Sering Kena Tegur di Tempat Kerja, Harus Resign atau Bertahan?

Sering kena tegur atasan tentu bikin tidak nyaman. Kalau terjadi berkali-kali, wajar kalau mulai muncul pikiran, “Mending resign aja daripada nanti dipecat.”

Tapi, apakah sering ditegur berarti kamu memang harus resign?

Belum tentu.

Ada yang memang perlu mengevaluasi cara kerjanya. Ada juga yang sebenarnya sedang menghadapi atasan atau lingkungan kerja yang tidak cocok. Karena itu, sebelum buru-buru mengajukan resign, coba lihat dulu apa yang sebenarnya terjadi.

Sering Ditegur Bukan Berarti Harus Langsung Resign

Teguran di tempat kerja tidak selalu berarti kamu gagal menjalankan pekerjaan.

Bisa saja memang ada kesalahan yang perlu diperbaiki. Misalnya pekerjaan sering terlambat, ada prosedur yang tidak diikuti, atau hasil pekerjaan belum sesuai dengan standar yang sudah ditentukan.

Kalau memang begitu, teguran bisa menjadi masukan.

Yang perlu dilakukan bukan langsung mencari pekerjaan baru, tetapi melihat apakah setelah mendapat teguran kamu bisa memperbaiki keadaan.

Masalahnya berbeda kalau kamu sudah berusaha memperbaiki pekerjaan, tetapi tetap terus disalahkan untuk hal yang tidak jelas.

Atau, sejak awal sebenarnya kamu tidak pernah mendapatkan arahan dan ekspektasi yang jelas.

Dalam kondisi seperti itu, mungkin masalahnya bukan sekadar soal performa.

Coba Evaluasi Diri, Tapi Jangan Menyalahkan Diri Sendiri

Salah satu saran yang sering muncul ketika seseorang mengeluhkan pekerjaannya adalah “evaluasi diri dulu.”

Saran tersebut ada benarnya.

Sebelum menyalahkan atasan, coba tanyakan kepada diri sendiri:

  • Apa saya memang melakukan kesalahan yang sama berulang kali?
  • Apa pekerjaan saya sudah sesuai dengan yang diminta?
  • Apa saya sudah mengikuti prosedur yang berlaku?
  • Apa saya sudah mencoba memperbaiki kesalahan setelah mendapat teguran?

Kalau jawabannya memang ada yang perlu diperbaiki, tidak ada salahnya mengakuinya dan belajar dari situ.

Tetapi evaluasi diri bukan berarti semua kesalahan harus dianggap sebagai kesalahan kamu.

Kalau teguran muncul karena komunikasi yang buruk, instruksi yang berubah-ubah, atau ekspektasi yang tidak pernah jelas, masalahnya perlu dilihat dari kedua sisi.

Kalau Bingung, Coba Bicara dengan Atasan

Kadang masalah di tempat kerja menjadi semakin besar karena kedua pihak sama-sama tidak tahu apa yang sebenarnya diharapkan.

Kalau kamu merasa sering ditegur tetapi tidak memahami apa yang harus diperbaiki, coba minta waktu untuk berbicara.

Tidak perlu dimulai dengan nada defensif.

Kamu bisa mengatakan bahwa kamu ingin memahami ekspektasi pekerjaan dengan lebih jelas dan meminta masukan mengenai bagian yang perlu diperbaiki.

Dari pembicaraan tersebut, kamu bisa melihat apakah masalahnya masih bisa diselesaikan.

Kalau setelah dibicarakan ternyata ada perubahan dan komunikasi menjadi lebih baik, mungkin resign memang belum diperlukan.

Sebaliknya, kalau sudah mencoba berkomunikasi tetapi masalahnya terus berulang tanpa penyelesaian, kamu punya alasan yang lebih jelas untuk mulai mempertimbangkan tempat kerja lain.

Jangan Resign Hanya Karena Sedang Kesal

Ada perbedaan antara ingin resign dan sudah siap resign.

Saat baru saja dimarahi atau mendapat teguran, resign mungkin terasa seperti jalan keluar paling mudah.

Tapi keputusan tersebut bisa menjadi masalah baru kalau kamu belum punya pekerjaan berikutnya.

Terlebih kalau kamu masih membutuhkan penghasilan untuk kebutuhan sehari-hari.

Karena itu, kalau situasinya masih memungkinkan untuk ditahan, tidak ada salahnya tetap bekerja sambil mencari peluang lain.

Kamu bisa mulai dari memperbarui CV, melihat lowongan yang tersedia, dan mengirim lamaran ke tempat yang menurutmu lebih cocok.

Dengan begitu, kamu tidak perlu memilih antara “bertahan selamanya” atau “resign sekarang juga”.

Kamu bisa menyiapkan pilihan terlebih dahulu.

Mencari Kerja Sambil Masih Bekerja Itu Wajar

Kalau kamu sudah merasa tempat kerja sekarang tidak lagi cocok, mencari pekerjaan baru bukan berarti kamu harus langsung meninggalkan pekerjaan yang sekarang.

Justru cara ini bisa membuat keputusanmu lebih tenang.

Kamu masih memiliki pemasukan sambil mencari pekerjaan yang sesuai dengan pengalaman, kemampuan, lokasi, dan kebutuhanmu.

Untuk tenaga kesehatan, kamu bisa mulai melihat peluang baru melalui Hirenakes.com, terutama kalau sedang mencari lowongan di bidang kesehatan.

Tidak perlu menunggu sampai benar-benar tidak tahan untuk mulai mencari.

Kadang yang kamu butuhkan bukan keputusan untuk resign hari ini, tetapi pilihan untuk pindah ketika waktunya sudah tepat.

Bagaimana Kalau Lebih Baik Menunggu Dipecat?

Ini juga sering menjadi perdebatan.

Ada yang berpikir lebih baik menunggu PHK karena mungkin ada hak yang bisa diterima daripada resign sendiri.

Tapi sengaja bertahan sampai dipecat bukan berarti selalu menjadi pilihan yang lebih baik.

Hak pekerja ketika hubungan kerja berakhir bisa bergantung pada status pekerjaan, perjanjian kerja, serta alasan dan proses berakhirnya hubungan kerja.

Karyawan tetap, pekerja kontrak, dan pekerja outsourcing juga tidak bisa otomatis disamakan.

Jadi, jangan membuat keputusan hanya berdasarkan komentar seperti “mending dipecat biar dapat pesangon.”

Kalau kamu sedang mempertimbangkan resign atau menghadapi kemungkinan PHK, pahami dulu kondisi hubungan kerjamu dan hak yang berlaku untuk situasimu.

Yang tidak kalah penting, jangan sengaja membuat kinerja memburuk hanya supaya perusahaan yang mengakhiri hubungan kerja.

Jadi, Kapan Sebaiknya Mulai Pergi?

Tidak ada satu jawaban yang berlaku untuk semua orang.

Kalau kamu sering ditegur karena memang ada kesalahan dalam pekerjaan, coba perbaiki dulu.

Kalau kamu tidak memahami apa yang salah, coba komunikasikan dengan atasan.

Kalau setelah diperbaiki dan dibicarakan keadaan justru tetap sama, kamu bisa mulai mempertimbangkan pekerjaan lain.

Dan kalau kamu sudah yakin ingin pindah, usahakan jangan keluar tanpa persiapan jika kondisi keuangan belum memungkinkan.

Cari pilihan terlebih dahulu.

Kamu bisa tetap bekerja sambil mencari lowongan, mengikuti proses rekrutmen, dan membandingkan kesempatan yang ada.

Dengan begitu, ketika akhirnya memutuskan resign, kamu tidak mengambil keputusan karena sedang terdesak.

Tidak Harus Bertahan, Tidak Harus Juga Langsung Resign

Sering kena tegur memang bisa menjadi tanda bahwa ada sesuatu yang perlu diperhatikan.

Mungkin kamu perlu memperbaiki cara kerja.

Mungkin komunikasi dengan atasan perlu diperbaiki.

Atau mungkin memang sudah waktunya mencari lingkungan kerja yang lebih sesuai.

Yang penting, jangan mengambil keputusan hanya karena sedang emosi dan jangan pula merasa harus bertahan hanya karena takut tidak mendapatkan pekerjaan baru.

Kalau masih memungkinkan, tetap bekerja sambil mencari pilihan lain.

Karena pada akhirnya, pertanyaannya bukan sekadar “resign atau dipecat?”

Pertanyaan yang lebih penting adalah:

“Apa langkah berikutnya yang paling aman dan masuk akal untuk saya?”

Kalau jawabannya adalah mencari pekerjaan baru, kamu bisa mulai dari sekarang tanpa harus langsung meninggalkan pekerjaan yang sedang kamu jalani.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top