.
Dengan penyaringan tersebut, pencari kerja dapat mengurangi waktu yang terbuang untuk lowongan yang sejak awal kurang relevan.
Banyak Lowongan Bukan Berarti Semua Orang Memiliki Peluang yang Sama
Ada satu kesimpulan penting yang perlu dipahami.
Ketika seseorang mengatakan:
“Lowongan kerja sekarang banyak.”
Pernyataan tersebut mungkin benar.
Namun ketika orang lain mengatakan:
“Saya tetap sulit mendapatkan pekerjaan.”
Keduanya juga bisa sama-sama benar.
Tidak ada kontradiksi.
Lowongan bisa banyak secara keseluruhan, sementara jumlah lowongan yang sesuai untuk seseorang tetap sedikit.
Persaingan juga dapat sangat tinggi pada posisi yang paling diminati.
Karena itu, pengalaman mencari kerja seseorang tidak selalu bisa disimpulkan hanya dari jumlah lowongan yang terlihat.
Lalu, Apa yang Sebaiknya Dilakukan Pencari Kerja?
Jika lowongan terlihat banyak tetapi belum juga mendapatkan pekerjaan, jangan langsung menyimpulkan bahwa Anda harus mengirim lamaran sebanyak-banyaknya.
Mulailah dengan memperbaiki cara menyaring peluang.
Fokuskan pencarian pada posisi yang:
- sesuai dengan latar belakang;
- relevan dengan pengalaman;
- masuk akal dari sisi lokasi;
- sesuai dengan kompetensi;
- memenuhi persyaratan utama;
- dan memiliki kondisi kerja yang dapat Anda terima.
Setelah itu, evaluasi hasilnya.
Apakah Anda mulai mendapatkan lebih banyak panggilan?
Apakah Anda lebih sering masuk ke tahap interview?
Apakah Anda masih berhenti pada tahap yang sama?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut lebih berguna daripada hanya menghitung jumlah CV yang dikirim.
Kesimpulan
Banyaknya lowongan kerja tidak otomatis berarti setiap pencari kerja akan lebih mudah mendapatkan pekerjaan.
Sebuah lowongan tetap memiliki persaingan. Selain itu, tidak semua posisi cocok dengan setiap kandidat.
Perbedaan pendidikan, pengalaman, kompetensi, lokasi, sertifikasi, sistem kerja, hingga ekspektasi kompensasi dapat membuat jumlah lowongan yang benar-benar relevan menjadi jauh lebih kecil daripada yang terlihat.
Karena itu, jika Anda merasa sudah melihat banyak lowongan tetapi tetap sulit mendapatkan pekerjaan, masalahnya belum tentu karena tidak ada pekerjaan.
Bisa jadi tantangannya adalah menemukan pekerjaan yang benar-benar cocok dan bersaing secara efektif untuk posisi tersebut.
Fenomena ini merupakan salah satu bagian dari pembahasan yang lebih luas mengenai kenapa cari kerja sekarang terasa lebih sulit.
Bagi tenaga kesehatan, pendekatan yang sama juga penting. Jangan hanya melihat berapa banyak lowongan yang tersedia. Perhatikan apakah posisi tersebut benar-benar sesuai dengan profesi, pengalaman, kompetensi, lokasi, dan persyaratan yang Anda miliki.
Dengan begitu, pencarian kerja tidak sekadar menjadi aktivitas mengirim sebanyak mungkin lamaran, tetapi menjadi proses menemukan peluang yang paling relevan.