Pernah menjalani interview user yang terasa jauh lebih menegangkan daripada interview HRD?
Pertanyaannya belum tentu luar biasa sulit. Namun, cara user menyampaikannya bisa membuat kandidat merasa tertekan. Ada yang berbicara dengan nada sangat tegas, terus mempertanyakan jawaban, menunjukkan ekspresi serius, atau bahkan memberikan komentar yang terasa meremehkan.
Tidak heran jika setelah interview muncul pertanyaan:
“Memang interview user harus segalak itu?”
Jawabannya tidak selalu sederhana.
Seorang user memang memiliki alasan untuk menguji kandidat secara lebih mendalam. Mereka perlu mengetahui apakah seseorang benar-benar mampu menjalankan pekerjaan yang ditawarkan.
Namun, menguji kandidat dan merendahkan kandidat adalah dua hal yang berbeda.
Lalu, kenapa interview user bisa terasa galak? Dan bagaimana cara mengetahui apakah sikap tersebut masih profesional atau sudah menjadi red flag?
Kenapa User Bisa Bersikap Galak Saat Interview?
Ada beberapa kemungkinan yang perlu dipahami sebelum kamu langsung menyimpulkan bahwa user tersebut bermasalah.
1. User Sedang Menguji Cara Kandidat Menghadapi Tekanan
Salah satu alasan interviewer memberikan pertanyaan yang menekan adalah untuk melihat respons kandidat.
Misalnya, user mengetahui bahwa pengalaman kandidat belum terlalu sesuai dengan posisi yang dilamar.
Alih-alih hanya bertanya:
“Apakah kamu punya pengalaman yang relevan?”
user bisa memberikan pertanyaan yang lebih menantang:
“Kalau pengalamanmu tidak terlalu sesuai, kenapa kami harus memilih kamu?”
Pertanyaan seperti ini mungkin membuat kandidat gugup.
Namun, sebenarnya user sedang mencari tahu bagaimana kandidat mempertahankan argumen dan menjelaskan kelebihannya.
Untuk pekerjaan tertentu, kemampuan tetap berpikir ketika berada di bawah tekanan memang bisa relevan.
2. User Ingin Mengetahui Seberapa Dalam Pengalaman Kandidat
CV hanya memberikan gambaran singkat tentang pengalaman seseorang.
Ketika membaca:
“Mengelola media sosial perusahaan.”
user mungkin ingin tahu apa yang sebenarnya dilakukan kandidat.
Misalnya:
- Platform apa yang digunakan?
- Berapa banyak konten yang dibuat?
- Apa strategi yang digunakan?
- Bagaimana performanya diukur?
- Apa yang dilakukan ketika engagement turun?
Pertanyaan yang terus berlanjut bisa terasa seperti kandidat sedang “dicecar”.
Padahal, user mungkin hanya ingin memastikan bahwa pengalaman yang ditulis di CV memang benar-benar dikuasai.
3. User Memiliki Gaya Komunikasi yang Tegas
Tidak semua orang memiliki gaya komunikasi yang sama.
Ada user yang ramah dan banyak tersenyum.
Ada yang santai.
Ada pula yang berbicara singkat, serius, dan langsung pada inti masalah.
Kandidat yang terbiasa dengan interviewer ramah bisa menganggap gaya komunikasi seperti ini sebagai “galak”.
Padahal, belum tentu user bermaksud mengintimidasi.
Karena itu, jangan menilai hanya dari ekspresi wajah atau intonasi satu-dua kalimat.
Lihat keseluruhan interaksinya.
4. User Sedang Mengejar Kandidat yang Sangat Spesifik
Untuk posisi tertentu, kebutuhan tim bisa sangat spesifik.
User mungkin membutuhkan orang yang sudah memahami tools tertentu, pernah menghadapi masalah tertentu, atau terbiasa bekerja dengan target tertentu.
Akibatnya, pertanyaan yang diberikan bisa sangat detail.
Kandidat yang belum memiliki pengalaman tersebut mungkin merasa interview berjalan sangat berat.
Tetapi beratnya pertanyaan belum tentu berarti interviewer tidak profesional.
5. Memang Ada User yang Tidak Pandai Melakukan Interview
Kemungkinan ini juga ada.
Seseorang bisa menjadi profesional yang sangat kompeten di bidangnya tetapi belum tentu menjadi interviewer yang baik.
Kemampuan melakukan pekerjaan dan kemampuan mewawancarai kandidat adalah dua hal berbeda.
Seorang manager mungkin sangat ahli dalam mengelola tim, tetapi belum tentu mampu menyampaikan pertanyaan dengan cara yang membuat kandidat merasa nyaman.
Ini bukan berarti perilaku buruk harus dimaklumi.
Namun, konteks tersebut membantu kandidat memahami bahwa pengalaman interview yang buruk belum otomatis membuktikan seluruh budaya perusahaan buruk.
Apakah User Galak Berarti Sedang Melakukan Stress Interview?
Belum tentu.
Stress interview adalah metode wawancara yang memberikan tekanan tertentu kepada kandidat untuk melihat bagaimana mereka merespons situasi yang membuat stres.
Tekanan tersebut bisa muncul melalui:
- pertanyaan yang menantang;
- pertanyaan lanjutan secara beruntun;
- perbedaan pendapat dengan kandidat;
- studi kasus;
- atau permintaan untuk mempertahankan sebuah keputusan.
Tujuannya adalah melihat respons kandidat, bukan sekadar mendapatkan jawaban yang sempurna.
Namun, ada batas penting yang perlu diperhatikan.
Stress interview tidak sama dengan mempermalukan kandidat.
User bisa menguji ketahanan mental tanpa harus menghina orang yang sedang diwawancarai.
Contoh Interview Sulit yang Masih Profesional
Misalnya seorang kandidat melamar posisi sales tetapi belum memiliki pengalaman yang kuat.
User bertanya:
“Kamu belum punya pengalaman sales. Kalau kami memberi target yang cukup tinggi, apa yang membuat kamu yakin bisa mencapainya?”
Ini pertanyaan yang cukup menantang.
Kandidat mungkin merasa tertekan.
Tetapi pertanyaannya masih relevan karena berhubungan langsung dengan pekerjaan.
Contoh lainnya:
“Ceritakan situasi ketika kamu gagal mencapai target. Apa yang kamu lakukan setelah itu?”
Pertanyaan tersebut dapat membuat kandidat harus membicarakan kegagalan.
Namun, itu masih termasuk bagian yang masuk akal dalam proses evaluasi.
Sulit bukan berarti tidak profesional.
Contoh Perlakuan yang Mulai Merendahkan
Sekarang bayangkan user mengatakan:
“Pengalaman kamu saja nggak ada, memang kamu merasa bisa kerja di sini?”
Atau kandidat baru selesai menjelaskan pengalamannya kemudian user berkata dengan nada mengejek:
“Cuma begitu?”
Masalahnya bukan lagi sekadar pertanyaan yang sulit.
Cara seperti itu dapat membuat kandidat merasa dirinya sedang direndahkan, bukan sedang dievaluasi.
Perbedaan antara kedua situasi tersebut memang bisa subjektif.
Karena itu, jangan hanya berpegang pada satu kalimat.
Perhatikan pola perilaku selama interview.
Bedanya User Tegas, User Galak, dan User Merendahkan
Istilah “galak” sendiri sebenarnya cukup subjektif.
Bagi satu kandidat, user yang berbicara tegas mungkin dianggap biasa.
Bagi kandidat lain, gaya yang sama bisa terasa sangat mengintimidasi.
Supaya lebih mudah menilainya, gunakan tiga kategori berikut.
User Tegas
Biasanya:
- pertanyaannya langsung;
- tidak banyak basa-basi;
- meminta jawaban spesifik;
- mengkritisi jawaban;
- meminta contoh nyata;
- tetap memberikan kesempatan kandidat menjelaskan.
Ini belum tentu masalah.
User yang Sangat Menekan
Misalnya:
- terus memberikan pertanyaan lanjutan;
- mempertanyakan hampir setiap jawaban;
- memberikan studi kasus sulit;
- meminta kandidat mempertahankan pendapat;
- sengaja menciptakan situasi yang membuat kandidat gugup.
Ini bisa saja merupakan metode evaluasi tertentu.
Yang perlu diperhatikan adalah apakah tekanan tersebut masih relevan dengan pekerjaan dan dilakukan secara profesional.
User yang Merendahkan
Tandanya dapat berupa:
- menghina pengalaman kandidat;
- mengejek latar belakang;
- mempermalukan kandidat;
- menggunakan kata-kata yang tidak pantas;
- menyerang pribadi, bukan membahas kompetensi;
- tidak memberikan kesempatan untuk menjelaskan;
- menunjukkan perilaku merendahkan secara konsisten.
Di titik ini, kandidat wajar mulai mempertanyakan situasinya.
Kenapa User Tidak Perlu Bersikap Ramah Berlebihan?
Perlu juga dilihat dari sisi perusahaan.
Interview bukan acara perkenalan santai.
User memiliki tugas untuk memastikan kandidat benar-benar sesuai dengan kebutuhan pekerjaan.
Karena itu, kandidat tidak bisa mengharapkan semua interview berlangsung nyaman.
User tidak wajib:
- selalu tersenyum;
- mengatakan jawaban kandidat bagus;
- menyetujui semua pendapat;
- atau membuat kandidat merasa percaya diri sepanjang interview.
User bahkan boleh mengatakan bahwa jawaban kandidat kurang tepat.
Yang penting adalah bagaimana hal tersebut disampaikan.
Profesionalisme bukan berarti interviewer harus selalu ramah.
Profesionalisme berarti proses evaluasi tetap dilakukan dengan rasa hormat dan relevan terhadap pekerjaan.
Kapan Interview User Galak Mulai Menjadi Red Flag?
Tidak ada satu aturan yang bisa menentukan bahwa seorang interviewer sudah pasti red flag.
Namun, ada beberapa situasi yang patut diperhatikan.
1. Kritik Berubah Menjadi Serangan Pribadi
Kritik terhadap kompetensi masih relevan.
Contohnya:
“Jawaban ini belum menjelaskan bagaimana kamu mengukur hasil pekerjaan.”
Tetapi:
“Kamu kayaknya memang nggak ngerti pekerjaan.”
adalah hal yang berbeda.
Yang pertama membahas jawaban.
Yang kedua menyerang pribadi kandidat.
2. Kandidat Sengaja Dipermalukan
Jika user sengaja membuat kandidat malu atau tertawa atas kesalahan kandidat, itu patut menjadi perhatian.
Interview seharusnya membantu perusahaan mendapatkan informasi mengenai kandidat, bukan menjadi ajang mempermalukan seseorang.
3. Pertanyaan Tidak Relevan dengan Pekerjaan
Kandidat wajar mendapatkan pertanyaan yang sulit.
Namun, jika pertanyaan mulai jauh dari kebutuhan pekerjaan atau masuk ke hal pribadi yang tidak relevan, kandidat berhak mempertanyakan konteksnya.
4. User Tidak Memberikan Informasi yang Jelas tentang Pekerjaan
Ini justru menjadi perhatian yang lebih besar.
Jika kandidat terus diminta menjelaskan kemampuan, tetapi user sendiri tidak bisa menjelaskan:
- tanggung jawab posisi;
- target;
- struktur tim;
- jam kerja;
- atau ekspektasi pekerjaan,
kandidat sebaiknya meminta klarifikasi.
5. Ada Pola Perilaku Tidak Profesional
Satu komentar yang terasa kurang enak mungkin terjadi.
Tetapi jika sepanjang interview kandidat terus dipotong, diremehkan, ditekan, dan tidak diberi kesempatan berbicara, situasinya berbeda.
Pola lebih penting daripada satu kejadian.
Apakah User Galak Bisa Menjadi Gambaran Calon Atasan?
Bisa, tetapi jangan dianggap sebagai bukti mutlak.
User yang melakukan interview mungkin memang calon atasanmu.
Karena itu, wajar jika kamu memperhatikan cara dia berkomunikasi.
Coba tanyakan kepada diri sendiri:
“Kalau saya bekerja dengannya setiap hari, apakah gaya komunikasinya bisa saya terima?”
Pertanyaan tersebut lebih berguna daripada sekadar:
“Apakah dia orang baik?”
Kamu tidak perlu mencari atasan yang sempurna.
Yang penting adalah mengetahui apakah gaya kepemimpinannya cocok dengan kebutuhan dan cara kerjamu.
Apa yang Harus Dilakukan Saat Menghadapi User yang Galak?
Jika kamu sedang berada dalam interview dan user mulai memberikan tekanan, jangan langsung membalas dengan emosi.
Tetap dengarkan pertanyaannya
Jangan buru-buru menjawab karena panik.
Jika pertanyaannya panjang, kamu bisa memastikan kembali:
“Baik, berarti yang ingin ditanyakan adalah bagaimana saya menangani situasi tersebut, ya?”
Ini memberimu waktu untuk memahami pertanyaan.
Jawab berdasarkan pengalaman
Jika ditanya tentang pengalaman, gunakan contoh nyata.
Jangan berusaha terlihat sempurna.
Jawaban yang jujur dan terstruktur biasanya lebih kuat daripada jawaban yang terdengar dibuat-buat.
Jangan terpancing untuk defensif
Jika user mengatakan:
“Pengalaman kamu belum terlalu sesuai.”
Jangan langsung merasa diserang.
Kamu bisa menjawab:
“Memang pengalaman saya belum sepenuhnya linear. Namun, ada beberapa kemampuan yang saya gunakan di pekerjaan sebelumnya yang menurut saya bisa diterapkan di posisi ini.”
Kemudian berikan contohnya.
Tetap jaga profesionalisme
Kalaupun kamu merasa cara user berbicara kurang menyenangkan, tidak perlu membalas dengan sikap yang sama.
Kamu tetap bisa menjawab dengan tenang.
Bagaimanapun juga, interview adalah proses profesional.
Bagaimana Jika Setelah Interview Kamu Merasa Tidak Mau Bekerja di Sana?
Perasaan tersebut jangan langsung diabaikan.
Tetapi jangan pula langsung dianggap sebagai fakta.
Coba evaluasi.
Tanyakan:
Apakah saya hanya gugup karena pertanyaannya sulit?
atau
Apakah saya tidak nyaman karena cara saya diperlakukan?
Lalu lihat informasi lainnya.
Apakah job description sesuai?
Apakah HR komunikatif?
Apakah penjelasan pekerjaan jelas?
Apakah ada tanda lain yang membuatmu ragu?
Jika hanya satu interview yang membuatmu tidak nyaman, mungkin masih ada ruang untuk mencari informasi lebih lanjut.
Namun jika pengalaman tersebut menjadi bagian dari beberapa sinyal negatif lainnya, kamu punya alasan yang lebih kuat untuk mempertimbangkannya.
Kandidat Juga Berhak Menilai Calon Atasan
Salah satu kesalahan umum pencari kerja adalah menganggap interview sebagai ujian yang hanya memiliki satu pihak penilai.
Padahal, ketika kamu mengikuti interview user, kamu juga mendapatkan kesempatan untuk melihat calon tempat kerja.
Perhatikan:
- bagaimana user menjelaskan pekerjaan;
- bagaimana ia berbicara tentang anggota tim;
- bagaimana ia membahas kesalahan;
- bagaimana feedback diberikan;
- bagaimana target ditetapkan;
- dan apakah ia terbuka terhadap pertanyaan.
Kamu tidak harus mengambil keputusan saat itu juga.
Gunakan informasi tersebut untuk evaluasi setelah interview.
Jika ingin memahami perspektif ini secara lebih lengkap, kamu bisa membaca artikel pilar “Interview User Galak: Tes Mental atau Red Flag?” di Hirenakes.
Jadi, Apakah Interview User Galak Itu Normal?
Tergantung apa yang dimaksud dengan “galak”.
Jika yang dimaksud adalah user yang tegas, banyak bertanya, kritis, dan memberikan pertanyaan sulit, hal tersebut masih bisa menjadi bagian normal dari proses interview.
Jika yang terjadi adalah penghinaan, ejekan, serangan pribadi, atau perilaku yang sengaja mempermalukan kandidat, situasinya berbeda.
Jadi, jangan menggunakan ukuran:
“Interview saya bikin gugup, berarti user-nya buruk.”
Gunakan pertanyaan yang lebih tepat:
“Apakah tekanan yang diberikan masih relevan dan profesional?”
Jika jawabannya iya, kamu mungkin sedang menghadapi interview yang memang menantang.
Jika tidak, pengalaman tersebut layak kamu jadikan bahan pertimbangan.
Kesimpulan
Interview user yang galak tidak selalu berarti perusahaan toxic.
User bisa terlihat galak karena ingin menguji kemampuan kandidat, menggali pengalaman secara lebih mendalam, memiliki gaya komunikasi yang tegas, atau memang menggunakan pendekatan interview yang menekan.
Namun, kandidat juga perlu memahami batasnya.
Pertanyaan sulit adalah hal yang wajar. Merendahkan kandidat bukan bagian yang harus dinormalisasi.
Karena itu, lihat konteks dan pola perilakunya.
Apakah user hanya tegas?
Apakah pertanyaannya masih relevan dengan pekerjaan?
Apakah kandidat tetap diberi kesempatan menjawab?
Atau justru kandidat terus-menerus dipermalukan dan direndahkan?
Jawaban atas pertanyaan tersebut jauh lebih penting daripada sekadar memberi label “user galak”.
Dan satu hal yang perlu selalu diingat saat mencari kerja:
perusahaan sedang menilai kandidat, tetapi kandidat juga sedang menilai perusahaan.
Jika setelah interview kamu merasa ada sesuatu yang tidak cocok, jangan langsung panik dan jangan pula langsung mengabaikannya.
Evaluasi.
Cari informasi tambahan.
Kemudian buat keputusan berdasarkan gambaran yang lebih lengkap.
FAQ Interview User Galak
Apakah wajar jika interview user terasa menegangkan?
Wajar. User dapat memberikan pertanyaan sulit, studi kasus, atau pertanyaan lanjutan untuk mengetahui kemampuan kandidat. Yang perlu diperhatikan adalah apakah tekanan tersebut masih relevan dan profesional.
Kenapa user suka memberikan pertanyaan yang menjebak?
Pertanyaan yang terasa menjebak bisa digunakan untuk mengetahui bagaimana kandidat berpikir ketika menghadapi situasi sulit. Namun, kandidat tetap dapat menilai apakah pertanyaan tersebut relevan dengan pekerjaan.
Apakah user yang galak berarti calon atasan yang buruk?
Belum tentu. Satu sesi interview tidak cukup untuk menilai seseorang secara keseluruhan. Namun, cara user berkomunikasi tetap dapat menjadi salah satu informasi yang dipertimbangkan kandidat.
Bagaimana cara menghadapi interviewer yang galak?
Tetap tenang, dengarkan pertanyaan, jawab secara terstruktur, gunakan contoh pengalaman nyata, dan hindari membalas dengan emosi. Jika pertanyaan tidak jelas, kamu juga berhak meminta klarifikasi.
Apakah boleh menolak perusahaan karena pengalaman interview yang buruk?
Boleh, tetapi sebaiknya jangan mengambil keputusan hanya berdasarkan satu perasaan sesaat. Evaluasi pengalaman tersebut bersama informasi lain tentang pekerjaan, perusahaan, tim, dan calon atasan sebelum mengambil keputusan.