Setelah bertahun-tahun menjalani kuliah, akhirnya kamu mendapatkan pekerjaan pertama. Seharusnya senang, bukan?
Tapi ternyata yang muncul justru rasa takut.
Takut melakukan kesalahan. Takut tidak bisa mengikuti ritme kerja. Takut tidak memahami instruksi atasan. Takut bertanya terlalu banyak. Bahkan ada juga yang khawatir akan dianggap tidak profesional karena belum tahu banyak hal.
Kalau kamu seorang fresh graduate yang merasa belum siap menghadapi dunia kerja, perasaan seperti ini sebenarnya cukup masuk akal. Kamu sedang berpindah dari lingkungan yang selama ini kamu kenal ke situasi baru dengan tanggung jawab, aturan, dan ekspektasi yang berbeda.
Hal yang perlu diingat adalah: kamu tidak harus langsung bisa semuanya sejak hari pertama kerja.
Pekerjaan pertama bukan ujian yang mengharuskanmu membuktikan bahwa kamu sudah menjadi profesional yang sempurna. Pekerjaan pertama adalah bagian dari proses untuk belajar menjadi seorang profesional.
Kenapa Fresh Graduate Sering Takut Menghadapi Dunia Kerja?
Dunia kerja memang memiliki banyak hal yang berbeda dari kehidupan kuliah.
Saat kuliah, kamu biasanya tahu kapan tugas diberikan, kapan ujian berlangsung, dan bagaimana sistem penilaiannya. Ketika masuk kerja, situasinya bisa lebih dinamis.
Ada pekerjaan yang harus selesai hari ini, instruksi yang berubah, revisi dari atasan, komunikasi dengan rekan kerja, target yang harus dicapai, hingga masalah yang tidak pernah kamu temui selama kuliah.
Belum lagi ada pikiran:
“Bukannya aku sudah lulus? Harusnya aku sudah bisa dong.”
Pikiran tersebut justru bisa membuat tekanan semakin besar.
Padahal, lulus kuliah dan siap menghadapi seluruh situasi di dunia kerja adalah dua hal yang berbeda.
Kuliah memberikan bekal pengetahuan dan kemampuan dasar. Sementara itu, banyak kemampuan kerja justru berkembang ketika kamu mulai menggunakannya dalam situasi nyata.
Kamu mungkin sudah belajar Excel, tetapi belum tentu terbiasa membuat laporan sesuai format perusahaan.
Kamu mungkin sudah belajar presentasi, tetapi belum tentu terbiasa mempresentasikan pekerjaan di depan atasan.
Kamu mungkin tahu teori komunikasi, tetapi masih canggung ketika harus menyampaikan masalah kepada senior.
Itu bukan berarti kamu gagal. Kamu hanya sedang berada di tahap awal proses belajar.
Fresh Graduate Belum Siap Kerja, Apakah Wajar?
Wajar jika kamu belum merasa sepenuhnya siap.
Yang perlu dibedakan adalah antara belum siap dan tidak mau belajar.
Belum mengetahui sesuatu adalah kondisi yang bisa diperbaiki. Kamu bisa bertanya, belajar, berlatih, meminta feedback, dan mengulanginya sampai terbiasa.
Sebaliknya, masalah akan muncul ketika seseorang tidak mau belajar atau terus menghindari tanggung jawab.
Jadi, jangan menjadikan ketidaktahuan di awal kerja sebagai kesimpulan bahwa kamu tidak mampu.
Belum bisa bukan berarti tidak bisa selamanya.
Kamu hanya belum pernah melakukannya sebelumnya.
Takut Salah Saat Pertama Kali Kerja? Kamu Mungkin Memang Akan Salah
Salah satu ketakutan terbesar fresh graduate adalah melakukan kesalahan.
Takut salah membuat laporan.
Takut salah memahami instruksi.
Takut salah mengirim email.
Takut salah berbicara kepada atasan.
Takut membuat pekerjaan tim terganggu.
Masalahnya, semakin kamu berpikir bahwa “aku tidak boleh salah”, semakin besar kemungkinan kamu menjadi takut mengambil tindakan.
Padahal, kesalahan bisa menjadi bagian dari proses belajar, terutama ketika kamu baru mengenal pekerjaan, sistem, dan budaya perusahaan.
Yang lebih penting bukan bagaimana caranya supaya kamu tidak pernah melakukan kesalahan.
Tetapi:
Bagaimana kamu merespons ketika melakukan kesalahan?
Coba gunakan pola sederhana:
Akui → pahami → perbaiki → catat → jangan ulangi.
Misalnya kamu salah memasukkan data ke dalam laporan.
Jangan berhenti di rasa malu.
Cari tahu kenapa kesalahan itu terjadi. Perbaiki laporan tersebut. Tanyakan jika ada bagian yang belum kamu pahami. Kemudian catat proses yang benar agar kesalahan yang sama tidak terjadi lagi.
Dengan begitu, satu kesalahan bisa menjadi pengalaman yang membuatmu lebih baik.
Profesional Bukan Berarti Harus Tahu Semuanya
Ada satu kesalahpahaman yang sering membuat fresh graduate semakin cemas:
Profesional berarti harus selalu tahu jawabannya.
Padahal tidak begitu.
Salah satu bentuk profesionalisme justru adalah mengetahui kapan harus bertanya.
Misalnya, kamu mendapat instruksi yang belum jelas.
Daripada berpura-pura mengerti dan akhirnya mengerjakan pekerjaan yang salah, lebih baik melakukan klarifikasi.
Contohnya:
“Kak, saya mau memastikan supaya tidak salah. Untuk pekerjaan ini berarti datanya menggunakan file yang tadi, kemudian dibuat dalam format tersebut dan dikirim sebelum jam 3, benar ya?”
Pertanyaan seperti itu menunjukkan bahwa kamu memperhatikan instruksi dan ingin memastikan pekerjaan dilakukan dengan benar.
Begitu juga ketika kamu mengalami kendala.
Daripada hanya berkata:
“Kak, aku nggak bisa.”
Coba jelaskan apa yang sudah kamu lakukan:
“Kak, saya sudah coba cara A dan B, tapi bagian ini masih belum berhasil. Saya mau memastikan, apakah ada langkah lain yang perlu saya coba?”
Ada perbedaan besar antara tidak tahu lalu diam dan tidak tahu lalu berusaha mencari tahu.
Cara Menghadapi Dunia Kerja untuk Fresh Graduate
Kalau kamu baru akan memasuki pekerjaan pertama, tidak perlu memikirkan bagaimana caranya menguasai semuanya sekaligus.
Fokus pada beberapa kebiasaan dasar berikut.
1. Jangan takut bertanya
Kamu memang tidak mungkin mengetahui semua hal di hari pertama.
Ketika ada instruksi yang tidak jelas, tanyakan.
Namun, biasakan bertanya secara spesifik. Sebelum bertanya, pahami dulu bagian mana yang tidak kamu mengerti.
Semakin spesifik pertanyaanmu, semakin mudah orang lain membantu.
2. Catat hal-hal penting
Jangan mengandalkan ingatan untuk semua hal.
Catat:
- instruksi pekerjaan;
- istilah yang belum kamu pahami;
- langkah-langkah pekerjaan;
- deadline;
- feedback dari atasan;
- kesalahan yang pernah kamu lakukan;
- hal-hal yang perlu diperhatikan pada pekerjaan berikutnya.
Catatan sederhana bisa membantu mempercepat proses adaptasi.
3. Pelajari pola kerja di tempatmu
Setiap perusahaan memiliki cara kerja yang berbeda.
Perhatikan bagaimana senior bekerja.
Bagaimana mereka menyampaikan update? Bagaimana mereka membuat laporan? Bagaimana mereka berkomunikasi dengan atasan? Kapan mereka bertanya? Bagaimana mereka menangani masalah?
Kamu tidak harus meniru semuanya, tetapi mengamati lingkungan kerja bisa membantumu memahami ekspektasi yang tidak selalu tertulis di SOP.
4. Minta feedback
Jangan hanya menunggu sampai atasan mengatakan pekerjaanmu salah.
Sesekali tanyakan:
“Untuk pekerjaan saya yang tadi, apakah ada bagian yang sebaiknya saya perbaiki?”
Feedback akan membantumu mengetahui apakah cara kerjamu sudah sesuai dengan ekspektasi tim.
5. Belajar menentukan prioritas
Salah satu tantangan awal bekerja adalah ketika beberapa pekerjaan datang bersamaan.
Jangan langsung mengerjakan semuanya secara acak.
Tanyakan mana yang paling mendesak dan mana yang memiliki prioritas lebih tinggi.
Misalnya:
“Saat ini saya sedang mengerjakan laporan A yang deadline-nya jam 2 dan ada pekerjaan B yang baru masuk. Untuk prioritasnya, sebaiknya saya selesaikan yang mana dulu?”
Ini lebih baik daripada diam-diam mengerjakan semuanya dan akhirnya tidak ada yang selesai tepat waktu.
6. Jangan membandingkan dirimu dengan senior
Kamu mungkin melihat rekan kerja yang sudah bertahun-tahun bekerja dan merasa:
“Kok dia bisa melakukan semuanya dengan cepat, sedangkan aku masih bingung?”
Perbandingan tersebut tidak sepenuhnya adil.
Dia memiliki pengalaman yang belum kamu miliki.
Kalau kamu baru bekerja beberapa minggu, wajar jika belum memiliki kecepatan dan pemahaman yang sama dengan seseorang yang sudah bertahun-tahun berada di posisi tersebut.
Bandingkan dirimu dengan dirimu sendiri.
Apakah minggu ini kamu sudah lebih memahami pekerjaan dibanding minggu lalu?
Kalau iya, berarti ada perkembangan.
Apa yang Harus Dipersiapkan Sebelum Masuk Kerja?
Kamu tidak perlu menguasai semua skill sebelum mendapatkan pekerjaan.
Namun, ada beberapa hal dasar yang akan membantumu beradaptasi lebih cepat.
Kemampuan teknis dasar
Sesuaikan dengan pekerjaan yang kamu incar.
Misalnya kemampuan menggunakan Microsoft Word, Excel, PowerPoint, Google Workspace, atau tools lain yang umum digunakan dalam bidangmu.
Tidak harus ahli. Yang penting kamu memiliki dasar dan kemauan untuk belajar.
Kemampuan komunikasi
Belajar menyampaikan sesuatu dengan jelas.
Termasuk ketika:
- meminta bantuan;
- menyampaikan progress;
- memberi tahu adanya kendala;
- menerima kritik;
- mengklarifikasi instruksi.
Kemampuan mengatur pekerjaan
Biasakan menggunakan to-do list, kalender, reminder, atau aplikasi pencatat pekerjaan.
Tujuannya bukan supaya terlihat produktif, tetapi supaya kamu tidak mudah kehilangan track terhadap tugas dan deadline.
Kemampuan menerima feedback
Tidak semua feedback berarti kamu dianggap buruk.
Feedback adalah informasi mengenai bagian yang masih perlu diperbaiki.
Semakin cepat kamu belajar menerima feedback secara objektif, semakin cepat pula kamu mengetahui cara meningkatkan pekerjaanmu.
Bagaimana Kalau Tekanan Kerja Terasa Berat?
Ada perbedaan antara tekanan karena sedang beradaptasi dan kondisi ketika lingkungan kerja sudah membuatmu terus-menerus kewalahan.
Pada masa awal kerja, kamu mungkin merasa lelah karena harus mempelajari banyak hal sekaligus.
Kamu bisa mulai dengan mengidentifikasi sumber tekanannya.
Apakah karena pekerjaan terlalu banyak?
Apakah karena belum memahami tugas?
Apakah karena tidak tahu prioritas?
Apakah karena takut mengecewakan atasan?
Atau justru karena kamu terlalu menuntut diri sendiri untuk selalu sempurna?
Setelah mengetahui sumbernya, kamu bisa mencari solusi yang lebih spesifik.
Kalau pekerjaannya belum jelas, tanyakan.
Kalau prioritasnya membingungkan, klarifikasi.
Kalau skill belum cukup, belajar.
Kalau pekerjaan terlalu banyak untuk diselesaikan dalam waktu yang tersedia, komunikasikan kondisinya kepada atasan.
Jangan memendam semuanya hanya karena takut dianggap tidak mampu.
Kamu Tidak Harus Menjadi Profesional yang Sempurna di Hari Pertama
Menjadi fresh graduate berarti kamu memang berada di awal perjalanan.
Hari pertama mungkin masih bingung.
Minggu pertama mungkin masih banyak bertanya.
Bulan pertama mungkin masih melakukan beberapa kesalahan.
Itu bukan berarti kamu gagal menjadi seorang profesional.
Kamu sedang belajar.
Yang perlu kamu bawa ke pekerjaan pertama bukan keyakinan bahwa:
“Aku harus bisa semuanya.”
Tetapi:
“Aku mungkin belum bisa semuanya, tetapi aku siap belajar.”
Perbedaan cara berpikir tersebut terdengar sederhana, tetapi bisa mengubah cara kamu menghadapi pekerjaan.
Ketika tidak tahu, kamu bertanya.
Ketika salah, kamu memperbaiki.
Ketika mendapat feedback, kamu belajar.
Ketika menghadapi kesulitan, kamu mencari solusi.
Ketika belum terbiasa, kamu memberi waktu kepada diri sendiri untuk beradaptasi.
Jadi, Apakah Fresh Graduate Harus Siap Menghadapi Dunia Kerja?
Kamu tidak harus siap dalam arti sudah menguasai semuanya.
Yang lebih penting adalah memiliki kesiapan untuk belajar, beradaptasi, berkomunikasi, dan bertanggung jawab.
Tidak ada yang meminta kamu menjadi senior pada hari pertama.
Perusahaan mempekerjakanmu bukan karena kamu sudah memiliki pengalaman selama bertahun-tahun, tetapi karena mereka melihat ada kemampuan dan potensi yang bisa dikembangkan.
Jadi kalau sekarang kamu masih kuliah dan takut membayangkan pekerjaan pertama, atau baru lulus dan merasa belum siap, jangan langsung menganggap ada sesuatu yang salah dengan dirimu.
Mungkin kamu hanya sedang menghadapi sesuatu yang belum pernah kamu lakukan sebelumnya.
Dan untuk sesuatu yang baru, kamu memang tidak harus langsung mahir.
Yang penting adalah terus bergerak.
Karena tujuan pekerjaan pertama bukan membuktikan bahwa kamu sudah tahu semuanya.
Tujuannya adalah mulai belajar bagaimana caranya bekerja.