Salah satu hal yang paling sering membuat fresh graduate takut memulai pekerjaan pertama adalah takut melakukan kesalahan.
Takut salah mengerjakan tugas. Takut salah memahami instruksi atasan. Takut salah mengirim dokumen. Takut bertanya karena khawatir dianggap tidak kompeten.
Bahkan sebelum benar-benar mulai bekerja, pikiran seperti ini mungkin sudah muncul:
“Kalau aku salah terus gimana?”
“Kalau atasan kecewa gimana?”
“Kalau senior menganggap aku nggak bisa kerja gimana?”
Perasaan tersebut bisa membuat pekerjaan pertama terasa lebih menakutkan daripada yang sebenarnya.
Padahal, melakukan kesalahan saat baru mulai bekerja bukan berarti kamu tidak mampu bekerja. Kamu sedang mempelajari sesuatu yang baru, termasuk cara kerja perusahaan, kebiasaan tim, tools yang digunakan, hingga standar pekerjaan yang mungkin belum pernah kamu temui selama kuliah.
Kalau kamu sedang berada di fase ini, memahami fresh graduate yang takut masuk dunia kerja bisa menjadi langkah awal untuk mengurangi ekspektasi bahwa kamu harus langsung menguasai semuanya.
Lalu, apa yang sebaiknya dilakukan ketika kamu takut salah saat pertama kali kerja?
Kenapa Fresh Graduate Takut Melakukan Kesalahan?
Rasa takut melakukan kesalahan biasanya muncul karena ada tekanan untuk terlihat mampu.
Setelah lulus kuliah dan mendapatkan pekerjaan, seseorang mungkin merasa harus membuktikan bahwa dirinya memang layak diterima.
Akibatnya, kesalahan kecil bisa terasa seperti sesuatu yang sangat besar.
Misalnya kamu salah memasukkan satu data ke dalam spreadsheet.
Secara objektif, masalahnya mungkin hanya perlu diperbaiki.
Namun di kepala kamu, kesalahan tersebut bisa berkembang menjadi:
“Aku nggak teliti.”
Kemudian:
“Kayaknya aku nggak cocok kerja di sini.”
Padahal, satu kesalahan tidak cukup untuk menentukan kemampuanmu secara keseluruhan.
Apalagi jika kamu baru mengenal pekerjaan tersebut.
Ada banyak hal yang memang membutuhkan pengalaman sebelum bisa dilakukan dengan cepat dan akurat.
Apakah Wajar Kalau Fresh Graduate Sering Salah?
Wajar jika kamu melakukan kesalahan saat berada dalam proses belajar.
Namun, wajar bukan berarti kesalahan harus dibiarkan begitu saja.
Ada perbedaan antara melakukan kesalahan karena belum mengetahui sesuatu dan mengabaikan kesalahan setelah mendapatkan feedback.
Misalnya:
Kondisi pertama:
Kamu belum tahu prosedur membuat laporan → bertanya → mendapatkan penjelasan → memperbaiki cara kerja.
Ini bagian dari proses belajar.
Kondisi kedua:
Kamu sudah diberi tahu mengenai prosedur → melakukan kesalahan yang sama berulang kali → tidak mencatat atau mencari tahu penyebabnya.
Ini yang perlu dievaluasi.
Jadi, jangan menjadikan tujuan pekerjaan pertama sebagai “aku tidak boleh salah.”
Tujuan yang lebih realistis adalah:
“Aku harus belajar dari kesalahan supaya semakin jarang melakukan kesalahan yang sama.”
Jangan Berusaha Terlihat Pintar dengan Berpura-pura Mengerti
Salah satu respons yang sering dilakukan ketika takut salah adalah berpura-pura sudah memahami instruksi.
Atasan menjelaskan pekerjaan.
Kamu mengangguk.
“Siap, Pak/Bu.”
Padahal sebenarnya masih bingung.
Kemudian kamu mencoba mengerjakannya berdasarkan asumsi sendiri.
Ketika hasilnya salah, masalahnya justru bisa menjadi lebih besar.
Karena itu, bertanya ketika belum memahami instruksi justru bisa menjadi bagian dari sikap profesional.
Kamu tidak perlu bertanya tentang setiap hal kecil. Tetapi ketika informasi yang diberikan belum cukup untuk membuatmu yakin terhadap pekerjaan yang akan dilakukan, lebih baik melakukan klarifikasi.
Contohnya:
“Kak, saya mau memastikan supaya tidak salah. Untuk laporan ini berarti data yang digunakan dari file bulan sebelumnya, lalu formatnya mengikuti template yang tadi, benar ya?”
Pertanyaan tersebut jauh lebih baik daripada diam karena takut dianggap tidak tahu.
Cara Bertanya kepada Senior agar Tidak Terlihat Asal Bertanya
Takut bertanya sering menjadi masalah tersendiri bagi fresh graduate.
Sebenarnya bukan pertanyaannya yang menjadi masalah, tetapi bagaimana kamu menyampaikannya.
Sebelum bertanya, coba lakukan beberapa hal.
Cari tahu terlebih dahulu
Kalau pertanyaannya bisa ditemukan dari SOP, dokumen, atau catatan yang sudah diberikan, coba cari terlebih dahulu.
Bukan berarti kamu harus selalu mencari sendiri sampai berjam-jam.
Tujuannya adalah menunjukkan bahwa kamu sudah berusaha.
Jelaskan bagian yang belum kamu pahami
Hindari:
“Kak, ini gimana?”
Lebih baik:
“Kak, saya sudah coba mengikuti langkah di SOP sampai bagian ini, tapi saya masih bingung menentukan data yang harus digunakan. Untuk bagian ini apakah menggunakan data A atau B?”
Pertanyaan menjadi lebih mudah dijawab karena masalahnya jelas.
Jangan takut mengulang ketika memang belum paham
Kalau penjelasan pertama masih belum kamu mengerti, kamu boleh meminta penjelasan kembali.
Daripada mengangguk lalu melakukan kesalahan, lebih baik memastikan sejak awal.
Kalau Sudah Terlanjur Salah, Harus Bagaimana?
Kesalahan sudah terjadi.
Sekarang yang penting adalah bagaimana kamu menghadapinya.
Jangan menghilang atau berharap tidak ada yang menyadarinya.
Jika kesalahan tersebut berdampak pada pekerjaan, segera komunikasikan kepada orang yang berkaitan.
Kamu bisa menggunakan pola sederhana:
Jelaskan → akui → tawarkan solusi.
Contohnya:
“Kak, saya baru menyadari ada kesalahan di bagian data laporan yang saya kirim tadi. Saya sudah cek kembali dan bagian yang salah ada di kolom ini. Saya akan perbaiki dan kirim ulang setelah selesai.”
Kalimat seperti ini menunjukkan bahwa kamu menyadari masalah dan mengambil tanggung jawab.
Kalau belum tahu cara memperbaikinya, katakan dengan jujur:
“Saya sudah menemukan kesalahannya, tapi saya belum yakin cara memperbaikinya. Boleh minta arahan untuk langkah berikutnya?”
Tidak perlu membuat alasan panjang.
Fokus pada masalah dan solusinya.
Jangan Langsung Menyalahkan Diri Sendiri
Kesalahan pertama bisa terasa sangat memalukan.
Apalagi kalau kamu merasa semua orang memperhatikannya.
Namun, cobalah memisahkan antara fakta dan asumsi.
Faktanya:
“Saya salah memasukkan data.”
Asumsinya:
“Semua orang pasti menganggap saya bodoh.”
Fakta:
“Atasan meminta saya memperbaiki laporan.”
Asumsi:
“Atasan pasti kecewa dan menilai saya tidak kompeten.”
Belum tentu.
Feedback mengenai pekerjaan tidak selalu berarti penilaian terhadap dirimu sebagai pribadi.
Bisa saja atasan memang hanya ingin pekerjaan tersebut diperbaiki.
Karena itu, jangan mengubah satu kesalahan menjadi kesimpulan besar mengenai kemampuan diri sendiri.
Buat Catatan Kesalahan
Kalau kamu sering melakukan kesalahan yang sama, masalahnya mungkin bukan pada kemampuanmu mengingat, tetapi karena kamu belum memiliki sistem untuk mengingatnya.
Buat catatan sederhana.
Misalnya:
Kesalahan: Salah menggunakan template laporan.
Penyebab: Menggunakan file lama.
Solusi: Selalu cek folder template terbaru sebelum mulai mengerjakan.
Atau:
Kesalahan: Lupa mengirim update pekerjaan.
Penyebab: Tidak mencatat deadline.
Solusi: Masukkan deadline ke kalender atau task list.
Catatan seperti ini sederhana, tetapi bisa membantu proses adaptasi.
Seiring waktu, daftar kesalahan yang awalnya panjang akan berubah menjadi kumpulan pengalaman.
Minta Feedback, Jangan Hanya Menunggu Dimarahi
Fresh graduate terkadang baru mengetahui ada masalah ketika atasan sudah memberikan teguran.
Padahal, kamu bisa lebih proaktif meminta feedback.
Misalnya setelah menyelesaikan pekerjaan:
“Kak, untuk pekerjaan tadi apakah ada bagian yang perlu saya perbaiki untuk pekerjaan berikutnya?”
Pertanyaan sederhana tersebut bisa memberikan informasi yang sangat berguna.
Kamu bisa mengetahui:
- apa yang sudah benar;
- apa yang masih kurang;
- standar yang diharapkan;
- hal yang perlu diperhatikan;
- dan kebiasaan kerja yang perlu diperbaiki.
Feedback bukan berarti kamu gagal.
Justru, feedback membantu memperpendek proses belajar.
Jangan Membandingkan Kesalahanmu dengan Kelancaran Senior
Kamu mungkin melihat senior mengerjakan pekerjaan yang sama dalam waktu 30 menit.
Sementara kamu membutuhkan satu jam.
Kemudian kamu berpikir:
“Kok aku lambat banget?”
Ingat bahwa kamu sedang membandingkan proses belajarmu dengan hasil dari pengalaman orang lain.
Senior tersebut mungkin sudah mengerjakan pekerjaan yang sama puluhan atau ratusan kali.
Dia sudah tahu shortcut-nya.
Dia tahu bagian mana yang biasanya bermasalah.
Dia tahu informasi apa yang perlu ditanyakan sejak awal.
Sementara kamu baru pertama kali mengalaminya.
Jadi, jangan berharap memiliki kecepatan yang sama sejak awal.
Yang perlu kamu perhatikan adalah apakah kemampuanmu berkembang dari waktu ke waktu.
Kapan Kesalahan Mulai Menjadi Masalah?
Tidak semua kesalahan harus dianggap sepele.
Ada beberapa kondisi yang perlu kamu evaluasi.
Misalnya ketika:
- kesalahan yang sama terus berulang meskipun sudah mendapatkan arahan;
- kamu sengaja menyembunyikan kesalahan yang berpotensi merugikan pekerjaan;
- kamu tidak mau meminta bantuan ketika memang membutuhkannya;
- kamu mengabaikan SOP atau instruksi;
- kamu tidak melakukan evaluasi setelah melakukan kesalahan.
Dalam kondisi seperti ini, masalahnya bukan sekadar “anak baru memang sering salah”.
Ada kebiasaan kerja yang perlu diperbaiki.
Cara Mengurangi Rasa Takut Salah di Pekerjaan Pertama
Kamu tidak mungkin menghilangkan semua kemungkinan melakukan kesalahan.
Namun, kamu bisa mengurangi kesalahan dengan membangun kebiasaan sederhana.
Sebelum mengerjakan
Pastikan kamu memahami:
- apa yang harus dikerjakan;
- hasil akhir yang diharapkan;
- deadline;
- format yang digunakan;
- siapa yang perlu menerima hasilnya.
Saat mengerjakan
- Ikuti SOP atau contoh yang tersedia.
- Catat hal yang belum jelas.
- Jangan ragu melakukan klarifikasi.
- Periksa kembali pekerjaan sebelum dikirim.
Setelah selesai
- Cek kembali hasil pekerjaan.
- Simpan file dengan penamaan yang benar.
- Pastikan pekerjaan sudah dikirim kepada orang yang tepat.
- Catat feedback yang diberikan.
Kebiasaan sederhana ini dapat membuatmu lebih percaya diri karena kamu memiliki proses kerja yang jelas.
Tidak Perlu Menunggu Percaya Diri untuk Mulai
Banyak fresh graduate berpikir bahwa mereka harus merasa percaya diri terlebih dahulu sebelum bisa bekerja dengan baik.
Padahal sering kali justru sebaliknya.
Kepercayaan diri muncul setelah kamu mendapatkan pengalaman.
Awalnya kamu takut membuat laporan.
Kemudian kamu mencoba.
Pertama kali masih banyak bertanya.
Kedua kali mulai memahami alurnya.
Ketiga kali mulai lebih cepat.
Beberapa minggu kemudian kamu sudah tahu apa yang harus dilakukan.
Dari pengalaman-pengalaman kecil itulah rasa percaya diri terbentuk.
Jadi, jangan menunggu sampai kamu merasa 100 persen siap.
Mulailah dari hal yang bisa kamu lakukan sekarang.
Kesalahan Pertama Bukan Penentu Masa Depan Kariermu
Pekerjaan pertama memang bisa terasa menegangkan.
Kamu belum tahu budaya kantor, belum mengenal semua orang, belum hafal sistem, dan belum memahami semua ekspektasi.
Karena itu, sangat wajar kalau kamu masih bertanya dan sesekali melakukan kesalahan.
Yang perlu kamu bangun bukan kemampuan untuk tidak pernah salah, tetapi kemampuan untuk belajar ketika salah.
Kalau melakukan kesalahan, perbaiki.
Kalau tidak tahu, bertanya.
Kalau mendapat feedback, catat.
Kalau belum terbiasa, latihan.
Dan kalau pekerjaan terasa sulit, jangan langsung menyimpulkan bahwa kamu tidak mampu.
Kamu mungkin hanya sedang berada di tahap belajar.
Pekerjaan pertama bukan tentang menjadi sempurna.
Pekerjaan pertama adalah tentang membangun pengalaman.
Dan suatu hari nanti, bisa jadi kamu akan melihat fresh graduate lain yang sedang takut melakukan kesalahan—lalu menyadari bahwa kamu juga pernah berada di posisi mereka.
Kamu tidak harus langsung bisa semuanya. Yang penting, setiap hari kamu belajar menjadi sedikit lebih baik dari kemarin.