Tidak semua orang yang punya kemampuan kerja bagus juga pandai menghadapi interview.
Ada orang yang ketika bekerja mampu menyelesaikan tugas dengan baik, teliti, cepat belajar, dan bisa bekerja sama dengan tim. Namun ketika berhadapan dengan interviewer, tiba-tiba gugup, blank, atau kesulitan menjelaskan kemampuan yang sebenarnya dimiliki.
Kalau mengalami kondisi seperti ini, bukan berarti Anda tidak cocok bekerja.
Kemampuan bekerja dan kemampuan menjalani interview adalah dua hal yang berbeda.
Namun, interview tetap menjadi bagian dari proses rekrutmen. Karena itu, yang perlu dilakukan bukan menghindari interview, melainkan belajar agar kemampuan yang sudah dimiliki dapat terlihat saat proses tersebut.
Kenapa Orang yang Bisa Kerja Bisa Kesulitan Saat Interview?
Interview membuat seseorang harus menjelaskan dirinya dalam waktu yang terbatas dan dalam situasi yang mungkin terasa menegangkan.
Beberapa orang memang membutuhkan waktu lebih lama untuk menyusun jawaban secara spontan.
Ada juga yang sebenarnya mengetahui jawabannya, tetapi sulit mengungkapkannya ketika ditanya.
Contohnya, seseorang mungkin sudah terbiasa menangani tugas tertentu saat bekerja atau praktik. Namun ketika interviewer bertanya:
“Ceritakan pengalaman Anda ketika menghadapi masalah dalam pekerjaan.”
Jawabannya justru:
“Pernah sih, tapi saya agak lupa.”
Padahal pengalaman tersebut sebenarnya ada.
Masalahnya bukan selalu pada kemampuan kerja, tetapi pada kemampuan mengomunikasikan pengalaman tersebut dalam situasi interview.
Interview Bukan Sekadar Menguji Skill
Ketika interview, perusahaan tidak hanya ingin mengetahui apakah kandidat memiliki skill teknis.
Interviewer juga dapat mencoba memahami:
- bagaimana kandidat berpikir;
- bagaimana menjelaskan pengalaman;
- bagaimana menghadapi masalah;
- bagaimana berkomunikasi;
- bagaimana menerima pertanyaan atau masukan;
- dan apakah pengalaman kandidat sesuai dengan kebutuhan posisi.
Karena itu, seseorang bisa saja memiliki skill teknis yang baik, tetapi masih kesulitan menunjukkan kualitas tersebut ketika menjawab pertanyaan.
Inilah salah satu alasan mengapa punya skill saja belum cukup jika kandidat tidak mampu menjelaskan atau menunjukkan relevansinya dengan pekerjaan yang dilamar.
Jangan Berusaha Menjadi “Jago Ngomong”
Kesalahan yang sering terjadi adalah menganggap solusi dari masalah interview adalah harus menjadi orang yang sangat pandai berbicara.
Padahal, interview bukan lomba siapa yang paling banyak bicara.
Jawaban yang panjang belum tentu lebih baik.
Yang lebih penting adalah jawaban yang jelas, relevan, dan sesuai dengan pengalaman sebenarnya.
Jika Anda termasuk orang yang tidak terlalu banyak bicara, tidak perlu memaksakan diri menjadi sangat ekspresif.
Latih kemampuan untuk menyampaikan inti jawaban dengan runtut.
Mulai dari Mengenali Skill yang Memang Anda Miliki
Sebelum belajar menjawab pertanyaan interview, coba identifikasi terlebih dahulu kemampuan yang benar-benar Anda miliki.
Misalnya:
- mampu melakukan tugas teknis tertentu;
- terbiasa bekerja dengan prosedur;
- mampu berkomunikasi dengan pasien;
- mampu bekerja dalam tim;
- mampu mengelola administrasi;
- mampu menggunakan aplikasi tertentu;
- atau mampu menyelesaikan masalah tertentu.
Setelah itu, cari pengalaman yang bisa menjadi bukti.
Jangan berhenti pada:
“Saya orangnya teliti.”
Coba pikirkan:
“Kapan saya pernah menunjukkan ketelitian tersebut?”
Misalnya ketika mengerjakan dokumentasi, mengolah data, melakukan pemeriksaan, atau menyelesaikan tugas tertentu.
Dengan cara ini, Anda memiliki bahan yang nyata untuk diceritakan ketika interview.
Jangan Menghafalkan Jawaban
Menghafalkan jawaban interview secara kata per kata justru bisa membuat kandidat semakin mudah blank.
Ketika interviewer mengubah sedikit bentuk pertanyaan, jawaban yang sudah dihafalkan mungkin tidak lagi cocok.
Lebih baik pahami poin yang ingin disampaikan.
Misalnya untuk pertanyaan tentang pengalaman menghadapi masalah, pahami empat hal:
Situasinya apa?
Tugas Anda apa?
Apa yang Anda lakukan?
Bagaimana hasilnya?
Dengan memahami alurnya, Anda dapat menjawab menggunakan bahasa sendiri tanpa harus menghafalkan kalimat.
Latih Cara Menjelaskan Pengalaman
Bagi orang yang sebenarnya memiliki skill tetapi kesulitan interview, latihan menjelaskan pengalaman sering kali lebih bermanfaat daripada sekadar membaca daftar pertanyaan.
Ambil beberapa pengalaman yang pernah Anda jalani.
Misalnya:
Pernah menghadapi pasien yang sulit diajak berkomunikasi.
Kemudian latih menjelaskannya secara sederhana:
“Saat praktik, saya pernah menghadapi pasien yang cukup sulit diajak berkomunikasi. Saya mencoba memahami kondisi pasien terlebih dahulu, kemudian menyesuaikan cara komunikasi agar informasi dapat disampaikan dengan lebih mudah. Dari situ saya belajar bahwa cara berkomunikasi perlu disesuaikan dengan kondisi orang yang dihadapi.”
Tidak harus sempurna.
Yang penting interviewer dapat memahami apa yang terjadi, apa yang Anda lakukan, dan apa yang Anda pelajari.
Kalau Sering Blank, Jangan Langsung Menjawab
Ketika mendapat pertanyaan dan pikiran tiba-tiba kosong, Anda tidak harus langsung memberikan jawaban.
Ambil beberapa detik untuk berpikir.
Anda juga bisa meminta interviewer mengulangi atau memperjelas pertanyaan jika memang belum memahami maksudnya.
Lebih baik memberikan jawaban yang terstruktur setelah berpikir sebentar daripada terburu-buru menjawab tetapi tidak sesuai pertanyaan.
Latihan dengan Suara, Bukan Hanya di Dalam Kepala
Banyak kandidat merasa sudah berlatih karena sudah memikirkan jawaban dalam hati.
Masalahnya, interview membutuhkan kemampuan mengucapkan jawaban secara langsung.
Karena itu, latihan sebaiknya dilakukan dengan berbicara.
Anda bisa:
- menjawab pertanyaan di depan kamera;
- berlatih dengan teman;
- meminta orang lain memberikan pertanyaan secara spontan;
- atau merekam suara sendiri.
Setelah itu, perhatikan apakah jawaban terlalu panjang, terlalu singkat, tidak menjawab pertanyaan, atau terlalu banyak menggunakan kata pengisi seperti “eee”, “anu”, dan “mungkin”.
Tujuannya bukan membuat cara bicara sempurna, tetapi membuat Anda lebih terbiasa mengungkapkan pikiran secara lisan.
Evaluasi Setelah Gagal Interview
Jika sudah beberapa kali gagal interview, jangan hanya menyimpulkan:
“Saya memang tidak bisa interview.”
Coba cari polanya.
Apakah selalu gugup ketika ditanya tentang diri sendiri?
Apakah kesulitan ketika diminta menceritakan pengalaman?
Apakah sering tidak memahami pertanyaan?
Apakah jawaban terlalu pendek?
Atau sebenarnya jawaban sudah baik, tetapi kurang mampu menjelaskan pengalaman secara konkret?
Setelah menemukan masalahnya, latih bagian tersebut secara khusus.
Evaluasi yang spesifik lebih berguna daripada sekadar menyalahkan diri sendiri.
Skill Kerja Tetap Harus Dikembangkan
Kesulitan interview bukan berarti kemampuan kerja sudah pasti cukup.
Interview hanyalah salah satu bagian dari proses seleksi.
Tetap evaluasi skill teknis, pengetahuan, pengalaman, dan kesiapan kerja.
Jika ternyata ada kemampuan yang memang belum dikuasai, gunakan hasil interview sebagai masukan untuk belajar.
Jadi, jangan menggunakan alasan “saya sebenarnya bisa kerja” untuk menolak evaluasi terhadap kemampuan diri.
Yang perlu dilakukan adalah membedakan:
“Saya punya kemampuan, tetapi belum bisa menunjukkannya dengan baik.”
dengan:
“Saya belum memiliki kemampuan yang dibutuhkan.”
Keduanya membutuhkan solusi yang berbeda.
Tujuan Belajar Interview Bukan Berpura-pura
Belajar interview bukan berarti belajar membuat diri terlihat hebat atau memberikan jawaban yang menurut Anda ingin didengar HR.
Tujuannya adalah membantu interviewer memahami kemampuan, pengalaman, dan cara berpikir Anda dengan lebih jelas.
Karena itu, tetap gunakan pengalaman yang sebenarnya.
Tidak perlu mengarang pencapaian, melebih-lebihkan kemampuan, atau menghafalkan jawaban orang lain.
Kemampuan yang nyata akan lebih mudah dipertahankan ketika ditanya lebih lanjut.
Jadi, Kalau Punya Skill tapi Tidak Bisa Interview, Harus Bagaimana?
Jangan langsung menganggap diri tidak layak bekerja hanya karena beberapa kali gagal interview.
Kenali kemampuan yang sudah dimiliki, cari pengalaman yang membuktikannya, lalu latih cara menjelaskan pengalaman tersebut secara sederhana dan terstruktur.
Jika masalahnya adalah gugup, latih menghadapi situasi interview.
Jika masalahnya sulit menjawab secara spontan, latihan dengan pertanyaan acak.
Jika masalahnya sulit menjelaskan pengalaman, latih menceritakan pengalaman secara runtut.
Dan jika ternyata ada kekurangan dalam skill atau pengetahuan, gunakan hasil interview sebagai bahan untuk berkembang.
Interview memang penting, tetapi interview bukan satu-satunya gambaran tentang kemampuan seseorang.
Namun selama interview masih menjadi bagian dari proses rekrutmen, kemampuan untuk mengomunikasikan kompetensi tetap perlu dilatih.
Tujuannya bukan menjadi orang yang paling pintar berbicara, melainkan memastikan skill yang memang Anda miliki tidak berhenti sebagai kemampuan yang hanya Anda sendiri yang tahu.
Pingback: Kenapa Saat Interview Tiba-Tiba Lupa Jawaban Padahal Sudah Belajar? - Hirenakes.com
Pingback: Sulit Menjelaskan Skill dan Pengalaman Saat Interview? Ini yang Bisa Dilakukan - Hirenakes.com
Pingback: Takut Interview Kerja Padahal Punya Skill? Ini yang Perlu Dilakukan - Hirenakes.com