Ada orang yang sebenarnya merasa mampu mengerjakan pekerjaan yang dilamar, tetapi langsung merasa takut ketika mendapat panggilan interview.
Belum mulai interview saja sudah muncul pikiran:
“Nanti kalau ditanya apa ya?”
“Kalau saya nggak bisa jawab bagaimana?”
“Kalau tiba-tiba blank?”
Akhirnya, interview terasa seperti sesuatu yang harus dihindari.
Padahal, memiliki rasa takut saat interview tidak otomatis berarti Anda tidak memiliki kemampuan untuk bekerja.
Yang perlu dilakukan adalah memahami apa yang sebenarnya membuat takut dan bagaimana menghadapinya.
Kenapa Interview Bisa Terasa Menakutkan?
Interview menempatkan kandidat dalam situasi di mana dirinya sedang dinilai.
Bagi sebagian orang, kondisi tersebut bisa menimbulkan tekanan.
Takut memberikan jawaban yang salah, takut terlihat tidak pintar, atau takut dibandingkan dengan kandidat lain dapat membuat seseorang semakin tidak percaya diri.
Masalahnya, semakin seseorang memikirkan kemungkinan gagal, semakin sulit untuk fokus pada pertanyaan yang sedang diberikan.
Karena itu, rasa takut perlu dihadapi dengan persiapan yang tepat, bukan hanya dengan mengatakan kepada diri sendiri untuk “jangan gugup”.
Takut Interview Tidak Sama dengan Tidak Mampu Bekerja
Ini penting untuk dipahami.
Kemampuan melakukan pekerjaan dan kemampuan menghadapi situasi interview tidak selalu berkembang dengan kecepatan yang sama.
Seseorang bisa terbiasa bekerja dengan pasien, mengerjakan administrasi, melakukan tugas teknis, atau bekerja dalam tim.
Namun belum tentu terbiasa menjelaskan semua kemampuan tersebut kepada interviewer.
Jadi, jangan langsung menarik kesimpulan:
“Kalau saya takut interview berarti saya tidak cocok bekerja.”
Belum tentu.
Bisa saja yang perlu dilatih memang kemampuan menghadapi proses interview.
Cari Tahu Apa yang Sebenarnya Anda Takutkan
Jangan berhenti pada kalimat:
“Saya takut interview.”
Coba buat lebih spesifik.
Apakah Anda takut:
- tidak bisa menjawab pertanyaan?
- lupa pengalaman yang pernah dilakukan?
- ditanya tentang kekurangan?
- ditanya sesuatu yang tidak diketahui?
- berbicara dengan orang yang lebih senior?
- terlihat gugup?
- atau takut ditolak?
Penyebab yang berbeda membutuhkan latihan yang berbeda.
Jika takut karena tidak bisa menjawab pertanyaan, latihan menjawab secara spontan dapat membantu.
Jika takut karena kurang memahami pekerjaan yang dilamar, persiapkan informasi tentang posisi tersebut.
Jika takut karena pengalaman masih sedikit, siapkan contoh pengalaman dari praktik, magang, organisasi, atau kegiatan lain yang relevan.
Jangan Berusaha Menghilangkan Gugup Sepenuhnya
Target yang realistis bukan menjadi orang yang sama sekali tidak gugup.
Bahkan kandidat yang sudah berpengalaman pun bisa merasa tegang ketika menghadapi interview tertentu.
Yang lebih penting adalah tetap mampu berpikir dan menjawab meskipun merasa gugup.
Karena itu, jangan menganggap sedikit rasa gugup sebagai kegagalan.
Yang perlu dilatih adalah kemampuan untuk tetap menjalankan interview ketika rasa gugup muncul.
Persiapkan Pengalaman yang Bisa Diceritakan
Salah satu cara mengurangi ketakutan adalah mengetahui apa yang ingin Anda ceritakan.
Pilih beberapa pengalaman yang pernah Anda jalani.
Misalnya:
- pengalaman praktik;
- pengalaman magang;
- pengalaman organisasi;
- pengalaman bekerja dalam kelompok;
- pengalaman menyelesaikan masalah;
- pengalaman menghadapi orang lain;
- atau pengalaman belajar sesuatu yang baru.
Kemudian ingat kembali peran Anda dalam pengalaman tersebut.
Apa yang Anda lakukan?
Apa masalah yang dihadapi?
Bagaimana Anda menyelesaikannya?
Apa hasilnya?
Dengan persiapan seperti ini, Anda tidak perlu merasa harus memiliki jawaban untuk setiap kemungkinan pertanyaan.
Anda memiliki beberapa pengalaman nyata yang dapat disesuaikan dengan pertanyaan yang diberikan.
Jangan Membandingkan Diri dengan Kandidat Lain
Melihat kandidat lain yang terlihat lebih percaya diri dapat membuat Anda semakin minder.
Ada yang berbicara lancar.
Ada yang memiliki pengalaman lebih banyak.
Ada yang terlihat sangat siap menjawab pertanyaan.
Namun Anda tidak mengetahui bagaimana kemampuan mereka ketika benar-benar bekerja.
Fokus utama Anda bukan mengalahkan kandidat lain dalam hal berbicara.
Fokusnya adalah menunjukkan kemampuan dan pengalaman Anda sendiri secara jujur dan jelas.
Kalau Tidak Tahu Jawabannya, Apa yang Harus Dilakukan?
Salah satu ketakutan terbesar saat interview adalah mendapatkan pertanyaan yang tidak bisa dijawab.
Padahal, tidak mengetahui sesuatu tidak otomatis membuat Anda menjadi kandidat yang buruk.
Jika memang belum mengetahui jawabannya, jangan mengarang.
Anda dapat menjelaskan apa yang memang Anda ketahui dan, jika relevan, menunjukkan bahwa Anda bersedia mempelajarinya.
Sikap seperti ini lebih baik daripada memaksakan jawaban yang sebenarnya tidak Anda pahami.
Latihan Secara Bertahap
Jika interview membuat Anda sangat takut, jangan langsung berlatih dengan simulasi yang sangat sulit.
Mulai dari pertanyaan sederhana.
Contohnya:
“Ceritakan tentang diri Anda.”
Kemudian lanjutkan ke:
“Apa pengalaman yang paling relevan dengan posisi ini?”
Setelah mulai terbiasa, gunakan pertanyaan yang lebih sulit.
Latihan dapat dilakukan bersama teman, keluarga, atau dengan merekam jawaban sendiri.
Tujuannya bukan membuat semua jawaban sempurna.
Tujuannya adalah membuat situasi menjawab pertanyaan menjadi sesuatu yang lebih familiar.
Jangan Menghindari Interview Terus-Menerus
Menghindari interview mungkin terasa melegakan untuk sementara.
Namun jika setiap panggilan interview dihindari karena takut, kesempatan untuk belajar juga ikut hilang.
Pengalaman interview yang kurang baik sebenarnya dapat menjadi bahan evaluasi.
Setelah interview, tanyakan:
Bagian mana yang membuat saya paling gugup?
Pertanyaan apa yang paling sulit?
Apa yang sebenarnya sudah bisa saya jawab?
Apa yang perlu saya latih sebelum interview berikutnya?
Dengan cara ini, setiap interview dapat menjadi latihan untuk kesempatan berikutnya.
Tetap Evaluasi Skill yang Dimiliki
Punya rasa takut interview bukan alasan untuk berhenti meningkatkan kemampuan kerja.
Tetap pastikan skill yang Anda miliki memang sesuai dengan posisi yang dilamar.
Jika ada kekurangan, pelajari.
Jika ada pengalaman yang belum cukup, cari kesempatan untuk menambah pengalaman.
Jika skill sudah cukup tetapi sulit menjelaskannya, latih cara mengomunikasikannya.
Dengan begitu, persiapan Anda tidak hanya berfokus pada bagaimana terlihat percaya diri, tetapi juga memastikan memang memiliki kemampuan yang dapat ditawarkan kepada perusahaan.
Jika Anda Punya Skill tetapi Tidak Percaya Diri Saat Interview
Jangan memaksa diri untuk berubah menjadi orang yang sangat pandai berbicara.
Mulailah dari hal yang lebih sederhana.
Kenali kemampuan sendiri.
Siapkan pengalaman nyata.
Latih menjelaskan pengalaman tersebut.
Biasakan menjawab pertanyaan secara langsung.
Dan terima bahwa sedikit rasa gugup adalah hal yang mungkin terjadi.
Jika Anda ingin memahami lebih jauh mengapa seseorang bisa memiliki kemampuan kerja yang baik tetapi kesulitan menunjukkannya saat interview, Anda juga dapat membaca punya skill kerja yang bagus tapi tidak bisa interview, harus bagaimana.
Kesimpulan
Takut interview padahal memiliki skill bukan berarti Anda tidak mampu bekerja.
Bisa jadi Anda belum terbiasa berada dalam situasi ketika kemampuan dan pengalaman harus dijelaskan secara langsung kepada orang lain.
Daripada terus menghindari interview, cari tahu sumber ketakutan tersebut dan latih bagian yang menjadi masalah.
Tidak perlu mengejar kondisi di mana Anda sama sekali tidak gugup.
Targetnya adalah tetap mampu menunjukkan kemampuan yang Anda miliki meskipun merasa gugup.
Dengan latihan dan evaluasi yang konsisten, interview dapat menjadi sesuatu yang lebih familiar dan tidak lagi terasa seperti situasi yang harus selalu dihindari.