Apa Itu Interview User? Kenali Perbedaan Interview HRD dan User

Pernah keluar dari interview kerja sambil berpikir, “Kalau diterima pun, kayaknya saya nggak mau kerja di sana.”?

Perasaan seperti itu bisa muncul ketika interview dengan calon atasan atau user terasa jauh lebih menekan dari yang dibayangkan. Pertanyaannya mungkin sulit, tetapi yang membuat tidak nyaman justru cara penyampaiannya: nada bicara ketus, komentar yang meremehkan, ekspresi tidak menyenangkan, atau pertanyaan yang terasa seperti sengaja menjatuhkan kandidat.

Situasi seperti ini kemudian menimbulkan pertanyaan: apakah interview user yang galak memang bagian dari tes mental, atau justru merupakan tanda yang perlu diwaspadai?

Jawabannya tidak selalu hitam putih.

User memang boleh menguji kandidat dengan pertanyaan sulit dan situasi yang menantang. Namun, menguji kandidat tidak berarti harus merendahkan kandidat. Di sisi lain, satu interview yang terasa buruk juga belum cukup untuk menyimpulkan bahwa seluruh perusahaan memiliki budaya kerja yang buruk.

Karena itu, kandidat perlu tahu bagaimana membedakan keduanya.

Apa Itu Interview User?

Sebelum membahas user yang galak, kita perlu memahami terlebih dahulu apa yang dimaksud dengan interview user.

Interview user adalah tahap wawancara ketika kandidat bertemu dengan pihak dari divisi yang nantinya akan bekerja langsung dengannya. Pihak tersebut dapat berupa calon atasan, supervisor, manager, team leader, atau orang lain yang memiliki keterkaitan langsung dengan posisi yang dilamar.

Jika interview HR biasanya lebih banyak membahas latar belakang kandidat, motivasi, administrasi, dan kecocokan secara umum, interview user cenderung menggali hal yang lebih dekat dengan pekerjaan sehari-hari.

Misalnya:

  • pengalaman yang relevan dengan posisi;
  • kemampuan teknis;
  • cara menyelesaikan masalah;
  • cara mengambil keputusan;
  • pengalaman menghadapi tekanan;
  • cara bekerja dalam tim;
  • serta cara kandidat menghadapi situasi tertentu.

Karena user bisa menjadi calon atasan langsung, sebenarnya ada satu hal lain yang juga penting diperhatikan kandidat: bagaimana user tersebut berkomunikasi.

Bukan untuk mencari atasan yang selalu ramah atau menyenangkan, tetapi untuk memahami apakah gaya kepemimpinannya sesuai dengan apa yang kamu cari dalam pekerjaan.

Kenapa Interview User Bisa Terasa Galak?

Ada beberapa alasan mengapa seorang user terlihat sangat tegas atau bahkan galak ketika melakukan interview.

1. User Ingin Menguji Respons Kandidat

Seorang interviewer mungkin sengaja memberikan pertanyaan yang sulit untuk melihat bagaimana kandidat merespons tekanan.

Misalnya, kandidat diberikan pertanyaan yang mempertanyakan pengalaman, kemampuan, atau alasan melamar posisi tersebut.

Tujuannya bisa saja untuk melihat apakah kandidat:

  • mudah panik;
  • mampu berpikir secara logis;
  • bisa mempertahankan pendapat;
  • terbuka terhadap kritik;
  • atau mampu menjelaskan keputusan yang pernah dibuat.

Dalam konteks ini, interview memang bisa terasa tidak nyaman.

Namun, tidak nyaman bukan berarti tidak profesional.

2. User Memiliki Gaya Komunikasi yang Sangat Tegas

Ada orang yang memang memiliki gaya komunikasi langsung.

Mereka tidak banyak menggunakan basa-basi, ekspresinya serius, dan pertanyaannya langsung menuju inti masalah.

Bagi kandidat tertentu, gaya seperti ini mungkin terasa galak. Padahal belum tentu interviewer bermaksud merendahkan.

Karena itu, penting melihat keseluruhan perilakunya, bukan hanya ekspresi wajah atau intonasi.

3. User Sedang Menguji Kecocokan dengan Lingkungan Kerja

Untuk beberapa pekerjaan, kemampuan menghadapi tekanan memang relevan.

Misalnya, posisi yang memiliki target tinggi, berhadapan dengan pelanggan, menangani situasi mendesak, atau membutuhkan pengambilan keputusan cepat.

User mungkin ingin melihat bagaimana kandidat bereaksi ketika berada dalam situasi yang tidak ideal.

Tetapi sekali lagi, tekanan yang relevan dengan pekerjaan berbeda dengan perlakuan yang merendahkan.

4. Memang Begitulah Cara User Berkomunikasi

Ada kemungkinan sederhana: memang gaya komunikasinya seperti itu.

Seseorang bisa menjadi atasan yang kompeten tetapi memiliki gaya komunikasi yang sangat keras. Namun, bagi kandidat, pertanyaan yang perlu dipikirkan bukan hanya:

“Apakah dia orang baik?”

Melainkan:

“Apakah saya cocok bekerja dengan gaya komunikasi seperti ini setiap hari?”

Ini jauh lebih relevan dalam mengambil keputusan karier.

Apakah Interview User Galak Berarti Sedang Melakukan Stress Interview?

Belum tentu.

Stress interview adalah pendekatan wawancara yang sengaja menciptakan tekanan untuk melihat bagaimana kandidat merespons situasi yang membuat stres.

Jika dilakukan dengan tepat, interviewer mungkin memberikan pertanyaan yang menantang, mempertanyakan jawaban kandidat, atau memberikan skenario yang membutuhkan respons cepat.

Namun, ada perbedaan antara menguji kemampuan menghadapi tekanan dan membuat kandidat merasa dihina.

Contohnya:

“Pengalaman kamu belum terlalu sesuai dengan posisi ini. Apa alasan kami harus mempertimbangkan kamu?”

Pertanyaan tersebut cukup menantang, tetapi masih relevan.

Bandingkan dengan:

“Kamu nggak punya pengalaman di bidang ini, memang yakin bisa kerja?”

Tujuannya mungkin sama, tetapi cara menyampaikannya berbeda.

Karena itu, jangan hanya bertanya:

“Apakah interview-nya galak?”

Tanyakan juga:

“Apakah tekanan yang diberikan masih relevan dengan tujuan interview?”


Bedakan User yang Tegas dengan User yang Merendahkan

Ini salah satu hal terpenting yang perlu dipahami kandidat.

Tidak semua interviewer yang serius atau kritis merupakan red flag.

User yang tegas biasanya:

  • memberikan pertanyaan yang relevan;
  • meminta jawaban yang lebih spesifik;
  • mempertanyakan klaim kandidat;
  • memberikan studi kasus;
  • menguji kemampuan berpikir;
  • menyampaikan kritik secara langsung;
  • tetap memberikan kesempatan kandidat untuk menjawab.

Sementara user yang merendahkan dapat terlihat dari:

  • komentar yang menghina kandidat;
  • sengaja mempermalukan kandidat;
  • menggunakan kata-kata kasar;
  • meremehkan pengalaman atau latar belakang kandidat;
  • memotong pembicaraan secara terus-menerus tanpa alasan;
  • memberikan komentar pribadi yang tidak relevan;
  • membuat kandidat merasa tidak berharga, bukan sekadar tertantang.

Perbedaannya memang terkadang subjektif.

Karena itu, jangan mengambil kesimpulan hanya dari satu momen. Perhatikan pola interaksi secara keseluruhan.


Tanda-Tanda Interview User yang Perlu Diwaspadai

Interview yang membuat gugup belum tentu bermasalah.

Tetapi ada beberapa perilaku yang layak menjadi bahan pertimbangan.

1. Kandidat Terus-Menerus Direndahkan

Jika hampir setiap jawaban dibalas dengan komentar yang meremehkan, kamu patut mempertanyakan cara komunikasi user tersebut.

Kritik terhadap kemampuan kandidat adalah hal wajar.

Tetapi kritik seharusnya tetap berfokus pada kompetensi dan kebutuhan pekerjaan, bukan menyerang harga diri kandidat.

2. Pertanyaan Sulit Tidak Disertai Kesempatan Menjelaskan

Interview memang bukan sesi mengobrol santai.

Namun kandidat tetap membutuhkan kesempatan untuk menjelaskan pengalaman dan pemikirannya.

Jika user terus memotong jawaban dan tidak memberikan ruang untuk menjelaskan, kandidat sulit menunjukkan kemampuan sebenarnya.

3. Nada Bicara dan Perlakuan Terasa Intimidatif

Satu ekspresi serius tentu bukan masalah.

Tetapi jika keseluruhan interaksi membuat kandidat merasa sengaja ditekan atau dipermalukan, pengalaman tersebut patut dicatat.

4. Job Description dan Penjelasan Pekerjaan Tidak Konsisten

Ini bahkan lebih penting daripada sekadar interviewer yang galak.

Jika posisi yang ditawarkan berbeda jauh dari informasi awal, tanggung jawab berubah, atau ekspektasi pekerjaan baru muncul ketika interview berlangsung, kandidat perlu meminta klarifikasi.

5. Kandidat Merasa Harus “Tahan Disiksa” Agar Diterima

Kalimat seperti:

“Namanya juga dunia kerja.”

tidak seharusnya digunakan untuk membenarkan semua bentuk perlakuan.

Dunia kerja memang penuh tekanan. Tetapi profesionalisme tetap dibutuhkan.


Apakah User Galak Berarti Perusahaannya Toxic?

Tidak otomatis.

Ini penting.

Satu orang interviewer tidak selalu mewakili seluruh organisasi.

Bisa saja user tersebut memiliki gaya komunikasi yang berbeda dengan HR atau anggota tim lainnya. Bisa juga perilaku yang kamu lihat merupakan situasi khusus.

Karena itu, hindari kesimpulan:

“User-nya galak, berarti perusahaannya toxic.”

Lebih tepat jika pengalaman tersebut dianggap sebagai sinyal yang perlu diverifikasi.

Kamu bisa mencari informasi tambahan melalui:

  • bertanya kepada HR;
  • bertanya lebih detail tentang struktur tim;
  • mencari tahu gaya kerja tim;
  • melihat informasi dari karyawan atau mantan karyawan;
  • memperhatikan bagaimana perusahaan berkomunikasi selama proses rekrutmen;
  • dan membandingkan pengalaman tersebut dengan informasi lain yang tersedia.

Semakin banyak sinyal yang mengarah ke pola yang sama, semakin kuat alasan untuk mempertimbangkannya.


Kandidat Juga Sedang Menilai Perusahaan

Ini mungkin bagian terpenting dari pembahasan interview user.

Banyak pencari kerja datang ke interview dengan satu tujuan:

“Bagaimana caranya supaya saya diterima?”

Padahal proses rekrutmen sebenarnya berjalan dua arah.

Perusahaan sedang menilai kandidat.

Kandidat juga sedang menilai perusahaan.

Ketika kamu bertemu calon atasan, kamu bisa mendapatkan informasi yang tidak selalu tercantum dalam lowongan kerja.

Misalnya:

  • bagaimana calon atasan berkomunikasi;
  • bagaimana ia memberikan feedback;
  • bagaimana ia menjelaskan masalah;
  • bagaimana ia berbicara tentang anggota tim;
  • bagaimana ia menjelaskan target;
  • dan bagaimana ia memperlakukan orang dalam posisi sebagai kandidat.

Kamu tidak harus mencari atasan yang selalu tersenyum.

Tetapi kamu berhak mempertimbangkan apakah gaya kepemimpinan tersebut cocok denganmu.


Pertanyaan yang Bisa Ditanyakan kepada User

Daripada hanya menjawab pertanyaan interviewer, gunakan kesempatan interview untuk mencari tahu lingkungan kerja.

Beberapa pertanyaan yang bisa kamu ajukan:

“Seperti apa gaya komunikasi di dalam tim?”

Ini dapat memberikan gambaran mengenai pola komunikasi sehari-hari.

“Bagaimana biasanya feedback diberikan kepada anggota tim?”

Jawaban user dapat membantu kamu memahami bagaimana kritik dan evaluasi dilakukan.

“Apa tantangan terbesar untuk posisi ini?”

Pertanyaan ini membantu mengetahui apakah tekanan pekerjaan sesuai dengan ekspektasimu.

“Seperti apa ekspektasi untuk tiga bulan pertama?”

Kamu bisa mendapatkan gambaran mengenai target awal dan ukuran keberhasilan.

“Bagaimana biasanya tim menyelesaikan masalah ketika terjadi kesalahan?”

Ini pertanyaan yang menarik karena dapat memberikan gambaran apakah budaya tim lebih berorientasi pada pembelajaran atau menyalahkan individu.

Tentu saja tidak ada satu pertanyaan yang bisa membuktikan sebuah perusahaan baik atau buruk.

Tetapi semakin banyak informasi yang kamu dapatkan, semakin baik keputusan yang bisa dibuat.


Bagaimana Jika Interview User Sudah Terlanjur Membuat Tidak Nyaman?

Jangan langsung menyimpulkan bahwa kamu gagal.

Interview yang membuat gugup bukan berarti kamu tidak kompeten.

Setelah interview, coba pisahkan dua hal:

Pertama:

“Saya gugup karena pertanyaannya sulit.”

Kedua:

“Saya tidak nyaman karena cara saya diperlakukan.”

Keduanya berbeda.

Jika masalahnya adalah gugup, pengalaman tersebut justru bisa menjadi bahan latihan untuk interview berikutnya.

Catat pertanyaan yang membuatmu kesulitan.

Evaluasi jawabanmu.

Cari tahu apa yang bisa diperbaiki.

Namun jika masalahnya adalah perilaku interviewer yang menurutmu tidak profesional, simpan pengalaman tersebut sebagai salah satu informasi ketika mempertimbangkan perusahaan.


Haruskah Tetap Mengambil Pekerjaan Jika Akhirnya Diterima?

Ini keputusan yang sepenuhnya bergantung pada situasi.

Jangan menolak pekerjaan hanya karena interview membuatmu gugup.

Namun, jangan pula merasa wajib menerima pekerjaan hanya karena sudah berhasil lolos.

Jika mendapatkan offering, pertimbangkan kembali:

  • gaji dan benefit;
  • tanggung jawab pekerjaan;
  • jam kerja;
  • lokasi atau sistem kerja;
  • peluang pengembangan;
  • reputasi perusahaan;
  • gaya calon atasan;
  • budaya tim;
  • serta bagaimana perasaanmu setelah mengetahui lebih banyak tentang posisi tersebut.

Jika hanya ada satu interview yang terasa kurang menyenangkan tetapi informasi lain tentang perusahaan sangat positif, mungkin belum cukup alasan untuk langsung menolak.

Sebaliknya, jika interview tersebut menjadi salah satu dari banyak tanda yang membuatmu meragukan lingkungan kerja, keputusan untuk mundur juga merupakan pilihan yang valid.

Diterima kerja bukan berarti kamu harus menerima pekerjaan tersebut.


Jangan Mengabaikan Intuisi, tetapi Tetap Verifikasi

Ada kalanya seseorang selesai interview dan langsung merasa:

“Ada sesuatu yang nggak beres.”

Perasaan tersebut tidak selalu benar.

Bisa saja kamu hanya lelah atau gugup.

Tetapi intuisi juga tidak harus langsung diabaikan.

Gunakan perasaan tersebut sebagai alasan untuk mencari informasi lebih lanjut, bukan sebagai bukti final.

Misalnya:

“Saya merasa gaya komunikasi user tadi terlalu keras. Apakah ada informasi lain yang bisa membantu saya memahami budaya timnya?”

Dengan pendekatan seperti ini, keputusanmu menjadi lebih objektif.


Dari Sisi Perusahaan: Interview Juga Membentuk Employer Branding

Fenomena interview user yang buruk sebenarnya bukan hanya masalah kandidat.

Perusahaan juga perlu memahami bahwa proses rekrutmen merupakan bagian dari employer branding.

Seorang kandidat yang merasa dihargai selama proses rekrutmen mungkin tetap memiliki persepsi positif terhadap perusahaan meskipun akhirnya tidak diterima.

Sebaliknya, kandidat yang merasa dipermalukan bisa membawa pengalaman tersebut ke lingkungan sosialnya.

Itulah sebabnya interviewer tidak hanya sedang mencari kandidat.

Ia juga sedang mewakili perusahaan di hadapan kandidat.

User boleh tegas.

User boleh kritis.

User boleh memberikan pertanyaan sulit.

Tetapi semuanya tetap bisa dilakukan dengan profesional.


Jadi, Interview User Galak Itu Tes Mental atau Red Flag?

Jawabannya:

Bisa menjadi tes, tetapi bisa juga menjadi red flag.

Yang membedakannya adalah cara, tujuan, konteks, dan pola perilakunya.

Jika user memberikan pertanyaan sulit tetapi tetap profesional, jangan buru-buru menganggapnya sebagai masalah.

Namun jika kandidat terus direndahkan, dipermalukan, atau diperlakukan secara tidak profesional, pengalaman tersebut layak menjadi bahan pertimbangan.

Dan yang tidak kalah penting:

jangan menganggap interview hanya sebagai ujian yang harus kamu lewati.

Interview juga merupakan kesempatan untuk mengetahui apakah pekerjaan dan lingkungan tersebut sesuai denganmu.

Pada akhirnya, perusahaan memilih kandidat.

Tetapi kandidat juga memilih perusahaan.

Jadi, jika setelah interview kamu merasa tidak nyaman, jangan langsung mengabaikan perasaan tersebut dan jangan pula langsung mengambil kesimpulan.

Evaluasi.

Cari informasi.

Bandingkan dengan sinyal lainnya.

Lalu buat keputusan berdasarkan informasi yang kamu punya.

Karena mendapatkan pekerjaan memang penting.

Tetapi mendapatkan pekerjaan yang tepat juga sama pentingnya.


FAQ Seputar Interview User Galak

Apakah interview user yang galak berarti perusahaan toxic?

Belum tentu. Gaya komunikasi satu user tidak otomatis menggambarkan seluruh perusahaan. Namun, pengalaman tersebut bisa menjadi salah satu sinyal yang perlu diperhatikan dan diverifikasi.

Apakah wajar jika user memberikan pertanyaan yang membuat kandidat tertekan?

Wajar jika pertanyaan interview menantang, terutama jika tujuannya untuk menguji kemampuan kandidat menghadapi masalah atau tekanan. Yang perlu diperhatikan adalah apakah tekanan tersebut tetap diberikan secara relevan dan profesional.

Bagaimana cara menghadapi interview user yang galak?

Tetap tenang, dengarkan pertanyaan sampai selesai, jawab secara terstruktur, dan jangan terpancing untuk membalas dengan emosi. Setelah interview, evaluasi apakah yang terjadi hanya pertanyaan sulit atau memang terdapat perilaku yang tidak profesional.

Apakah boleh menolak pekerjaan setelah lolos interview?

Boleh. Lolos seleksi tidak berarti kandidat wajib menerima offering. Kandidat tetap perlu mempertimbangkan posisi, kompensasi, lingkungan kerja, calon atasan, dan tujuan karier sebelum membuat keputusan.

Apa yang harus diperhatikan dari calon atasan saat interview?

Perhatikan cara calon atasan berkomunikasi, memberikan feedback, menjelaskan ekspektasi, membahas masalah, serta memperlakukan kandidat dan anggota tim. Tidak perlu mencari atasan yang sempurna, tetapi penting memastikan gaya kepemimpinannya sesuai dengan kebutuhanmu.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top