Sudah melamar ke beberapa rumah sakit, tetapi belum juga mendapatkan pekerjaan?
Setelah beberapa kali ditolak, wajar jika muncul pertanyaan:
“Apa saya memang kurang pintar?”
Atau ketika melihat kandidat lain yang diterima, muncul pikiran:
“Dia punya pengalaman, sedangkan saya tidak. Berarti saya memang kalah.”
Belum tentu.
Bisa saja seorang fresh graduate sebenarnya memiliki kemampuan yang cukup baik, tetapi belum mampu menunjukkan kepada recruiter apa yang bisa diberikan jika dirinya diterima bekerja.
Ini adalah persoalan yang berbeda dengan tidak memiliki kemampuan.
Seseorang bisa memiliki pengetahuan, pengalaman praktik, kemampuan komunikasi, kemampuan bekerja dalam tim, atau kemauan belajar yang baik. Namun, jika semua itu tidak dapat dijelaskan dan ditunjukkan dengan jelas, recruiter mungkin kesulitan melihat nilai yang dimiliki kandidat tersebut.
Dalam proses mencari kerja, kemampuan bukan hanya perlu dimiliki. Kemampuan juga perlu bisa ditunjukkan.
Fresh Graduate Tidak Harus Menjadi Kandidat yang Paling Berpengalaman
Ketika melihat kandidat lain memiliki pengalaman kerja, fresh graduate sering merasa harus mengejar sesuatu yang belum mereka miliki.
Padahal, hal tersebut tidak selalu perlu dilakukan.
Jika seseorang sudah bekerja selama beberapa tahun, tentu ia memiliki pengalaman yang tidak mungkin langsung dimiliki oleh orang yang baru lulus.
Fresh graduate tidak perlu berpura-pura memiliki pengalaman yang sama.
Yang perlu dilakukan adalah menunjukkan nilai lain yang memang dimiliki.
Misalnya:
- memiliki dasar pendidikan yang sesuai;
- memahami teori yang baru dipelajari;
- memiliki pengalaman praktik;
- terbiasa bekerja dalam tim;
- memiliki kemampuan komunikasi;
- mampu belajar hal baru;
- memiliki kedisiplinan;
- mampu mengikuti arahan dan prosedur;
- memiliki motivasi untuk berkembang.
Kemampuan seperti komunikasi, organisasi, pemecahan masalah, perhatian terhadap detail, dan kemampuan beradaptasi termasuk transferable skills yang dapat diterapkan dalam berbagai pekerjaan.
Jadi, pertanyaannya bukan:
“Bagaimana saya bisa terlihat lebih berpengalaman daripada kandidat lain?”
Melainkan:
“Apa yang saya punya dan relevan dengan kebutuhan posisi ini?”
Punya Kemampuan Saja Belum Cukup
Ini bagian yang sering membuat fresh graduate salah memahami proses mencari kerja.
Ada perbedaan antara:
“Saya punya kemampuan komunikasi.”
dengan:
“Saya punya pengalaman yang menunjukkan bahwa saya mampu berkomunikasi dengan baik.”
Pernyataan pertama adalah klaim.
Pernyataan kedua memberikan konteks.
Misalnya, seorang fresh graduate pernah menjadi koordinator kegiatan kampus. Dari pengalaman tersebut, ia terbiasa berkomunikasi dengan anggota tim, mengatur pembagian tugas, dan menyelesaikan kendala ketika kegiatan berlangsung.
Pengalaman tersebut dapat menjadi bukti bahwa kemampuan komunikasi dan koordinasinya bukan sekadar sesuatu yang tertulis di daftar skill.
Karena itu, fresh graduate perlu belajar melihat pengalaman sehari-hari secara lebih kritis.
Bukan hanya:
“Saya pernah ikut organisasi.”
Tetapi:
“Dalam organisasi tersebut, saya bertanggung jawab melakukan apa dan kemampuan apa yang berkembang?”
Bukan:
“Saya pernah praktik.”
Tetapi:
“Selama praktik, situasi apa yang pernah saya hadapi dan apa yang saya pelajari?”
Dengan cara berpikir tersebut, seseorang mulai memahami nilai dirinya sendiri.
Apa yang Dimaksud dengan Nilai Diri Saat Melamar Kerja?
Nilai diri dalam konteks mencari pekerjaan bukan berarti mengatakan bahwa diri kita lebih hebat daripada orang lain.
Nilai diri lebih sederhana.
Apa yang bisa kita kontribusikan kepada tempat kerja?
Untuk fresh graduate, kontribusi tersebut mungkin belum berupa pengalaman bertahun-tahun.
Bisa berupa kemampuan belajar yang cepat, dasar pengetahuan yang relevan, sikap profesional, kemampuan bekerja sama, atau kompetensi tertentu yang dibutuhkan posisi.
Misalnya, dua orang sama-sama lulusan baru.
Kandidat pertama mengatakan:
“Saya fresh graduate dan siap belajar.”
Kandidat kedua mengatakan:
“Saya memang fresh graduate, tetapi selama pendidikan saya mendapatkan pengalaman praktik dan terbiasa bekerja dalam tim. Saya juga tertarik mengembangkan kemampuan di lingkungan pelayanan kesehatan dan siap mempelajari prosedur yang berlaku.”
Keduanya sama-sama belum memiliki pengalaman kerja formal.
Tetapi kandidat kedua sudah memberikan gambaran yang lebih jelas mengenai apa yang dibawa ke tempat kerja.
Jangan Hanya Mengatakan “Saya Mau Belajar”
Kalimat “siap belajar” memang terdengar positif.
Namun, jika terlalu sering digunakan tanpa bukti pendukung, kalimat tersebut menjadi sangat umum.
Hampir semua fresh graduate bisa mengatakan:
“Saya pekerja keras.”
“Saya mau belajar.”
“Saya bisa bekerja dalam tim.”
“Saya bertanggung jawab.”
Yang menjadi pembeda adalah bukti dan konteksnya.
Jika mengatakan mampu bekerja dalam tim, pengalaman apa yang menunjukkan hal tersebut?
Jika mengatakan mampu mengatur waktu, kapan kemampuan itu pernah digunakan?
Jika mengatakan siap menghadapi tekanan, apakah pernah berada dalam situasi yang membutuhkan ketenangan dan penyelesaian masalah?
Semakin spesifik contoh yang diberikan, semakin mudah orang lain memahami kemampuan tersebut.
Cari Tahu Apa yang Dibutuhkan Posisi yang Dilamar
Nilai diri tidak bisa dipisahkan dari posisi yang dituju.
Kemampuan yang sangat berguna untuk satu posisi belum tentu menjadi prioritas untuk posisi lainnya.
Karena itu, sebelum melamar, fresh graduate perlu memahami pekerjaan yang dituju.
Perhatikan:
- tanggung jawab posisi;
- kualifikasi pendidikan;
- kemampuan yang diminta;
- karakter pekerjaan;
- lingkungan kerja;
- serta persyaratan lain yang tercantum dalam lowongan.
Setelah itu, bandingkan dengan kemampuan yang sudah dimiliki.
Misalnya, sebuah posisi membutuhkan kandidat yang mampu berkomunikasi dengan baik dan bekerja dalam tim.
Jika Anda pernah terlibat dalam organisasi atau kegiatan yang membutuhkan koordinasi banyak orang, pengalaman tersebut bisa menjadi relevan.
Jika sebuah posisi membutuhkan ketelitian dalam pekerjaan administratif, pengalaman mengelola dokumen atau data selama pendidikan mungkin bisa menjadi contoh yang mendukung.
Intinya adalah mencari hubungan antara apa yang sudah pernah dilakukan dengan apa yang dibutuhkan oleh posisi.
Jangan Menganggap Semua Kelebihan Harus Berupa Skill Teknis
Fresh graduate terkadang terlalu fokus pada kemampuan teknis.
Padahal, kemampuan nonteknis juga dapat menjadi bagian dari nilai diri.
Contohnya:
Komunikasi
Mampu menyampaikan informasi dengan jelas dan berinteraksi secara profesional.
Kerja sama
Mampu bekerja bersama orang lain dan memahami pembagian tanggung jawab.
Adaptasi
Mampu menyesuaikan diri ketika menghadapi lingkungan atau tugas baru.
Manajemen waktu
Mampu mengatur beberapa tanggung jawab agar dapat diselesaikan sesuai prioritas.
Problem solving
Mampu mencari solusi ketika menghadapi kendala.
Attention to detail
Mampu memperhatikan hal-hal kecil yang dapat memengaruhi hasil pekerjaan.
Kemampuan tersebut sering kali dapat diperoleh melalui pendidikan, organisasi, praktik, volunteering, proyek, maupun pengalaman sehari-hari.
Yang penting adalah tidak sekadar menyebutkan skill, tetapi memahami bukti yang mendukungnya.
Bagaimana Menemukan Kelebihan Diri Kalau Merasa Tidak Punya Apa-Apa?
Ini masalah yang cukup umum.
Fresh graduate terkadang merasa:
“Saya tidak punya pengalaman.”
“Saya tidak punya prestasi.”
“Saya tidak punya skill khusus.”
Jika mengalami hal tersebut, coba jangan langsung melihat diri sendiri dari sudut pandang pekerjaan.
Mulailah dengan mengingat apa yang pernah dilakukan selama beberapa tahun terakhir.
Tanyakan kepada diri sendiri:
- Kegiatan apa yang paling sering saya lakukan?
- Tugas apa yang biasanya dipercayakan kepada saya?
- Pernahkah saya menjadi orang yang mengatur sesuatu?
- Pernahkah saya menyelesaikan masalah dalam kelompok?
- Pernahkah saya membantu orang lain?
- Apa yang biasanya dikatakan teman atau dosen sebagai kelebihan saya?
- Dalam tugas kuliah, bagian apa yang biasanya saya kuasai?
- Ketika menghadapi masalah, apa yang biasanya saya lakukan?
Jawaban dari pertanyaan tersebut bisa membantu menemukan kemampuan yang selama ini dianggap biasa saja.
Kadang-kadang kita tidak menyadari bahwa sesuatu yang terasa sederhana bagi diri sendiri justru merupakan kemampuan yang berguna bagi pekerjaan.
Jangan Menjual Diri Secara Berlebihan
Menunjukkan nilai diri bukan berarti membesar-besarkan kemampuan.
Ini penting.
Fresh graduate mungkin merasa harus terlihat sempurna agar bisa bersaing dengan kandidat lain.
Akibatnya, semua kemampuan ditulis atau diklaim sebagai kelebihan.
Padahal, lebih baik memiliki beberapa kemampuan yang benar-benar bisa dijelaskan daripada daftar panjang skill yang sulit dibuktikan.
Misalnya, jangan mengatakan:
“Saya sangat ahli dalam semua hal.”
Lebih baik mengatakan:
“Saya memiliki pengalaman mengelola kegiatan organisasi dan terbiasa berkoordinasi dengan anggota tim.”
Pernyataan kedua lebih realistis dan memiliki dasar pengalaman.
Percaya diri tidak sama dengan melebih-lebihkan kemampuan.
Percaya diri berarti mengetahui apa yang memang kita kuasai dan mampu menjelaskannya dengan jujur.
Kalau Belum Memenuhi Semua Persyaratan, Apakah Tetap Boleh Melamar?
Tidak semua lowongan harus dipandang secara hitam-putih.
Ada posisi yang memiliki persyaratan wajib, terutama yang berkaitan dengan pendidikan, izin praktik, sertifikasi, atau kompetensi tertentu.
Untuk persyaratan seperti itu, tentu harus diperhatikan dengan serius.
Namun, untuk beberapa kualifikasi pengalaman atau kemampuan yang tidak sepenuhnya terpenuhi, kandidat dapat melihat apakah dirinya memiliki kemampuan lain yang relevan.
Beberapa panduan karier juga menyarankan pencari kerja dengan pengalaman lebih sedikit untuk menekankan transferable skills dan pengalaman relevan seperti internship atau volunteering ketika melamar posisi yang diinginkan.
Jadi, jangan otomatis mencoret diri sendiri hanya karena belum memenuhi seluruh bagian yang bersifat preferensi.
Tetapi tetap realistis dan jangan mengabaikan persyaratan wajib.
Nilai Diri Harus Terlihat dari Keseluruhan Profil
Menunjukkan nilai diri bukan hanya tugas saat interview.
Nilai tersebut idealnya terlihat konsisten dari seluruh proses.
Mulai dari posisi yang dipilih, pengalaman yang ditonjolkan, cara berkomunikasi, hingga kemampuan menjelaskan alasan menginginkan pekerjaan tersebut.
Karena itu, jangan sampai seseorang mengaku tertarik dengan posisi tertentu tetapi tidak mengetahui apa saja tanggung jawabnya.
Atau mengatakan memiliki kemampuan tertentu tetapi tidak mampu memberikan contoh ketika ditanya.
Semakin konsisten antara apa yang diklaim dan bukti yang diberikan, semakin mudah recruiter memahami profil kandidat.
Fresh Graduate Tidak Harus Menjadi yang Paling Hebat
Ada satu pola pikir yang sebaiknya dihindari ketika mencari pekerjaan:
“Saya harus lebih hebat daripada semua kandidat lain.”
Pola pikir tersebut bisa membuat proses mencari kerja terasa seperti perlombaan tanpa akhir.
Padahal, tujuan utama rekrutmen bukan selalu mencari orang yang paling hebat secara keseluruhan.
Perusahaan mencari kandidat yang sesuai dengan kebutuhan posisi.
Artinya, Anda tidak harus mengalahkan semua orang dalam semua aspek.
Anda hanya perlu mampu menunjukkan:
“Inilah kemampuan saya, inilah pengalaman yang pernah saya jalani, dan inilah alasan kemampuan tersebut relevan dengan posisi yang saya lamar.”
Itu jauh lebih realistis.
Jangan Menganggap Diri Kalah Hanya Karena Kandidat Lain Lebih Berpengalaman
Jika Anda pernah merasa kalah sebelum mencoba karena melihat kandidat lain sudah memiliki pengalaman kerja, coba ubah cara pandangnya.
Kandidat tersebut memang memiliki keunggulan berupa pengalaman.
Tetapi Anda mungkin memiliki keunggulan lain.
Mungkin Anda memiliki pengalaman praktik yang relevan.
Mungkin Anda memiliki kemampuan komunikasi yang baik.
Mungkin Anda lebih terbiasa dengan teknologi tertentu.
Mungkin Anda memiliki pengalaman organisasi yang menunjukkan kemampuan koordinasi.
Mungkin Anda memiliki kemauan belajar dan kemampuan beradaptasi yang kuat.
Tidak semua nilai tersebut bisa diukur hanya dari jumlah tahun pengalaman kerja.
Karena itu, jangan membuat diri sendiri kalah sebelum proses seleksi dimulai.
Jika Anda ingin memahami lebih jauh bagaimana menghadapi situasi ketika fresh graduate bersaing dengan kandidat yang sudah berpengalaman, Anda juga bisa membaca artikel fresh graduate kalah dari kandidat berpengalaman.
Setelah Mengetahui Nilai Diri, Jangan Berhenti di Situ
Mengetahui kelebihan diri hanyalah langkah awal.
Setelah itu, kemampuan tersebut tetap perlu dikembangkan.
Jika merasa kemampuan komunikasi masih kurang, latih.
Jika kemampuan teknis belum cukup, belajar.
Jika pengalaman masih terbatas, cari kesempatan untuk mendapatkannya.
Jika belum mampu menjelaskan pengalaman dengan baik, berlatih menceritakannya.
Jadi, nilai diri bukan sesuatu yang harus dianggap sudah sempurna sejak lulus.
Nilai diri dapat berkembang seiring bertambahnya pengalaman dan kemampuan.
Kesimpulan
Fresh graduate yang sering ditolak kerja tidak selalu berarti kurang pintar atau tidak memiliki kemampuan.
Bisa jadi masalahnya adalah belum mampu mengenali dan menunjukkan nilai yang dimiliki.
Pengalaman kerja memang penting, tetapi bukan satu-satunya hal yang dapat menjadi modal. Pendidikan, praktik, organisasi, proyek, kegiatan sosial, kemampuan komunikasi, kerja sama, adaptasi, dan berbagai transferable skills juga dapat menjadi bagian dari profil seorang fresh graduate.
Karena itu, jangan terlalu sibuk membandingkan diri dengan kandidat yang sudah berpengalaman.
Lebih baik tanyakan:
“Apa yang saya punya?”
“Apa bukti bahwa saya mampu?”
“Mengapa kemampuan saya relevan dengan posisi yang saya inginkan?”
Ketika tiga pertanyaan tersebut bisa dijawab dengan jujur dan jelas, Anda tidak lagi hanya datang sebagai fresh graduate yang “belum punya pengalaman”.
Anda datang sebagai kandidat yang punya potensi, punya dasar kemampuan, dan tahu apa yang bisa ditawarkan kepada tempat kerja.