Ada satu perasaan yang sering muncul setelah interview kerja.
Kita sudah mempersiapkan diri.
Sudah membaca tentang perusahaan.
Sudah memikirkan jawaban dari berbagai pertanyaan.
Sudah datang dengan harapan yang cukup besar.
Tapi ternyata interview berlangsung sangat singkat.
Baru beberapa pertanyaan, sudah selesai.
Interviewer juga tidak banyak bertanya.
Tidak banyak bercanda.
Tidak banyak memberikan respons.
Akhirnya ketika keluar dari ruangan, muncul pikiran:
“Kayaknya aku gagal.”
Apalagi kalau sebelumnya melihat cerita orang lain yang interview sampai satu jam, ngobrol panjang dengan user, bahkan membahas gaji dan tanggal mulai kerja.
Kita mulai membandingkan:
“Punya mereka lama, punyaku cuma sebentar.”
“HR mereka kelihatan tertarik, HR-ku biasa saja.”
“Jangan-jangan dari awal aku memang tidak cocok.”
Tapi apakah interview yang singkat benar-benar berarti kandidat gagal?
Tidak selalu.
Durasi interview saja tidak cukup untuk menentukan hasil sebuah proses rekrutmen.
Kenapa Interview Bisa Berlangsung Singkat?
Ada banyak alasan mengapa sebuah interview tidak berlangsung lama.
Tidak semuanya berkaitan dengan kualitas kandidat.
Misalnya, interviewer sudah mendapatkan informasi yang dibutuhkan dari beberapa pertanyaan utama.
Atau format interview perusahaan memang dibuat singkat.
Bisa juga interview tersebut hanya merupakan salah satu tahap dari proses yang lebih panjang.
Dalam proses rekrutmen, setiap perusahaan memiliki cara kerja yang berbeda.
Karena itu, membandingkan durasi interview kita dengan pengalaman kandidat lain belum tentu memberikan gambaran yang akurat.
Interview seseorang bisa berlangsung 20 menit.
Orang lain bisa satu jam.
Keduanya belum tentu menghasilkan keputusan yang sama.
Apakah Interview Panjang Berarti Lebih Berpeluang Diterima?
Belum tentu juga.
Ini penting karena kandidat sering membuat kesalahan dengan menganggap:
interview lama = bagus
dan
interview singkat = buruk.
Padahal durasi bukan satu-satunya faktor dalam proses interview.
Interview bisa berlangsung lama karena interviewer menggali banyak hal.
Tetapi bisa juga berlangsung lama karena percakapan berkembang ke banyak topik.
Sebaliknya, interview bisa berlangsung singkat karena interviewer sudah memperoleh informasi yang dibutuhkan.
Jadi tidak tepat jika durasi digunakan sebagai ukuran tunggal untuk menentukan apakah interview berhasil atau gagal.
Bagaimana Kalau HR Tidak Banyak Bertanya?
Ini juga bisa membuat kandidat panik.
Misalnya kamu sudah mempersiapkan banyak cerita mengenai pengalaman kerja.
Tapi ternyata HR hanya bertanya beberapa hal:
“Ceritakan pengalaman kamu.”
“Kenapa tertarik posisi ini?”
“Bisa bekerja shift?”
“Kapan bisa mulai?”
Selesai.
Kamu kemudian berpikir:
“Kok sedikit banget pertanyaannya?”
Jangan langsung menganggap interviewer tidak tertarik.
Jumlah pertanyaan tidak selalu menggambarkan keputusan akhir.
Bisa saja pertanyaan yang diberikan memang sudah cukup untuk mendapatkan informasi yang diperlukan pada tahap tersebut.
Yang lebih penting adalah isi pertanyaannya dan bagaimana keseluruhan proses berlangsung, bukan sekadar jumlahnya.
Bagaimana Kalau Interviewer Terlihat Datar?
Ada interviewer yang ekspresif.
Ada yang sering tersenyum.
Ada yang banyak memberikan respons selama kandidat berbicara.
Tetapi ada juga interviewer yang gaya komunikasinya lebih serius dan tenang.
Jika interviewer tidak banyak tersenyum, jangan langsung menerjemahkannya sebagai:
“Dia nggak suka aku.”
Kita tidak mengetahui apa yang sedang dipikirkan orang lain hanya dari ekspresi wajahnya.
Bahkan interviewer yang terlihat sangat ramah pun belum tentu memberikan keputusan positif.
Sebaliknya, interviewer yang terlihat serius belum tentu memberikan keputusan negatif.
Karena itu, membaca ekspresi interviewer terlalu jauh justru bisa membuat kandidat semakin overthinking.
Bagaimana Kalau Interviewer Tidak Banyak Menjelaskan Tentang Perusahaan?
Hal ini juga bisa terjadi.
Ada interview yang lebih banyak digunakan untuk menggali kandidat.
Ada juga interview yang sekaligus menjadi kesempatan perusahaan menjelaskan posisi, sistem kerja, dan lingkungan kerja.
Formatnya bisa berbeda.
Jadi kalau interviewer tidak banyak bercerita mengenai perusahaan, jangan langsung mengambil kesimpulan bahwa mereka tidak tertarik.
Perhatikan apakah ada informasi konkret yang diberikan mengenai proses selanjutnya.
Misalnya:
- kapan kandidat akan mendapatkan kabar;
- apakah ada tahap interview berikutnya;
- apakah ada tes;
- apakah ada dokumen yang perlu dilengkapi;
- atau bagaimana proses berikutnya.
Informasi seperti ini lebih berguna daripada mencoba menebak arti ekspresi interviewer.
Bagaimana Kalau Interview Berakhir Lebih Cepat dari Jadwal?
Misalnya jadwal interview adalah 45 menit.
Tapi ternyata selesai dalam 15 atau 20 menit.
Wajar kalau kandidat langsung merasa khawatir.
Namun, jangan buru-buru menganggap waktu yang tersisa sebagai bukti bahwa interview berjalan buruk.
Yang perlu dilihat adalah apa yang terjadi selama 15 atau 20 menit tersebut.
Apakah kamu sudah mendapatkan kesempatan menjelaskan pengalaman?
Apakah pertanyaan yang relevan sudah dibahas?
Apakah interviewer memberikan informasi mengenai tahap berikutnya?
Apakah kamu diberikan kesempatan untuk bertanya?
Jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan tersebut lebih informatif dibandingkan sekadar menghitung menit.
Lalu, Apa Ciri Interview yang Memang Perlu Diperhatikan?
Daripada hanya memperhatikan durasi, coba lihat indikator yang lebih konkret.
Misalnya interviewer:
- menggali pengalamanmu secara relevan;
- menanyakan kemampuan yang berkaitan dengan posisi;
- menjelaskan tanggung jawab pekerjaan;
- membahas ketersediaanmu;
- menjelaskan proses selanjutnya;
- meminta dokumen atau informasi tambahan;
- atau memberi tahu timeline proses rekrutmen.
Hal-hal tersebut memberikan konteks yang lebih jelas mengenai jalannya proses.
Untuk melihat indikator lainnya secara lebih lengkap, kamu juga bisa membaca ciri-ciri interview kerja berjalan baik.
Namun tetap perlu diingat: indikator positif sekalipun tidak otomatis berarti kamu diterima.
Bagaimana Kalau Kamu Merasa Jawabanmu Tadi Buruk?
Kadang masalahnya bukan hanya interview yang singkat.
Kandidat merasa jawabannya juga tidak maksimal.
Setelah keluar dari ruangan, baru teringat:
“Harusnya tadi aku jawab begini.”
Atau:
“Kenapa tadi aku malah ngomong seperti itu?”
Hal ini sangat umum terjadi.
Ketika interview selesai, kita memiliki waktu untuk memikirkan kembali jawaban dengan lebih tenang.
Akibatnya, jawaban yang tadi terasa biasa saja bisa terlihat jauh lebih buruk di kepala kita.
Jangan langsung menghukum diri sendiri.
Gunakan pengalaman tersebut sebagai evaluasi.
Tanyakan:
- Apa yang sudah berjalan baik?
- Pertanyaan mana yang membuatku kesulitan?
- Apakah ada jawaban yang terlalu panjang?
- Apakah ada pengalaman yang belum sempat aku jelaskan?
- Apa yang bisa diperbaiki untuk interview berikutnya?
Dengan begitu, interview yang terasa kurang maksimal tetap bisa memberikan manfaat.
Jangan Membandingkan Interview-mu dengan Cerita Orang Lain
Di media sosial, kita sering membaca pengalaman seperti:
“Interview-ku sampai satu jam, HR ngobrol ngalor-ngidul, terus besoknya lolos.”
Kemudian kita melihat pengalaman sendiri:
“Aku cuma 20 menit dan HR kelihatan serius.”
Akhirnya kita membuat kesimpulan:
“Punya dia positif. Punyaku negatif.”
Padahal kita sedang membandingkan dua proses yang berbeda.
Perusahaan berbeda.
Posisi berbeda.
Interviewer berbeda.
Kebutuhan berbeda.
Kandidat berbeda.
Bahkan tahapan rekrutmennya pun bisa berbeda.
Cerita orang lain bisa menjadi pengalaman yang menarik untuk dibaca, tetapi tidak bisa digunakan sebagai standar pasti untuk menilai hasil interview kita sendiri.
Bagaimana Kalau Setelah Interview Tidak Ada Kabar?
Ini yang biasanya membuat kecemasan semakin besar.
Hari pertama tidak ada kabar.
Hari kedua tidak ada kabar.
Hari ketiga mulai berpikir:
“Kayaknya gagal.”
Padahal belum tentu.
Jika perusahaan memberikan timeline, gunakan timeline tersebut.
Misalnya interviewer mengatakan:
“Minggu depan kami kabari.”
Maka jangan menganggap tidak ada kabar selama dua atau tiga hari sebagai penolakan.
Jika timeline sudah lewat, barulah kamu bisa mempertimbangkan follow-up.
Dan kalau akhirnya perusahaan memberikan keputusan yang tidak sesuai harapan, itu tetap tidak mengubah fakta bahwa durasi interview bukan penyebab yang bisa kita pastikan sebagai alasan keputusan tersebut.
Jangan Mengubah “Tidak Tahu” Menjadi “Pasti Gagal”
Ini mungkin jebakan terbesar setelah interview.
Kita sebenarnya tidak tahu hasilnya.
Tetapi karena tidak mendapatkan informasi, otak mencoba mengisinya.
“HR nggak senyum → berarti nggak suka.”
“Interview cuma 15 menit → berarti gagal.”
“Tidak banyak ditanya → berarti tidak tertarik.”
“Belum dikabari → berarti ditolak.”
Padahal semuanya masih berupa interpretasi.
Ada perbedaan besar antara:
“Aku belum tahu hasilnya.”
dan
“Aku tahu aku gagal.”
Kalau perusahaan belum memberikan keputusan, kita sebenarnya masih berada pada kondisi pertama.
Jadi jangan mengubah ketidakpastian menjadi kesimpulan negatif hanya karena kita sedang cemas.
Kalau Interview Singkat, Apa yang Sebaiknya Dilakukan?
Setelah interview selesai, lakukan hal-hal yang memang berada dalam kendalimu.
Evaluasi
Tuliskan pertanyaan yang kamu ingat dan bagaimana kamu menjawabnya.
Catat timeline
Kalau interviewer memberikan informasi mengenai kapan akan ada kabar, catat.
Siapkan follow-up
Kalau timeline sudah lewat, siapkan pesan follow-up yang singkat dan profesional.
Tetap mencari pekerjaan
Jangan menghentikan pencarian hanya karena sedang menunggu satu perusahaan.
Belajar dari pengalaman
Jika ada jawaban yang kurang maksimal, jadikan bahan latihan untuk interview berikutnya.
Dengan begitu, kamu tidak sepenuhnya bergantung pada satu hasil.
Jadi, Apakah Interview Singkat Berarti Gagal?
Tidak.
Interview singkat bukan bukti otomatis bahwa kandidat gagal.
Begitu juga interview panjang bukan bukti otomatis bahwa kandidat diterima.
Durasi interview hanyalah salah satu bagian dari pengalaman kandidat.
Yang lebih penting adalah melihat konteks keseluruhan proses dan informasi konkret yang diberikan perusahaan.
Kalau interview selesai lebih cepat dari perkiraan, tidak perlu langsung pulang dengan kesimpulan:
“Aku gagal.”
Bisa saja memang belum ada keputusan.
Bisa saja prosesnya masih berjalan.
Dan bisa saja hasil akhirnya berbeda dari apa yang kamu bayangkan.
Tidak Semua Hal di Interview Harus Dicari Artinya
Setelah interview, kita sering ingin menganalisis semuanya.
Nada suara HR.
Ekspresi user.
Jumlah pertanyaan.
Durasi interview.
Senyuman.
Jabat tangan.
Kalimat terakhir.
Sampai cara interviewer menutup laptop.
Padahal tidak semua hal tersebut memiliki pesan tersembunyi.
Kadang interview memang hanya selesai karena informasinya sudah cukup.
Kadang interviewer memang memiliki gaya komunikasi yang serius.
Kadang jadwal memang harus selesai.
Dan kadang kita memang belum tahu hasilnya.
Tidak tahu bukan berarti gagal.
Kesimpulan
Kalau interview kamu hanya berlangsung sebentar, jangan langsung menyimpulkan bahwa kamu tidak lolos.
Tidak ada durasi interview tertentu yang bisa menjamin kandidat diterima atau ditolak.
Begitu pula ekspresi interviewer, jumlah pertanyaan, atau suasana interview tidak bisa digunakan sebagai bukti pasti mengenai keputusan akhir.
Lebih baik perhatikan informasi yang konkret:
- apakah ada tahap selanjutnya;
- apakah perusahaan memberikan timeline;
- apakah ada dokumen yang perlu dilengkapi;
- apakah ada follow-up;
- dan apakah perusahaan akhirnya memberikan keputusan resmi.
Sambil menunggu, evaluasi interview-mu dan tetap buka peluang lain.
Karena dalam proses mencari kerja, kita tidak selalu bisa mengetahui hasil sebelum perusahaan mengatakannya.
Jadi kalau hari ini kamu keluar dari ruang interview sambil berpikir:
“Kok cuma sebentar? Jangan-jangan aku gagal.”
Tarik napas.
Belum tentu.
Interview-nya mungkin memang sudah selesai.
Tetapi keputusan akhirnya belum tentu sudah dibuat.