Sulit Menjelaskan Skill dan Pengalaman Saat Interview? Ini yang Bisa Dilakukan

Punya pengalaman praktik, organisasi, pekerjaan, atau berbagai skill yang sebenarnya cukup baik, tetapi ketika interviewer meminta Anda menjelaskannya, jawabannya justru pendek.

“Bisa mengoperasikan komputer?”

“Bisa.”

“Apa pengalaman Anda?”

“Pernah waktu praktik.”

Selesai.

Padahal sebenarnya ada banyak hal yang bisa diceritakan.

Kondisi seperti ini sering membuat kandidat merasa bahwa dirinya kurang kompeten. Padahal, bisa jadi masalahnya bukan pada kemampuan yang dimiliki, melainkan belum terbiasa menjelaskan kemampuan tersebut kepada orang lain.

Kenapa Skill yang Dimiliki Sulit Dijelaskan Saat Interview?

Saat bekerja atau praktik, seseorang biasanya langsung melakukan tugasnya.

Ia tidak perlu terus-menerus menjelaskan kepada orang lain bahwa dirinya teliti, mampu bekerja dalam tim, atau bisa menangani situasi tertentu.

Interview berbeda.

Kandidat diminta mengubah pengalaman tersebut menjadi sebuah penjelasan yang bisa dipahami interviewer.

Inilah yang terkadang menjadi kesulitan.

Anda mungkin tahu bahwa Anda memiliki kemampuan tertentu, tetapi belum tahu contoh apa yang harus diceritakan dan bagaimana menyampaikannya.

Jangan Hanya Menyebut Skill

Salah satu kesalahan yang sering dilakukan adalah hanya menyebutkan daftar kemampuan.

Contohnya:

“Saya bisa bekerja dalam tim, komunikatif, teliti, dan bertanggung jawab.”

Pernyataan tersebut tidak salah.

Namun interviewer mungkin masih ingin mengetahui:

“Contohnya seperti apa?”

Karena itu, usahakan setiap skill penting memiliki contoh pengalaman yang bisa mendukungnya.

Misalnya daripada hanya mengatakan:

“Saya bisa bekerja dalam tim.”

Lebih kuat jika Anda dapat menjelaskan pengalaman ketika harus bekerja bersama teman atau rekan untuk menyelesaikan suatu tugas.

Gunakan Pengalaman sebagai Bukti

Anda tidak harus memiliki pengalaman kerja formal untuk memberikan contoh.

Bagi fresh graduate, pengalaman bisa berasal dari:

  • praktik atau PKL;
  • magang;
  • organisasi;
  • kepanitiaan;
  • project kuliah;
  • kegiatan sukarela;
  • atau pengalaman lain yang memang relevan.

Yang penting bukan seberapa keren kegiatannya.

Yang lebih penting adalah apa yang Anda lakukan di dalam kegiatan tersebut.

Misalnya pernah menjadi panitia acara.

Jangan berhenti pada:

“Saya pernah menjadi panitia seminar.”

Coba identifikasi peran Anda.

Apakah mengatur peserta?

Menghubungi pembicara?

Mengelola data?

Membuat jadwal?

Menyelesaikan masalah ketika acara berlangsung?

Bagian tersebut jauh lebih berguna untuk menunjukkan kemampuan.

Gunakan Pola Sederhana Saat Menjawab

Jika sulit menjelaskan pengalaman, gunakan pola sederhana:

Situasi → Peran → Tindakan → Hasil

Contohnya:

“Saat praktik, saya pernah menemukan kondisi di mana pekerjaan administrasi harus diselesaikan dalam waktu terbatas. Saya bertugas membantu memeriksa dan memasukkan data. Agar tidak terjadi kesalahan, saya mengelompokkan data terlebih dahulu kemudian melakukan pengecekan ulang sebelum diserahkan. Dengan cara tersebut, pekerjaan bisa diselesaikan sesuai waktu yang ditentukan.”

Jawaban seperti ini membuat interviewer tidak hanya mendengar bahwa Anda “teliti”.

Mereka mendapatkan gambaran bagaimana ketelitian tersebut diterapkan.

Tidak Perlu Membuat Cerita yang Terlalu Hebat

Jangan merasa harus memiliki pengalaman luar biasa agar bisa memberikan jawaban yang bagus.

Pengalaman sederhana pun bisa menjadi bahan jawaban selama relevan.

Misalnya Anda pernah menghadapi tugas yang banyak saat praktik.

Anda bisa menjelaskan bagaimana membagi prioritas, berkomunikasi dengan teman, atau memastikan tugas tetap selesai.

Justru pengalaman yang nyata biasanya lebih mudah dijelaskan ketika interviewer memberikan pertanyaan lanjutan.

Kalau Pengalaman Masih Sedikit, Bagaimana?

Fresh graduate tidak perlu memaksakan diri seolah-olah sudah memiliki pengalaman profesional bertahun-tahun.

Jika pengalaman kerja belum ada, gunakan pengalaman yang memang pernah dijalani.

Misalnya:

“Saya belum memiliki pengalaman kerja formal, tetapi saat praktik saya pernah…”

Kemudian lanjutkan dengan pengalaman yang relevan.

Cara ini lebih baik daripada memberikan jawaban yang terlalu umum seperti:

“Saya cepat belajar dan siap bekerja keras.”

Pernyataan tersebut boleh disampaikan, tetapi akan lebih kuat jika disertai contoh.

Latihan Menjelaskan, Bukan Menghafalkan

Jika masalah Anda adalah sulit menjelaskan pengalaman, latihan yang dilakukan sebaiknya bukan menghafalkan jawaban.

Pilih beberapa pengalaman yang pernah Anda jalani.

Kemudian coba jawab:

Apa yang terjadi?

Apa peran saya?

Apa yang saya lakukan?

Apa hasilnya?

Apa yang saya pelajari?

Lakukan dengan bahasa sendiri.

Tidak perlu menggunakan kalimat yang terlalu formal.

Tujuannya adalah membuat Anda terbiasa mengubah pengalaman menjadi cerita yang runtut.

Bagaimana Jika Jawaban Terlalu Singkat?

Jawaban singkat sebenarnya tidak selalu buruk.

Namun jika setiap jawaban hanya satu atau dua kalimat dan tidak memberikan contoh, interviewer mungkin kesulitan memahami kemampuan Anda.

Setelah memberikan jawaban utama, coba tanyakan pada diri sendiri:

“Apakah saya sudah memberikan contoh?”

Jika belum, tambahkan pengalaman yang relevan.

Misalnya:

“Saya cukup teliti dalam bekerja. Contohnya, saat praktik saya…”

Dengan begitu, jawaban tetap sederhana tetapi memiliki bukti.

Bagaimana Jika Justru Terlalu Panjang?

Sebaliknya, jangan menceritakan seluruh pengalaman dari awal sampai akhir jika tidak semuanya relevan.

Fokus pada bagian yang berhubungan dengan pertanyaan.

Jika interviewer bertanya tentang kemampuan bekerja dalam tim, ceritakan bagian pengalaman yang menunjukkan kerja sama tersebut.

Tidak perlu menceritakan seluruh kronologi kegiatan.

Tujuan jawaban adalah menjawab pertanyaan, bukan menceritakan semua pengalaman yang pernah dimiliki.

Skill Bagus Tetap Perlu Dikomunikasikan

Memiliki kemampuan kerja yang baik tentu penting.

Tetapi dalam proses rekrutmen, kemampuan tersebut perlu dapat dipahami oleh pihak yang melakukan penilaian.

Karena itu, jika Anda merasa memiliki skill tetapi selalu kesulitan menunjukkannya ketika interview, masalahnya mungkin bukan semata-mata pada skill.

Bisa jadi Anda perlu melatih cara mengomunikasikan kompetensi tersebut.

Hal ini merupakan bagian dari alasan mengapa seseorang bisa memiliki kemampuan kerja yang baik tetapi tetap kesulitan ketika interview. Penjelasan lebih lengkap mengenai kondisi tersebut dapat dibaca di punya skill kerja yang bagus tapi tidak bisa interview, harus bagaimana.

Kesimpulan

Sulit menjelaskan skill dan pengalaman saat interview bukan berarti Anda tidak memiliki kemampuan.

Masalahnya bisa muncul karena Anda belum terbiasa mengubah pengalaman menjadi jawaban yang jelas.

Mulailah dengan mengenali pengalaman yang benar-benar pernah dijalani. Kemudian hubungkan pengalaman tersebut dengan skill yang ingin ditunjukkan.

Gunakan pola sederhana seperti situasi, peran, tindakan, dan hasil.

Tidak perlu menghafalkan jawaban atau membuat pengalaman terdengar luar biasa.

Yang penting adalah interviewer dapat memahami kemampuan yang memang Anda miliki melalui pengalaman yang nyata.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top