Ditolak kerja sekali mungkin masih bisa dianggap sebagai bagian dari proses.
Namun, bagaimana jika penolakan terjadi berkali-kali?
Sudah mengirim lamaran ke beberapa rumah sakit, tetapi belum ada yang berhasil. Mulai muncul pertanyaan:
“Apakah saya memang belum beruntung, atau sebenarnya ada yang salah dengan cara saya mencari kerja?”
Pertanyaan tersebut penting untuk dijawab.
Bukan untuk menyalahkan diri sendiri, tetapi supaya proses mencari pekerjaan tidak hanya menjadi aktivitas mengirim lamaran berulang kali tanpa mengetahui apa yang perlu diperbaiki.
Penolakan kerja memang tidak selalu berarti kandidat tidak kompeten. Bisa saja ada kandidat lain yang lebih sesuai dengan kebutuhan posisi, jumlah pelamar sangat banyak, atau perusahaan memiliki pertimbangan lain yang tidak diketahui oleh pelamar.
Namun, jika pola penolakan terus berulang, evaluasi tetap diperlukan.
Kuncinya adalah mengetahui kapan harus menerima hasil dan kapan harus melakukan perubahan.
Ditolak Kerja Sekali Bukan Berarti Ada yang Salah dengan Diri Sendiri
Satu penolakan tidak cukup untuk menyimpulkan bahwa seseorang memiliki masalah dalam kemampuan atau kualitas dirinya.
Bayangkan Anda melamar satu posisi yang hanya membutuhkan satu orang, sementara ada puluhan atau bahkan ratusan pelamar.
Tidak terpilih berarti Anda bukan kandidat yang dipilih pada proses tersebut.
Bukan berarti:
- Anda tidak pintar;
- pendidikan Anda sia-sia;
- Anda tidak punya kemampuan;
- atau Anda tidak akan pernah mendapatkan pekerjaan.
Karena itu, jangan langsung melakukan evaluasi besar-besaran hanya karena satu lamaran gagal.
Terima hasilnya, kemudian lanjutkan mencari kesempatan berikutnya.
Tetapi Kalau Berkali-kali Ditolak, Jangan Hanya Menyalahkan Keadaan
Berbeda jika penolakan terjadi terus-menerus.
Misalnya, sudah puluhan lamaran dikirim tetapi hampir tidak pernah mendapatkan panggilan.
Atau sudah beberapa kali mengikuti proses seleksi tetapi selalu berhenti pada tahap tertentu.
Dalam kondisi seperti ini, mungkin sudah waktunya melihat proses pencarian kerja secara lebih objektif.
Bukan dengan pertanyaan:
“Apa saya memang tidak cukup bagus?”
Tetapi:
“Di bagian mana proses saya paling sering berhenti?”
Pertanyaan tersebut jauh lebih berguna.
Karena dari sana kita bisa menentukan apa yang perlu diperbaiki.
Perhatikan Pola Penolakan, Bukan Hanya Jumlah Penolakan
Jumlah penolakan memang bisa terasa menyakitkan, tetapi sebenarnya pola penolakannya lebih informatif.
Misalnya:
Tidak pernah dipanggil setelah mengirim lamaran
Ini bisa menjadi alasan untuk mengevaluasi kesesuaian posisi, dokumen lamaran, atau cara menyampaikan kualifikasi.
Jika masalahnya memang pada dokumen, Anda bisa mempelajari kembali [cara membuat CV untuk melamar kerja di rumah sakit](https://hirenakes.com/cara-membuat-cv-untuk-melamar-kerja-di-rumah-sakit-agar-lebih menarik/) dan memastikan CV benar-benar menunjukkan pengalaman yang relevan.
Sering dipanggil tetapi tidak lolos interview
Kalau sudah mendapatkan panggilan, berarti profil Anda setidaknya berhasil melewati tahap awal.
Mungkin bagian yang perlu diperbaiki adalah cara menjawab pertanyaan, cara menjelaskan pengalaman, atau kesiapan menghadapi wawancara.
Anda bisa mempelajari contoh pertanyaan interview kerja di rumah sakit dan cara menjawabnya untuk membantu melakukan persiapan.
Sudah lolos beberapa tahap tetapi gagal di akhir
Kondisinya berbeda lagi.
Bisa jadi Anda sebenarnya sudah cukup sesuai dengan kebutuhan posisi, tetapi ada kandidat lain yang pada akhirnya dianggap lebih cocok.
Dalam situasi seperti ini, jangan langsung menganggap seluruh strategi Anda salah.
Justru ada indikasi bahwa beberapa bagian dari profil Anda sudah cukup baik.
Jangan Mengubah Semuanya Sekaligus
Ketika kecewa karena berkali-kali ditolak, ada kecenderungan untuk mengubah semuanya.
CV diganti total.
Target pekerjaan berubah.
Pelatihan diikuti sebanyak mungkin.
Semua lowongan dilamar.
Semua dilakukan sekaligus.
Masalahnya, Anda kemudian tidak tahu perubahan mana yang sebenarnya memberikan dampak.
Lebih baik melakukan evaluasi secara bertahap.
Misalnya:
Tahap pertama: periksa kesesuaian lowongan dengan kualifikasi.
Tahap kedua: evaluasi dokumen lamaran.
Tahap ketiga: lihat apakah ada pola pada tahap seleksi.
Tahap keempat: perbaiki kemampuan yang memang masih kurang.
Dengan cara ini, proses evaluasi menjadi lebih terarah.
Jangan Terlalu Cepat Menyalahkan Diri Sendiri
Evaluasi diri bukan berarti menyalahkan diri sendiri.
Ini perbedaan yang penting.
Evaluasi mengatakan:
“Bagian mana yang bisa saya perbaiki?”
Menyalahkan diri sendiri mengatakan:
“Semua ini terjadi karena saya tidak cukup baik.”
Keduanya terdengar mirip, tetapi dampaknya sangat berbeda.
Evaluasi menghasilkan tindakan.
Sementara menyalahkan diri sendiri justru bisa membuat seseorang kehilangan kepercayaan diri.
Dalam proses mencari kerja yang panjang, menjaga kondisi psikologis juga penting. Penolakan berulang dapat memengaruhi rasa percaya diri dan motivasi, sehingga pencari kerja perlu memisahkan hasil rekrutmen dari harga dirinya sebagai individu.
Anda gagal dalam satu proses rekrutmen. Bukan berarti Anda adalah orang yang gagal.
Jangan Selalu Menyalahkan Perusahaan
Sebaliknya, jangan pula selalu menganggap perusahaan yang salah setiap kali lamaran ditolak.
Misalnya:
“Pasti mereka hanya mau orang yang punya koneksi.”
“Pasti mereka tidak suka fresh graduate.”
“Pasti kandidat yang diterima punya orang dalam.”
Bisa saja ada situasi tertentu seperti itu, tetapi jangan menjadikannya kesimpulan tanpa bukti.
Jika setiap penolakan selalu dianggap kesalahan perusahaan, kita kehilangan kesempatan untuk mengetahui apakah memang ada bagian dari diri sendiri yang perlu diperbaiki.
Sikap yang lebih sehat adalah:
Terima hal yang tidak bisa dikendalikan dan evaluasi hal yang masih bisa dikendalikan.
Kapan Harus Terus Mencoba?
Terus mencoba masuk akal ketika:
- posisi yang dituju masih sesuai dengan kualifikasi;
- Anda masih mendapatkan panggilan dari beberapa lamaran;
- ada perkembangan dalam kemampuan;
- strategi lamaran menunjukkan hasil yang lebih baik;
- Anda masih menemukan lowongan yang relevan;
- dan belum ada alasan kuat untuk mengubah arah.
Dalam kondisi seperti ini, penolakan bukan berarti harus berhenti.
Mungkin Anda hanya membutuhkan lebih banyak kesempatan.
Kapan Harus Mulai Mengubah Strategi?
Perubahan strategi mulai layak dipertimbangkan jika pola yang sama terjadi terus-menerus.
Misalnya:
- hampir tidak pernah mendapatkan panggilan;
- selalu gagal pada tahap yang sama;
- banyak lowongan tidak sesuai dengan kualifikasi;
- target posisi terlalu sempit;
- kemampuan yang dibutuhkan belum dikuasai;
- atau Anda hanya mengandalkan satu cara untuk mencari pekerjaan.
Perubahan strategi tidak selalu berarti harus mengganti bidang.
Kadang cukup dengan memperluas jenis posisi yang masih sesuai, memperbaiki kemampuan tertentu, atau mencari pengalaman tambahan.
Jangan Terlalu Terpaku pada Satu Rumah Sakit
Memiliki rumah sakit impian tentu tidak salah.
Namun, jangan sampai keinginan tersebut membuat proses pencarian kerja berhenti ketika satu rumah sakit tidak menerima Anda.
Rumah sakit yang Anda inginkan mungkin memiliki jumlah pelamar yang sangat banyak.
Atau mungkin memang belum membutuhkan kandidat dengan profil seperti Anda.
Hal tersebut tidak berarti kesempatan Anda sudah berakhir.
Coba lihat rumah sakit lain, fasilitas kesehatan lain, atau posisi lain yang masih relevan dengan latar belakang dan tujuan karier Anda.
Dengan memperluas pilihan, Anda memberikan diri sendiri lebih banyak kesempatan untuk mendapatkan pengalaman pertama.
Kapan Harus Mengambil Pengalaman Terlebih Dahulu?
Ada kondisi ketika pengalaman tambahan memang dapat membantu.
Misalnya, Anda sudah mencoba berbagai lowongan tetapi selalu kalah pada kandidat yang memiliki pengalaman.
Daripada hanya mengirim lamaran yang sama berulang kali, pertimbangkan apakah ada cara realistis untuk mendapatkan pengalaman yang relevan.
Bisa melalui:
- internship;
- praktik tambahan jika tersedia;
- kegiatan sosial;
- organisasi profesional;
- proyek yang relevan;
- pelatihan;
- atau pengalaman lain yang sesuai dengan bidang yang dituju.
Tujuannya bukan sekadar menambah sesuatu di profil.
Yang lebih penting adalah mendapatkan kemampuan dan pemahaman tentang lingkungan kerja yang nantinya bisa digunakan ketika melamar kembali.
Kalau Belum Dapat Kerja, Jangan Berhenti Mengembangkan Diri
Mencari kerja dan mengembangkan diri tidak harus menjadi dua aktivitas yang terpisah.
Keduanya dapat dilakukan bersamaan.
Ketika belum mendapatkan pekerjaan:
Tetap melamar.
Sambil:
Tetap belajar.
Jika ada kelemahan dalam komunikasi, latih komunikasi.
Jika kemampuan teknis belum cukup, tingkatkan kemampuan tersebut.
Jika belum memiliki pengalaman, cari kegiatan yang dapat memberikan pengalaman.
Dengan begitu, setiap kali mengirim lamaran berikutnya, Anda tidak berada di posisi yang sama persis seperti sebelumnya.
Ada sesuatu yang bertambah.
Jangan Membandingkan Kecepatan Karier dengan Orang Lain
Salah satu hal yang membuat penolakan terasa semakin berat adalah melihat orang lain sudah mendapatkan pekerjaan lebih dahulu.
Teman sudah bekerja.
Teman sudah mendapatkan posisi di rumah sakit.
Teman sudah memiliki pengalaman.
Sementara Anda masih mengirim lamaran.
Perasaan tertinggal sangat mudah muncul.
Tetapi kecepatan seseorang mendapatkan pekerjaan bukan ukuran nilai dirinya.
Ada orang yang cepat mendapatkan pekerjaan pertama tetapi kemudian pindah bidang.
Ada yang membutuhkan waktu lebih lama tetapi akhirnya menemukan pekerjaan yang sesuai.
Ada pula yang harus mencoba beberapa jalur sebelum menemukan arah kariernya.
Karier bukan perlombaan yang memiliki satu garis start dan satu waktu finish untuk semua orang.
Jangan Menganggap Kandidat yang Diterima Selalu Lebih Baik
Ketika ditolak, kita sering melihat kandidat yang diterima sebagai orang yang “lebih hebat”.
Padahal, proses rekrutmen tidak sesederhana itu.
Perusahaan bisa saja membutuhkan pengalaman tertentu.
Bisa saja ada kebutuhan tim tertentu.
Bisa saja waktu kandidat tersebut lebih sesuai.
Bisa saja ada pertimbangan lain yang tidak diketahui pelamar.
Karena itu, jangan membuat kesimpulan bahwa:
“Dia diterima berarti dia lebih baik daripada saya.”
Yang lebih tepat:
“Dia dipilih untuk posisi tersebut pada saat itu, sedangkan saya belum.”
Perbedaan kalimatnya kecil, tetapi cara berpikirnya jauh lebih sehat.
Jika Anda sedang mengalami situasi seperti ini, pembahasan tentang fresh graduate kalah dari kandidat berpengalaman juga bisa membantu melihat penolakan dari sudut pandang yang berbeda.
Buat Batas Evaluasi agar Tidak Terjebak dalam Penolakan
Salah satu cara agar proses mencari kerja tidak terasa seperti lingkaran tanpa akhir adalah membuat evaluasi secara berkala.
Misalnya, setelah mengirim sejumlah lamaran, berhenti sejenak dan lihat:
- Berapa banyak yang mendapatkan respons?
- Berapa yang masuk ke tahap interview?
- Di tahap mana paling sering gagal?
- Posisi seperti apa yang paling sering memberikan respons?
- Apa yang berubah setelah strategi diperbaiki?
Data sederhana tersebut dapat membantu melihat proses dengan lebih objektif.
Daripada hanya mengatakan:
“Saya sudah banyak ditolak.”
Anda bisa melihat:
“Dari sejumlah lamaran, ternyata sebagian besar berhenti sebelum interview.”
Atau:
“Saya sudah beberapa kali mendapatkan interview, tetapi belum berhasil di tahap akhir.”
Dua situasi tersebut membutuhkan strategi yang berbeda.
Kalau Sudah Berusaha, Tetapi Belum Berhasil, Bolehkah Istirahat?
Tentu.
Mencari pekerjaan tidak harus dilakukan tanpa jeda.
Jika penolakan mulai membuat Anda kelelahan, mengambil waktu untuk beristirahat bukan berarti menyerah.
Istirahat dapat membantu mengembalikan energi dan membuat proses evaluasi lebih objektif.
Yang perlu dibedakan adalah:
Istirahat untuk memulihkan diri
dengan
berhenti karena merasa tidak akan pernah berhasil.
Yang pertama bisa membantu Anda kembali melanjutkan perjalanan.
Yang kedua justru bisa membuat satu fase sulit terasa seperti keputusan akhir.
Belum Berhasil Bukan Berarti Harus Berhenti
Pada akhirnya, mencari pekerjaan membutuhkan kombinasi antara ketekunan dan kemampuan mengevaluasi diri.
Terlalu cepat menyerah membuat kita kehilangan kesempatan.
Namun, terus melakukan hal yang sama tanpa evaluasi juga tidak selalu menghasilkan perubahan.
Karena itu, gunakan prinsip sederhana:
Jika masih relevan, terus coba.
Jika ada pola kegagalan, evaluasi.
Jika ada kekurangan, perbaiki.
Jika strategi tidak bekerja, ubah.
Jika lelah, istirahat.
Setelah itu, lanjutkan lagi.
Kesimpulan
Ditolak kerja satu atau beberapa kali bukan alasan untuk langsung menyimpulkan bahwa diri sendiri tidak mampu.
Namun, jika penolakan sudah menjadi pola, jangan hanya berharap keadaan berubah dengan sendirinya.
Lihat proses secara objektif.
Cari tahu di tahap mana Anda paling sering gagal, kemudian perbaiki bagian yang memang masih berada dalam kendali.
Jangan terlalu keras kepada diri sendiri, tetapi jangan pula menutup mata terhadap kekurangan.
Menerima penolakan bukan berarti pasrah. Mengevaluasi diri bukan berarti menyalahkan diri sendiri. Dan terus mencoba bukan berarti harus melakukan hal yang sama berulang-ulang.
Bagi fresh graduate, perjalanan mendapatkan pekerjaan pertama memang bisa membutuhkan waktu.
Yang terpenting adalah memastikan bahwa setiap penolakan memberikan sesuatu untuk dipelajari, sehingga ketika kesempatan berikutnya datang, Anda sudah menjadi kandidat yang lebih siap dibanding sebelumnya.