Salah satu pertanyaan interview perawat yang cukup membuat kandidat gugup adalah:
“Kalau kamu melakukan kesalahan kepada pasien, apa yang akan kamu lakukan?”
Bagi fresh graduate, pertanyaan ini bisa terasa seperti jebakan.
Kalau menjawab “saya tidak akan melakukan kesalahan”, terdengar tidak realistis. Kalau mengakui akan melakukan kesalahan, takut dianggap ceroboh.
Padahal, kemungkinan besar interviewer tidak sedang mencari kandidat yang mengaku tidak pernah salah.
Pertanyaan tersebut justru dapat digunakan untuk melihat bagaimana sikap kandidat ketika menghadapi kesalahan atau potensi risiko dalam pelayanan pasien.
Apakah kandidat akan menutupinya?
Apakah akan mencoba menyelesaikannya sendiri?
Atau apakah kandidat memahami pentingnya keselamatan pasien, komunikasi, pelaporan, dan mengikuti prosedur yang berlaku?
Jika Anda sedang mempersiapkan interview secara keseluruhan, Anda juga dapat membaca panduan interview kerja perawat di rumah sakit untuk memahami berbagai pertanyaan situasional lain yang mungkin muncul saat proses rekrutmen.
Kenapa HRD Menanyakan Kesalahan kepada Pasien?
Pertanyaan ini cukup berbeda dengan pertanyaan:
“Apa kelebihan dan kekurangan kamu?”
Karena interviewer memberikan sebuah situasi yang memiliki risiko dan meminta kandidat menjelaskan tindakannya.
Dalam konteks pelayanan kesehatan, keselamatan pasien merupakan hal yang sangat penting.
Kementerian Kesehatan menjelaskan bahwa keselamatan pasien mencakup upaya untuk mengidentifikasi dan mengelola risiko, melaporkan serta menganalisis insiden, belajar dari kejadian, dan melakukan tindak lanjut untuk mencegah kejadian serupa.
Karena itu, pertanyaan seperti:
“Kalau melakukan kesalahan kepada pasien, apa yang kamu lakukan?”
dapat membantu interviewer memahami apakah kandidat memiliki pola pikir yang berorientasi pada keselamatan.
Beberapa hal yang mungkin ingin dilihat antara lain:
- kejujuran,
- tanggung jawab,
- kesadaran terhadap risiko,
- kemampuan berkomunikasi,
- kemauan meminta bantuan,
- pemahaman terhadap SOP,
- kemampuan mengenali batas kompetensi,
- dan kemauan belajar dari kesalahan.
Tentu, tidak ada cara untuk memastikan bahwa semua HRD menggunakan pertanyaan ini dengan tujuan yang persis sama.
Namun, kandidat sebaiknya mempersiapkan jawaban dari sisi prinsip profesional, bukan sekadar mencari kalimat yang dianggap paling disukai interviewer.
Apakah Harus Menjawab “Saya Akan Mengakui Kesalahan”?
Mengakui kesalahan memang merupakan bagian penting dari sikap profesional.
Tetapi jawaban:
“Saya akan mengakui kesalahan.”
masih terlalu singkat.
Interviewer mungkin kemudian bertanya:
“Setelah mengakui, lalu apa?”
Nah, di sinilah pentingnya memahami alur berpikir.
Jika menyadari adanya kesalahan atau potensi risiko terhadap pasien, prioritasnya bukan sekadar mengakui bahwa Anda salah.
Yang lebih penting adalah memastikan keselamatan pasien dan mengikuti prosedur yang berlaku.
Jawaban yang Sebaiknya Dihindari: “Saya Akan Menutupinya”
Ini mungkin terdengar ekstrem, tetapi kandidat perlu memahami bahwa menyembunyikan kesalahan bukanlah pendekatan yang tepat.
Misalnya:
“Saya akan mencoba memperbaikinya sendiri supaya tidak ada yang tahu.”
Masalahnya adalah tindakan tersebut dapat membuat pihak yang bertanggung jawab tidak mengetahui adanya risiko atau kejadian yang perlu ditindaklanjuti.
Dalam sistem keselamatan pasien, pelaporan dan pembelajaran dari insiden merupakan bagian penting dari upaya mencegah kejadian berulang.
Jadi, jangan menjadikan:
“Bagaimana supaya saya tidak terlihat salah?”
sebagai fokus utama.
Lebih baik berpikir:
“Bagaimana memastikan pasien tetap aman dan masalah ini ditangani melalui prosedur yang tepat?”
Lalu, Apa yang Harus Dilakukan Jika Menyadari Kesalahan?
Dalam interview, Anda tidak perlu memberikan instruksi klinis spesifik karena penanganan setiap kejadian dapat berbeda.
Jenis kesalahan, kondisi pasien, tingkat risiko, dan kebijakan rumah sakit akan menentukan langkah yang tepat.
Namun, secara umum, pola berpikir yang dapat Anda tunjukkan adalah:
1. Prioritaskan keselamatan pasien
Jika ada risiko terhadap pasien, keselamatan pasien harus menjadi prioritas.
2. Segera komunikasikan kepada pihak yang bertanggung jawab
Jangan menunggu masalah menjadi lebih besar.
3. Ikuti SOP dan alur yang berlaku
Setiap rumah sakit dapat memiliki prosedur internal yang berbeda.
4. Lakukan pelaporan atau dokumentasi sesuai ketentuan
Jika kejadian termasuk insiden yang harus dilaporkan, ikuti mekanisme pelaporan yang berlaku.
5. Evaluasi dan belajar dari kejadian
Tujuannya bukan sekadar mencari siapa yang salah, tetapi membantu mencegah kejadian serupa.
Kementerian Kesehatan menempatkan pelaporan dan analisis insiden serta pembelajaran dari insiden sebagai bagian dari keselamatan pasien.
Contoh Jawaban Interview yang Bisa Digunakan
Jika interviewer bertanya:
“Kalau kamu melakukan kesalahan kepada pasien, apa yang akan kamu lakukan?”
Anda bisa menjawab:
“Jika saya menyadari melakukan kesalahan yang berpotensi berdampak pada pasien, saya akan memprioritaskan keselamatan pasien terlebih dahulu. Saya akan segera mengomunikasikan kejadian tersebut kepada penanggung jawab atau atasan sesuai prosedur, kemudian mengikuti SOP dan kewenangan saya dalam menangani situasi tersebut. Jika diperlukan, saya akan melakukan pelaporan dan dokumentasi sesuai ketentuan, lalu mengevaluasi penyebabnya agar kejadian serupa dapat dicegah.”
Jawaban ini menunjukkan pola berpikir yang cukup lengkap tanpa perlu mengarang tindakan klinis tertentu.
Kenapa Jangan Mengatakan “Saya Akan Menangani Sendiri”?
Kandidat terkadang ingin terlihat bertanggung jawab.
Akhirnya menjawab:
“Saya akan memperbaikinya sendiri terlebih dahulu.”
Sekilas memang terdengar mandiri.
Namun, dalam konteks keselamatan pasien, mandiri tidak selalu berarti menangani semuanya sendiri.
Jika suatu situasi berada di luar kompetensi atau kewenangan Anda, meminta bantuan justru merupakan tindakan profesional.
Peraturan mengenai praktik keperawatan menempatkan pelayanan sesuai kompetensi, standar profesi, standar pelayanan, SOP, dan ketentuan yang berlaku sebagai bagian penting dalam praktik keperawatan.
Jadi, jawaban:
“Saya akan meminta bantuan atau arahan sesuai kondisi dan kewenangan saya.”
bukan menunjukkan kelemahan.
Justru dapat menunjukkan bahwa Anda memahami batas kompetensi.
Jangan Mengarang Tindakan Klinis Saat Interview
Ini juga penting.
Misalnya interviewer hanya bertanya:
“Kalau melakukan kesalahan kepada pasien, apa yang akan kamu lakukan?”
Jangan langsung memberikan jawaban teknis yang sangat spesifik jika Anda tidak mengetahui detail kasusnya.
Contohnya, jangan mengatakan:
“Saya akan melakukan tindakan X, kemudian memberikan Y.”
Padahal interviewer belum menjelaskan:
- jenis kesalahan,
- kondisi pasien,
- tingkat risikonya,
- dan konteks klinisnya.
Tindakan terhadap suatu kejadian harus mengikuti kondisi pasien, kompetensi tenaga kesehatan, instruksi yang berwenang, serta SOP yang berlaku.
Untuk interview, lebih aman menunjukkan prinsip pengambilan keputusan.
Bagaimana Jika Kesalahannya Kecil?
Interviewer mungkin saja bertanya:
“Kalau kesalahannya kecil bagaimana?”
Jangan langsung menyimpulkan bahwa kesalahan kecil berarti tidak perlu dilaporkan.
Kandidat sebaiknya tidak menentukan sendiri apakah suatu kejadian “cukup kecil untuk disembunyikan”.
Lebih baik menjawab:
“Saya akan tetap melihat kondisi dan mengikuti SOP serta mekanisme pelaporan yang berlaku. Jika saya ragu apakah suatu kejadian perlu dilaporkan atau tidak, saya akan meminta arahan dari pihak yang bertanggung jawab.”
Ini menunjukkan kehati-hatian.
Bagaimana Jika Kesalahan Belum Berdampak pada Pasien?
Misalnya Anda menyadari ada kesalahan sebelum sampai menimbulkan dampak kepada pasien.
Jangan berpikir:
“Karena pasien belum terdampak, berarti tidak perlu bilang siapa-siapa.”
Dalam sistem keselamatan pasien, kejadian yang hampir terjadi atau kondisi yang berpotensi menimbulkan risiko juga dapat menjadi bagian dari proses pembelajaran dan perbaikan sistem.
Karena itu, saat interview, Anda dapat menunjukkan bahwa Anda akan:
segera mengomunikasikan kejadian tersebut dan mengikuti mekanisme yang berlaku.
Tujuannya bukan membuat diri sendiri terlihat buruk.
Tujuannya adalah memastikan risiko dapat ditangani dan menjadi bahan pembelajaran.
Bagaimana Jika Takut Dimarahi Atasan?
Ini merupakan salah satu alasan seseorang mungkin tergoda untuk menutupi kesalahan.
Tetapi jawaban interview sebaiknya menunjukkan bahwa keselamatan pasien lebih penting daripada rasa takut mendapatkan teguran.
Anda dapat menjawab:
“Saya tetap akan menyampaikan kejadian tersebut kepada pihak yang bertanggung jawab. Saya memahami bahwa mungkin ada evaluasi terhadap tindakan saya, tetapi menurut saya keselamatan pasien harus menjadi prioritas dan kejadian tersebut perlu ditangani sesuai prosedur.”
Jawaban seperti ini menunjukkan tanggung jawab.
Bagaimana Jika Kesalahan Dilakukan oleh Teman?
Pertanyaan dapat berkembang menjadi:
“Kalau kamu melihat teman melakukan kesalahan terhadap pasien, bagaimana?”
Prinsipnya tetap sama.
Jangan fokus pada:
“Saya akan melindungi teman.”
atau:
“Saya akan langsung menyalahkan teman.”
Lebih baik:
“Saya akan memastikan situasinya ditangani sesuai prioritas keselamatan pasien dan mengomunikasikannya kepada pihak yang bertanggung jawab sesuai prosedur.”
Dalam pelayanan kesehatan, masalah keselamatan tidak seharusnya berubah menjadi persoalan:
“Kamu teman saya atau bukan?”
Yang menjadi prioritas adalah pasien dan proses penanganan yang benar.
Jangan Menjawab “Saya Tidak Pernah Melakukan Kesalahan”
Ini salah satu jawaban yang sebaiknya dihindari.
Misalnya:
“Saya tidak akan melakukan kesalahan karena saya selalu teliti.”
Menjadi teliti tentu bagus.
Tetapi pertanyaan interviewer bukan hanya mengenai apakah Anda teliti.
Mereka sedang memberikan skenario hipotetis untuk mengetahui bagaimana Anda bertindak jika sesuatu yang tidak diinginkan terjadi.
Jawaban:
“Saya tidak pernah salah.”
justru tidak menjawab pertanyaannya.
Lebih baik:
“Saya akan berusaha bekerja sesuai SOP dan melakukan pengecekan dengan teliti. Namun jika saya menyadari adanya kesalahan, saya akan memprioritaskan keselamatan pasien dan segera mengikuti prosedur pelaporan serta meminta arahan dari pihak yang bertanggung jawab.”
Jangan Takut Mengatakan “Saya Akan Meminta Bantuan”
Bagi fresh graduate, ini sangat penting.
Anda mungkin berpikir bahwa meminta bantuan akan membuat Anda terlihat tidak kompeten.
Padahal, mengetahui kapan harus meminta bantuan merupakan bagian dari profesionalisme.
Misalnya:
“Kalau saya menghadapi situasi yang berada di luar kompetensi atau kewenangan saya, saya akan meminta arahan dari perawat senior atau pihak yang bertanggung jawab sesuai prosedur.”
Ini jauh lebih baik daripada:
“Saya akan mencoba menyelesaikannya sendiri.”
karena Anda menunjukkan bahwa Anda memahami batas kemampuan dan kewenangan.
Contoh Jawaban untuk Fresh Graduate
Fresh graduate bisa menggunakan jawaban seperti:
“Jika saya menyadari melakukan kesalahan yang dapat berdampak pada pasien, saya akan memprioritaskan keselamatan pasien dan segera menyampaikan kejadian tersebut kepada penanggung jawab atau senior sesuai prosedur. Saya akan mengikuti SOP dan tidak mengambil tindakan di luar kompetensi saya. Setelah itu, saya akan melakukan evaluasi agar memahami penyebabnya dan mencegah kejadian serupa.”
Tidak perlu mengklaim bahwa Anda pernah mengalami kejadian tersebut jika memang belum pernah.
Anda cukup menunjukkan pemahaman terhadap prinsip keselamatan dan tanggung jawab profesional.
Contoh Jawaban untuk Kandidat Berpengalaman
Jika Anda sudah memiliki pengalaman kerja, Anda bisa memberikan jawaban yang lebih kontekstual:
“Kalau saya menyadari adanya kesalahan yang berpotensi berdampak pada pasien, saya akan segera memastikan situasinya ditangani sesuai SOP dan mengomunikasikannya kepada penanggung jawab. Saya tidak akan menutup-nutupi kejadian tersebut. Saya juga akan mengikuti mekanisme dokumentasi atau pelaporan yang berlaku dan melakukan evaluasi terhadap penyebabnya agar bisa menjadi pembelajaran.”
Jika interviewer meminta contoh, barulah Anda dapat menceritakan pengalaman nyata yang relevan tanpa membuka informasi pasien yang bersifat rahasia.
Hindari Membocorkan Identitas Pasien Saat Menceritakan Pengalaman
Jika interviewer meminta:
“Pernah mengalami kesalahan? Ceritakan.”
Anda tetap perlu berhati-hati.
Jangan memberikan:
- nama pasien,
- nomor rekam medis,
- alamat,
- foto,
- atau informasi lain yang dapat mengidentifikasi pasien.
Ceritakan situasi secara umum, tindakan profesional yang dilakukan, dan pembelajaran yang diperoleh.
Fokus pada pengalaman kerja Anda, bukan identitas pasien.
Apa yang Ingin Didengar HRD?
Sekali lagi, kita tidak bisa mengatakan bahwa semua HRD memiliki “jawaban ideal” yang sama.
Tetapi kandidat dapat menunjukkan beberapa prinsip yang kuat:
Tidak menutupi kesalahan
Anda bersedia menyampaikan kejadian.
Keselamatan pasien menjadi prioritas
Anda tidak menjadikan reputasi pribadi sebagai prioritas utama.
Tahu kapan meminta bantuan
Anda tidak memaksakan diri melakukan sesuatu di luar kompetensi.
Mengikuti SOP
Anda tidak mengambil keputusan secara sembarangan.
Mau belajar
Anda melihat kejadian sebagai kesempatan untuk melakukan perbaikan.
Ini jauh lebih bermakna daripada sekadar mengatakan:
“Saya bertanggung jawab.”
Pola Jawaban yang Bisa Anda Ingat
Kalau gugup saat interview, ingat lima langkah berikut:
Aman → Komunikasi → Eskalasi → Prosedur → Evaluasi
Aman
Prioritaskan keselamatan pasien.
Komunikasi
Sampaikan kejadian kepada pihak yang relevan.
Eskalasi
Libatkan pihak yang berwenang jika diperlukan.
Prosedur
Ikuti SOP, kewenangan, dan mekanisme pelaporan yang berlaku.
Evaluasi
Belajar dari kejadian dan mencari cara mencegah terulang.
Dengan pola ini, Anda tidak perlu menghafalkan paragraf panjang.
Kesalahan yang Sering Dilakukan Kandidat Saat Menjawab
1. Terlalu fokus pada diri sendiri
“Saya takut dimarahi.”
“Saya takut tidak diterima kerja.”
Dalam pertanyaan keselamatan pasien, fokus sebaiknya bukan pada kepentingan pribadi.
2. Mengaku tidak pernah salah
Tidak menjawab skenario yang diberikan.
3. Menutup-nutupi kesalahan
Berisiko menunjukkan pola pikir yang tidak sesuai dengan budaya keselamatan.
4. Langsung menyalahkan orang lain
Misalnya:
“Kalau saya salah, mungkin karena senior memberikan instruksi yang salah.”
Hindari mencari kambing hitam.
5. Mengambil tindakan di luar kewenangan
Jangan mencoba terlihat heroik.
6. Memberikan jawaban klinis yang terlalu spesifik
Padahal situasinya belum dijelaskan.
Lebih baik tunjukkan prinsip dan alur pengambilan keputusan.
Apakah Jawaban Ini Harus Dihafalkan?
Tidak.
Justru jangan.
Interviewer bisa mengubah pertanyaan menjadi:
“Kalau Anda melihat teman melakukan kesalahan?”
atau:
“Kalau kesalahannya belum berdampak pada pasien?”
atau:
“Kalau Anda takut dimarahi atasan?”
Kalau Anda hanya menghafal satu jawaban, Anda mungkin kembali bingung.
Tetapi jika memahami prinsip:
keselamatan pasien → komunikasi → eskalasi → SOP → evaluasi
Anda bisa menyesuaikan jawaban dengan berbagai skenario.
Jadi, Apa Jawaban yang Paling Rasional?
Jika ditanya:
“Kalau kamu melakukan kesalahan kepada pasien, apa yang akan dilakukan?”
Anda dapat menjawab:
“Jika saya menyadari melakukan kesalahan yang berpotensi berdampak pada pasien, saya akan memprioritaskan keselamatan pasien terlebih dahulu. Saya akan segera mengomunikasikan kejadian tersebut kepada penanggung jawab atau atasan sesuai prosedur, mengikuti SOP dan kewenangan saya, serta melakukan pelaporan atau dokumentasi sesuai ketentuan yang berlaku. Setelah itu, saya akan mengevaluasi kejadian tersebut agar dapat menjadi pembelajaran dan mencegah terulangnya kejadian serupa.”
Jawaban ini tidak menjanjikan bahwa Anda tidak akan pernah melakukan kesalahan.
Jawaban ini menunjukkan bahwa jika sesuatu terjadi, Anda tahu bagaimana bersikap secara profesional.
Kesimpulan
Pertanyaan “Kalau melakukan kesalahan kepada pasien, apa yang akan kamu lakukan?” bukan berarti interviewer sedang mencari kandidat yang mengaku tidak pernah melakukan kesalahan.
Yang lebih penting adalah bagaimana Anda merespons ketika menghadapi kesalahan atau potensi risiko.
Tunjukkan bahwa Anda:
- memprioritaskan keselamatan pasien,
- tidak menutup-nutupi kejadian,
- segera berkomunikasi dengan pihak yang bertanggung jawab,
- mengikuti SOP dan kewenangan,
- meminta bantuan ketika diperlukan,
- melakukan pelaporan sesuai ketentuan,
- dan mau belajar dari kejadian.
Jangan mencoba terlihat sempurna.
Tunjukkan bahwa Anda tahu bagaimana bertindak ketika sesuatu tidak berjalan sesuai rencana.
Karena dalam pekerjaan keperawatan, profesionalisme bukan hanya tentang bekerja dengan teliti, tetapi juga tentang bertanggung jawab ketika menghadapi masalah dan menempatkan keselamatan pasien sebagai prioritas.
Untuk mempersiapkan diri menghadapi pertanyaan interview lainnya, termasuk pertanyaan tentang menggantikan teman saat libur dan menghadapi rekan kerja yang tidak kooperatif, baca juga panduan interview kerja perawat di rumah sakit.