Lulus kuliah dan mendapatkan pekerjaan pertama memang bisa terasa seperti pencapaian besar.
Tapi setelah masuk kantor, ternyata ada hal lain yang harus dihadapi.
Deadline mulai berdatangan. Atasan memberikan tugas. Ada pekerjaan yang harus diselesaikan bersamaan. Rekan kerja terlihat sibuk. Kamu masih belajar menggunakan berbagai tools. Bahkan setelah pulang kerja, pikiran tentang pekerjaan terkadang masih terbawa sampai rumah.
Kemudian muncul pertanyaan:
“Aku kuat nggak ya menghadapi dunia kerja seperti ini?”
Kalau kamu baru lulus dan sedang mengalami hal tersebut, jangan buru-buru menganggap dirimu tidak kuat bekerja.
Beradaptasi dengan dunia kerja memang membutuhkan waktu.
Apalagi jika ini merupakan pengalaman kerja pertamamu. Kamu bukan hanya sedang belajar mengerjakan tugas, tetapi juga belajar mengatur waktu, berkomunikasi, memahami ekspektasi, dan menghadapi tanggung jawab yang sebelumnya mungkin belum pernah kamu miliki.
Kalau kamu masih merasa takut atau belum siap menghadapi pekerjaan pertama, kamu juga bisa membaca panduan tentang fresh graduate takut masuk dunia kerja untuk memahami mengapa kamu tidak harus langsung bisa menghadapi semuanya sejak hari pertama.
Kenapa Dunia Kerja Terasa Lebih Menekan bagi Fresh Graduate?
Salah satu penyebabnya adalah perubahan tanggung jawab.
Saat kuliah, tekanan biasanya berkaitan dengan tugas, ujian, presentasi, organisasi, atau skripsi.
Ketika mulai bekerja, konsekuensinya terasa berbeda.
Ada pekerjaan yang berhubungan dengan pekerjaan orang lain. Ada target yang harus dicapai. Ada klien atau pelanggan yang menunggu. Ada deadline yang tidak bisa begitu saja digeser.
Perubahan tersebut membutuhkan penyesuaian.
Selain itu, fresh graduate juga mungkin menghadapi tekanan dari dalam diri sendiri.
Misalnya:
“Aku harus membuktikan kalau aku pantas diterima.”
“Aku nggak boleh mengecewakan atasan.”
“Aku harus bisa secepat senior.”
“Aku harus kelihatan produktif.”
Masalahnya, ekspektasi seperti ini bisa membuat pekerjaan terasa jauh lebih berat daripada yang sebenarnya.
Bedakan Tekanan Kerja dengan Tuntutan untuk Selalu Sempurna
Tidak semua tekanan berarti sesuatu yang buruk.
Deadline bisa membuat kita belajar mengatur waktu.
Tugas baru bisa membuat kita belajar skill baru.
Feedback dari atasan bisa membantu kita memperbaiki cara kerja.
Tantangan baru bisa membuat kemampuan kita berkembang.
Yang perlu diperhatikan adalah ketika kamu mulai memberikan tuntutan yang tidak realistis kepada diri sendiri.
Misalnya:
“Aku baru kerja dua minggu, tapi aku harus sudah secepat senior.”
Padahal senior tersebut mungkin sudah mengerjakan pekerjaan yang sama selama bertahun-tahun.
Membandingkan prosesmu dengan hasil orang lain hanya akan membuat adaptasi terasa semakin berat.
Coba ubah pertanyaannya.
Bukan:
“Kenapa aku belum sehebat mereka?”
Tetapi:
“Apa yang sekarang sudah bisa kulakukan yang sebelumnya belum bisa?”
Perubahan kecil tetap merupakan perkembangan.
Jangan Mengerjakan Semua Hal Sekaligus
Salah satu sumber tekanan bagi fresh graduate adalah ketika banyak tugas datang bersamaan.
Kamu melihat lima pekerjaan di depan mata dan merasa semuanya harus diselesaikan sekarang.
Akibatnya, kamu berpindah dari satu pekerjaan ke pekerjaan lain tanpa benar-benar menyelesaikannya.
Cobalah menentukan prioritas.
Buat daftar sederhana:
Penting dan mendesak → kerjakan terlebih dahulu.
Penting tetapi belum mendesak → jadwalkan.
Tidak terlalu penting tetapi mendesak → lihat apakah bisa didelegasikan atau dikonfirmasi prioritasnya.
Tidak penting dan tidak mendesak → jangan menjadi fokus utama.
Kamu juga bisa langsung bertanya kepada atasan ketika prioritas tidak jelas.
Contohnya:
“Saat ini saya sedang mengerjakan laporan A yang deadline-nya sore ini, sementara ada tugas B yang baru masuk. Untuk prioritasnya, sebaiknya saya selesaikan A terlebih dahulu atau pindah ke B?”
Bertanya mengenai prioritas bukan berarti kamu tidak mampu mengatur pekerjaan.
Justru kamu sedang memastikan bahwa energi digunakan untuk pekerjaan yang paling penting.
Belajar Mengelola Deadline, Bukan Takut pada Deadline
Deadline sering menjadi sumber kecemasan bagi orang yang baru bekerja.
Apalagi jika belum terbiasa memperkirakan berapa lama sebuah pekerjaan membutuhkan waktu.
Di awal, kamu mungkin sering salah memperkirakan.
Pekerjaan yang kamu kira selesai satu jam ternyata membutuhkan tiga jam.
Itu bisa terjadi.
Seiring pengalaman, kemampuan memperkirakan waktu akan berkembang.
Untuk membantu, coba pecah pekerjaan besar menjadi beberapa bagian.
Misalnya:
Laporan bulanan
→ kumpulkan data
→ bersihkan data
→ analisis
→ buat laporan
→ cek ulang
→ minta review
→ finalisasi
Dengan memecah pekerjaan, tugas yang awalnya terlihat besar menjadi lebih mudah dikelola.
Jangan Diam Ketika Beban Kerja Sudah Tidak Masuk Akal
Ada perbedaan antara:
“Saya sedang belajar menghadapi tekanan.”
dan
“Saya mendapatkan beban yang tidak mungkin diselesaikan dalam waktu yang tersedia.”
Kalau pekerjaan terlalu banyak, jangan langsung memaksakan diri sampai semuanya berantakan.
Komunikasikan kondisinya.
Misalnya:
“Saat ini saya sedang menyelesaikan A dan B. Keduanya memiliki deadline hari ini, sementara tugas C juga perlu dikerjakan. Untuk memastikan hasilnya tetap baik, mana yang sebaiknya saya prioritaskan terlebih dahulu?”
Kalimat tersebut lebih baik daripada hanya berkata:
“Kerjaan saya banyak banget.”
Dengan memberikan informasi yang jelas, atasan memiliki gambaran mengenai kondisi pekerjaanmu dan dapat membantu menentukan prioritas.
Jangan Membawa Semua Beban Pekerjaan Sendirian
Fresh graduate terkadang merasa harus menyelesaikan semuanya sendiri agar terlihat mampu.
Akibatnya, ketika menghadapi masalah, mereka memilih diam.
Padahal bekerja bukan berarti melakukan semuanya sendirian.
Kamu berada di dalam tim.
Ada senior.
Ada rekan kerja.
Ada atasan.
Ada orang lain yang mungkin sudah pernah menghadapi masalah serupa.
Meminta bantuan ketika memang diperlukan bukan berarti kamu lemah.
Yang penting adalah kamu tetap menunjukkan usaha.
Misalnya:
“Aku sudah coba menyelesaikan bagian ini, tapi masih mengalami kendala. Boleh minta arahan untuk bagian yang ini?”
Kamu tidak menyerahkan seluruh pekerjaan kepada orang lain.
Kamu meminta bantuan pada bagian yang memang belum kamu kuasai.
Buat Batas antara Waktu Kerja dan Waktu Istirahat
Adaptasi terhadap pekerjaan bukan hanya tentang bagaimana kamu bekerja selama berada di kantor.
Kamu juga perlu belajar beristirahat.
Kalau setiap pulang kerja kamu terus memikirkan pekerjaan, membaca ulang chat kantor, atau merasa bersalah karena tidak membuka laptop, tubuh dan pikiran bisa semakin sulit mendapatkan waktu pemulihan.
Jika pekerjaan dan aturan perusahaan memungkinkan, buat batas yang sehat antara waktu kerja dan waktu pribadi.
Misalnya:
- selesaikan pekerjaan yang memang harus diselesaikan hari itu;
- catat pekerjaan yang harus dilanjutkan besok;
- setelah jam kerja selesai, beri kesempatan diri untuk beristirahat;
- gunakan waktu di luar kerja untuk melakukan aktivitas lain;
- jangan menjadikan pekerjaan sebagai satu-satunya hal dalam hidup.
Bukan berarti semua pekerjaan harus berhenti tepat pada jam tertentu dalam setiap situasi.
Ada kondisi tertentu yang memang membutuhkan lembur atau respons di luar jam kerja.
Namun, jika setiap hari kamu merasa tidak pernah benar-benar selesai bekerja, mungkin sudah waktunya mengevaluasi cara kerja dan batas yang kamu miliki.
Jangan Menilai Kemampuanmu dari Satu Hari yang Buruk
Ada hari ketika semuanya berjalan lancar.
Ada juga hari ketika hampir semua hal terasa salah.
Kamu terlambat menyelesaikan tugas.
Ada revisi.
Atasan meminta perubahan.
Laptop bermasalah.
Kamu lupa sesuatu.
Lalu pulang dengan pikiran:
“Hari ini kacau banget. Kayaknya aku nggak cocok kerja.”
Tunggu dulu.
Satu hari yang buruk bukan gambaran keseluruhan kemampuanmu.
Evaluasi apa yang terjadi, tetapi jangan langsung membuat kesimpulan besar tentang dirimu.
Tanyakan:
- Apa yang membuat hari ini sulit?
- Apa yang sebenarnya berada di luar kendaliku?
- Apa yang bisa diperbaiki besok?
- Apa yang sudah berhasil kulakukan?
Dengan begitu, kamu mengambil pelajaran tanpa harus menyalahkan diri sendiri.
Bangun Kemampuan Secara Bertahap
Kamu tidak perlu meningkatkan semua kemampuan sekaligus.
Pilih satu atau dua hal yang paling penting untuk pekerjaanmu.
Misalnya bulan ini fokus pada:
Excel dan pengolahan data.
Bulan berikutnya:
komunikasi dengan klien.
Setelah itu:
presentasi dan public speaking.
Perkembangan yang konsisten lebih realistis daripada mencoba menguasai semuanya dalam waktu singkat.
Kamu juga bisa memanfaatkan pekerjaan sehari-hari sebagai tempat belajar.
Jika mendapat tugas yang belum pernah dilakukan, jangan hanya melihatnya sebagai beban.
Tanyakan:
“Skill apa yang bisa saya pelajari dari pekerjaan ini?”
Dengan pola pikir tersebut, pekerjaan menjadi bagian dari proses perkembanganmu.
Buat Rutinitas Kerja yang Membantu Mengurangi Tekanan
Rutinitas sederhana bisa membuat pekerjaan terasa lebih teratur.
Sebelum mulai bekerja, cek:
Apa yang harus selesai hari ini?
Kemudian tentukan:
Mana yang paling penting?
Saat mulai bekerja:
Kerjakan satu prioritas terlebih dahulu.
Di tengah hari:
Cek progress dan sesuaikan prioritas jika ada perubahan.
Sebelum selesai bekerja:
Catat apa yang sudah selesai dan apa yang harus dilanjutkan besok.
Kebiasaan tersebut membantu mengurangi perasaan:
“Aku masih punya banyak banget pekerjaan.”
Karena kamu sudah memiliki gambaran yang lebih jelas mengenai apa yang harus dilakukan.
Jangan Membandingkan Tekananmu dengan Orang Lain
Mungkin kamu melihat teman yang baru lulus dan sudah terlihat santai bekerja.
Sementara kamu setiap hari merasa gugup.
Jangan langsung menyimpulkan bahwa mereka lebih kuat darimu.
Kamu tidak tahu seluruh kondisi yang mereka alami.
Begitu juga ketika melihat senior yang terlihat sangat tenang menghadapi masalah.
Kamu mungkin hanya melihat hasil akhirnya.
Kamu tidak melihat proses bertahun-tahun yang membuat mereka terbiasa.
Setiap orang memiliki titik awal yang berbeda.
Fokus pada prosesmu sendiri.
Kapan Rasa Tertekan Perlu Mendapat Perhatian Lebih Serius?
Merasa lelah setelah bekerja adalah hal yang bisa terjadi.
Merasa gugup ketika mendapatkan tugas baru juga bisa terjadi.
Tetapi jika tekanan yang kamu rasakan berlangsung terus-menerus dan mulai mengganggu kehidupan sehari-hari, jangan menganggapnya sebagai sesuatu yang harus selalu ditahan.
Perhatikan jika kamu mengalami perubahan yang membuat aktivitas sehari-hari terganggu, seperti kesulitan tidur yang berkepanjangan, kehilangan minat terhadap aktivitas yang biasanya kamu nikmati, atau merasa tidak mampu menjalankan fungsi sehari-hari.
Dalam kondisi seperti itu, pertimbangkan untuk berbicara dengan orang yang kamu percaya atau mencari bantuan dari profesional yang sesuai.
Meminta bantuan bukan berarti kamu gagal menghadapi dunia kerja.
Kadang, kita memang membutuhkan dukungan untuk melewati masa yang sulit.
Tekanan Kerja Akan Terasa Berbeda Setelah Kamu Mulai Terbiasa
Hal yang sekarang terasa sulit belum tentu akan terasa sulit selamanya.
Pekerjaan yang sekarang membutuhkan waktu tiga jam mungkin beberapa bulan lagi bisa kamu selesaikan dalam satu jam.
Istilah yang sekarang terasa asing mungkin nanti menjadi sesuatu yang biasa.
Orang yang sekarang membuatmu gugup mungkin nanti menjadi rekan kerja yang sering kamu ajak berdiskusi.
Proses tersebut tidak terjadi dalam semalam.
Kamu mendapat pengalaman.
Kamu belajar.
Kamu melakukan kesalahan.
Kamu memperbaiki.
Kemudian kamu mencoba lagi.
Dari sanalah kemampuan menghadapi tekanan mulai terbentuk.
Kamu Tidak Harus Kuat Setiap Saat
Menjadi fresh graduate bukan berarti kamu harus membuktikan bahwa kamu sanggup menghadapi semua tekanan tanpa bantuan.
Ada hari ketika kamu merasa percaya diri.
Ada hari ketika kamu merasa bingung.
Ada pekerjaan yang bisa kamu selesaikan sendiri.
Ada juga pekerjaan yang membutuhkan bantuan orang lain.
Itu semua bagian dari proses menjadi pekerja.
Jangan menjadikan pekerjaan pertama sebagai pembuktian bahwa kamu harus langsung kuat, cepat, dan sempurna.
Kamu sedang belajar.
Kalau hari ini terasa berat, fokus pada hal yang bisa kamu selesaikan hari ini.
Kalau belum tahu, cari tahu.
Kalau terlalu banyak pekerjaan, tentukan prioritas.
Kalau ada kendala, komunikasikan.
Kalau sudah selesai bekerja, berikan waktu untuk dirimu beristirahat.
Dan kalau kamu masih membutuhkan waktu untuk beradaptasi, itu tidak membuatmu gagal.
Kesimpulan
Tekanan dunia kerja memang nyata, tetapi kamu tidak harus menghadapinya dengan tuntutan bahwa dirimu harus langsung kuat sejak hari pertama.
Sebagai fresh graduate, kemampuan menghadapi pekerjaan akan berkembang seiring pengalaman.
Mulailah dari hal-hal sederhana: memahami prioritas, mengatur deadline, berkomunikasi ketika mengalami kendala, meminta bantuan ketika diperlukan, dan memberikan waktu bagi diri sendiri untuk beradaptasi.
Jangan mengukur kemampuanmu dari satu hari yang buruk.
Jangan membandingkan minggu pertamamu dengan pengalaman orang lain yang sudah bertahun-tahun bekerja.
Dan yang paling penting, jangan menganggap bahwa merasa belum siap berarti kamu tidak akan mampu.
Pekerjaan pertama memang tempat untuk belajar.
Kamu tidak harus langsung bisa menghadapi semuanya.
Cukup belajar menghadapinya satu per satu.