Salah satu pertanyaan yang cukup sering membuat calon perawat berpikir dua kali saat interview adalah:
“Kalau ada teman yang tidak kooperatif dalam tim, kamu akan bagaimana?”
Pertanyaan ini terdengar seperti pertanyaan tentang konflik dengan rekan kerja.
Namun, bagi kandidat, jangan buru-buru menjawab:
“Saya akan menegurnya.”
atau:
“Saya langsung lapor kepala ruangan.”
Jawaban tersebut belum tentu salah, tetapi interviewer mungkin ingin mengetahui bagaimana cara Anda menghadapi masalah dalam tim, bukan sekadar siapa yang akan Anda laporkan.
Dalam pekerjaan keperawatan, kemampuan bekerja sama dan berkomunikasi menjadi hal penting karena pelayanan pasien melibatkan koordinasi dengan anggota tim lainnya. Kementerian Kesehatan juga menekankan pentingnya komunikasi efektif dalam mendukung keselamatan pasien.
Karena itu, ketika mendapatkan pertanyaan seperti ini, yang perlu ditunjukkan bukan bahwa Anda paling tegas atau paling berani menghadapi rekan kerja.
Yang lebih penting adalah menunjukkan bahwa Anda mampu menghadapi konflik secara profesional tanpa membiarkan masalah pribadi mengganggu pelayanan pasien.
Jika Anda sedang mempersiapkan interview secara keseluruhan, Anda juga dapat membaca panduan interview kerja perawat di rumah sakit untuk memahami pertanyaan situasional lainnya dan hal yang mungkin dinilai oleh interviewer.
Apa yang Dimaksud dengan “Tidak Kooperatif”?
Sebelum menjawab, pahami dulu pertanyaannya.
“Tidak kooperatif” bisa berarti banyak hal.
Misalnya:
- sulit diajak berkomunikasi,
- tidak menjalankan tugas yang menjadi tanggung jawabnya,
- tidak mau membantu ketika dibutuhkan,
- sering menolak koordinasi,
- terjadi perbedaan pendapat,
- atau ada masalah pribadi yang terbawa ke pekerjaan.
Karena situasinya bisa berbeda, jangan memberikan jawaban yang terlalu spesifik seolah-olah Anda sudah tahu masalahnya.
Misalnya langsung mengatakan:
“Saya akan melaporkan teman tersebut kepada kepala ruangan.”
Bagaimana kalau sebenarnya masalahnya hanya kesalahpahaman komunikasi?
Tentu penanganannya bisa berbeda.
Itulah sebabnya jawaban yang baik biasanya dimulai dengan memahami situasi terlebih dahulu.
Apa yang Sebenarnya Dinilai Interviewer?
Tidak ada cara untuk memastikan apa yang ada di pikiran setiap HRD.
Namun, pertanyaan ini dapat digunakan untuk melihat beberapa aspek.
1. Kemampuan bekerja dalam tim
Apakah Anda bisa tetap bekerja sama ketika menghadapi rekan kerja yang memiliki karakter berbeda?
2. Komunikasi
Apakah Anda mampu membicarakan masalah secara langsung dan profesional?
3. Pengendalian emosi
Apakah Anda mudah terpancing ketika menghadapi orang yang sulit diajak bekerja sama?
4. Penyelesaian masalah
Apakah Anda mencoba memahami dan menyelesaikan masalah, atau langsung menyalahkan orang lain?
5. Kemampuan melakukan eskalasi
Apakah Anda tahu kapan masalah masih bisa diselesaikan sendiri dan kapan membutuhkan bantuan atasan?
6. Prioritas terhadap pasien
Apakah konflik dengan rekan kerja tetap dapat dipisahkan dari tanggung jawab memberikan pelayanan?
Poin terakhir sangat penting.
Dalam pelayanan kesehatan, komunikasi dan koordinasi yang buruk dapat berdampak pada pelayanan. Karena itu, konflik antaranggota tim tidak seharusnya dibiarkan sampai mengganggu keselamatan pasien.
Apakah Sebaiknya Langsung Melapor ke Kepala Ruangan?
Tidak selalu.
Bayangkan interviewer bertanya:
“Kalau ada teman yang tidak kooperatif, apa yang kamu lakukan?”
Lalu Anda menjawab:
“Saya langsung lapor kepala ruangan.”
Mungkin terdengar tegas.
Tetapi interviewer bisa saja melanjutkan:
“Masalahnya baru terjadi sekali. Kenapa langsung dilaporkan?”
Anda mungkin kesulitan menjelaskan.
Bukan berarti melapor kepada atasan merupakan tindakan yang salah.
Justru dalam kondisi tertentu, eskalasi kepada atasan memang diperlukan.
Namun, kandidat sebaiknya menunjukkan bahwa ia mampu membedakan:
masalah yang masih dapat dikomunikasikan dengan
masalah yang sudah membutuhkan intervensi atasan.
Pola Jawaban yang Lebih Rasional
Anda bisa menggunakan pola sederhana:
Pahami → Komunikasikan → Fokus pada pekerjaan → Eskalasi jika diperlukan
Mari kita bahas satu per satu.
1. Pahami Situasinya
Jangan langsung memberi label:
“Dia memang orangnya tidak kooperatif.”
Cari tahu terlebih dahulu apa yang sebenarnya terjadi.
Bisa jadi:
- ada miskomunikasi,
- pembagian tugas tidak jelas,
- rekan kerja sedang menghadapi masalah,
- atau memang terdapat persoalan dalam kerja sama.
Dengan memahami situasi, Anda bisa menentukan tindakan yang lebih tepat.
2. Komunikasikan Secara Profesional
Jika situasinya memungkinkan, cobalah berkomunikasi dengan rekan kerja tersebut.
Tidak perlu menggunakan nada menyalahkan.
Misalnya:
“Saya ingin memastikan pembagian tugas kita supaya tidak ada yang terlewat. Bagian ini sebaiknya kita koordinasikan bagaimana?”
Fokus pembicaraan pada pekerjaan dan solusi, bukan menyerang karakter orang tersebut.
Hindari kalimat seperti:
“Kamu memang susah diajak kerja sama.”
Lebih baik:
“Saya merasa koordinasi kita untuk bagian ini belum berjalan dengan baik. Menurut kamu, apa yang perlu kita perbaiki?”
Perbedaannya terlihat sederhana, tetapi pendekatan kedua jauh lebih konstruktif.
3. Jangan Membiarkan Konflik Pribadi Mengganggu Pelayanan
Ini merupakan salah satu poin yang bagus untuk ditunjukkan dalam interview.
Anda mungkin tidak cocok dengan rekan kerja tertentu.
Namun, pasien tetap membutuhkan pelayanan.
Jangan sampai konflik membuat Anda:
- tidak menyampaikan informasi penting,
- mengabaikan komunikasi,
- tidak melakukan koordinasi,
- menunda pekerjaan,
- atau sengaja membiarkan masalah terjadi.
Keselamatan pasien membutuhkan komunikasi dan kerja sama yang baik di antara anggota tim. Kementerian Kesehatan juga menjelaskan bahwa komunikasi efektif merupakan salah satu sasaran penting dalam keselamatan pasien.
Jadi, jika interviewer bertanya mengenai rekan kerja yang tidak kooperatif, Anda bisa menunjukkan bahwa:
masalah antarpribadi tidak boleh mengalahkan tanggung jawab terhadap pasien.
4. Eskalasi Jika Masalah Tidak Bisa Diselesaikan
Tidak semua konflik bisa diselesaikan sendiri.
Jika sudah mencoba berkomunikasi tetapi masalah tetap terjadi dan mulai mengganggu pekerjaan atau pelayanan, Anda dapat meminta arahan dari pihak yang berwenang sesuai struktur dan prosedur di tempat kerja.
Misalnya:
“Kalau setelah dikomunikasikan masalahnya tetap tidak terselesaikan atau mulai memengaruhi pelayanan, saya akan meminta arahan dari kepala ruangan atau pihak yang bertanggung jawab sesuai prosedur.”
Ini lebih matang daripada mengatakan:
“Saya tidak akan pernah melapor.”
atau:
“Saya langsung lapor.”
Anda menunjukkan bahwa Anda tahu kapan harus menyelesaikan masalah dan kapan harus meminta bantuan.
Contoh Jawaban Interview Perawat
Jika mendapatkan pertanyaan:
“Kalau ada teman yang tidak kooperatif dalam tim, kamu akan bagaimana?”
Anda bisa menjawab:
“Saya akan mencoba memahami terlebih dahulu penyebabnya. Kalau masalahnya masih bisa diselesaikan melalui komunikasi, saya akan membicarakannya dengan baik dan fokus pada pekerjaan serta pelayanan pasien. Kalau setelah dikomunikasikan masalahnya tetap berlanjut atau mulai mengganggu pelayanan, saya akan meminta arahan dari kepala ruangan atau pihak yang bertanggung jawab sesuai prosedur.”
Jawaban tersebut menunjukkan beberapa hal sekaligus:
- tidak langsung menyalahkan,
- mau berkomunikasi,
- berorientasi pada solusi,
- memahami pentingnya pelayanan pasien,
- dan tahu kapan perlu melakukan eskalasi.
Bagaimana Jika Teman Memang Sulit Diajak Kerja Sama?
Misalnya interviewer melanjutkan:
“Tapi kalau teman itu memang dari awal tidak mau bekerja sama bagaimana?”
Jangan terpancing untuk memberikan jawaban emosional.
Anda bisa mengatakan:
“Saya tetap akan mencoba berkomunikasi secara profesional dan memahami kendalanya. Kalau perilaku tersebut sudah menghambat pekerjaan atau pelayanan dan tidak dapat diselesaikan melalui komunikasi, saya akan menyampaikannya kepada atasan sesuai jalur yang berlaku.”
Perhatikan kata:
“menghambat pekerjaan atau pelayanan.”
Ini lebih baik daripada mengatakan:
“Saya lapor karena saya tidak suka dengan sikapnya.”
Fokus Anda tetap pada pekerjaan, bukan persoalan pribadi.
Bagaimana Jika Teman Tidak Mau Membantu?
Misalnya Anda mendapatkan pertanyaan:
“Kalau teman satu tim tidak mau membantu kamu, apa yang dilakukan?”
Jawaban yang matang tidak harus:
“Saya kerjakan sendiri.”
Karena dalam kondisi tertentu, mengerjakan semuanya sendiri justru bukan solusi.
Anda bisa menjawab:
“Saya akan mencoba berkomunikasi dan memastikan terlebih dahulu apakah ada kendala dalam pembagian tugas. Kalau memang ada pekerjaan yang perlu dikoordinasikan dan tidak dapat diselesaikan sendiri, saya akan meminta bantuan atau arahan dari pihak yang bertanggung jawab.”
Ini menunjukkan bahwa Anda memahami:
teamwork bukan berarti mengerjakan semuanya sendirian.
Bagaimana Jika Anda Berbeda Pendapat dengan Senior?
Ini juga masih berkaitan dengan kemampuan bekerja dalam tim.
Misalnya:
“Kalau Anda tidak setuju dengan pendapat senior, bagaimana?”
Hindari jawaban:
“Saya akan mengikuti saja karena dia senior.”
atau:
“Saya akan tetap melakukan apa yang menurut saya benar.”
Keduanya terlalu ekstrem.
Anda dapat menjawab:
“Kalau saya memiliki pandangan yang berbeda, saya akan menyampaikannya dengan sopan berdasarkan alasan yang jelas. Saya juga akan mendengarkan pertimbangan dari senior. Kalau situasinya berkaitan dengan hal yang saya tidak yakin atau di luar kompetensi saya, saya akan meminta arahan sesuai kewenangan yang berlaku.”
Jawaban tersebut menunjukkan sikap menghormati senior tanpa berarti tidak memiliki pendapat.
Bagaimana Jika Konflik Sudah Mempengaruhi Pasien?
Ini merupakan situasi yang lebih serius.
Jika masalah antaranggota tim mulai berdampak terhadap pelayanan pasien, jangan menjadikan konflik pribadi sebagai alasan untuk tidak melakukan koordinasi.
Prioritasnya adalah memastikan pelayanan tetap aman dan masalah ditangani melalui jalur yang tepat.
Dalam konteks keselamatan pasien, sistem rumah sakit juga perlu memiliki mekanisme untuk mengidentifikasi, melaporkan, menganalisis, dan menindaklanjuti insiden atau risiko.
Karena itu, jawaban interview dapat diarahkan pada:
“Saya akan memastikan kebutuhan pasien tetap menjadi prioritas, melakukan komunikasi yang diperlukan, dan meminta bantuan atau arahan dari pihak yang bertanggung jawab apabila konflik tersebut sudah mengganggu pelayanan.”
Hindari Menjelekkan Rekan Kerja Saat Interview
Ini salah satu hal yang penting.
Misalnya interviewer bertanya:
“Bagaimana kalau ada teman yang tidak kooperatif?”
Jangan menjawab:
“Saya pernah punya teman yang memang malas dan tidak bertanggung jawab.”
Kemudian Anda menceritakan semua keburukannya.
Walaupun pengalaman tersebut benar, interviewer mungkin justru melihat Anda sebagai kandidat yang mudah membawa konflik pribadi ke dalam percakapan profesional.
Lebih baik ceritakan situasinya tanpa menyerang karakter seseorang.
Misalnya:
“Saya pernah berada dalam situasi ketika pembagian tugas dalam tim belum berjalan optimal. Saya mencoba mengklarifikasi pembagian tugas dan berkomunikasi dengan anggota tim agar pekerjaan tetap berjalan.”
Fokus pada apa yang Anda lakukan, bukan seberapa buruk orang lain.
Jawaban yang Sebaiknya Dihindari
“Saya akan menegurnya langsung.”
Belum tentu salah, tetapi terlalu sederhana.
Yang penting adalah bagaimana cara Anda menegur dan apa yang dilakukan setelahnya.
“Saya langsung lapor kepala ruangan.”
Bisa diperlukan dalam kondisi tertentu, tetapi jangan menunjukkan bahwa setiap masalah kecil langsung dieskalasi.
“Saya diam saja.”
Tidak menyelesaikan masalah jika konflik sudah memengaruhi pekerjaan.
“Saya kerjakan semuanya sendiri.”
Tidak selalu merupakan solusi yang aman atau efektif.
“Saya tidak peduli, yang penting pekerjaan saya selesai.”
Berpotensi menunjukkan kurangnya teamwork.
“Saya akan membalas sikapnya.”
Ini jelas bukan pendekatan profesional.
Jangan Menghafalkan Jawaban
Sama seperti pertanyaan interview lainnya, jangan menghafalkan satu paragraf lalu mengucapkannya seperti robot.
Interviewer bisa mengubah skenario:
“Bagaimana kalau teman tersebut lebih senior?”
“Bagaimana kalau dia tetap tidak mau bekerja sama?”
“Bagaimana kalau masalahnya sudah mengganggu pasien?”
“Bagaimana kalau Anda sudah pernah menegurnya?”
Jika Anda hanya menghafalkan:
“Saya akan berkomunikasi dan melapor kepada atasan.”
Anda mungkin kesulitan menjawab pertanyaan berikutnya.
Sebaliknya, pahami prinsipnya:
Pahami masalah → komunikasi profesional → prioritaskan pekerjaan/pasien → eskalasi bila diperlukan.
Dengan prinsip tersebut, Anda bisa menyesuaikan jawaban dengan situasi.
Contoh Jawaban Singkat untuk Fresh Graduate
Jika Anda fresh graduate dan belum memiliki pengalaman menghadapi konflik di rumah sakit, tidak perlu mengarang cerita.
Anda bisa menjawab:
“Kalau menghadapi teman yang kurang kooperatif, saya akan mencoba memahami penyebabnya terlebih dahulu dan mengomunikasikannya dengan baik. Saya akan tetap fokus pada tugas dan pelayanan pasien. Kalau masalahnya tidak dapat diselesaikan dan mulai mengganggu pekerjaan, saya akan meminta arahan dari kepala ruangan atau pihak yang bertanggung jawab.”
Jawaban tersebut sudah cukup.
Anda tidak perlu berpura-pura pernah mengalami konflik tertentu jika memang belum pernah.
Contoh Jawaban untuk Kandidat Berpengalaman
Jika sudah memiliki pengalaman kerja, Anda dapat menambahkan pengalaman nyata.
Misalnya:
“Menurut pengalaman saya, masalah dalam tim sebaiknya dikomunikasikan terlebih dahulu supaya kita mengetahui penyebabnya. Kalau masih bisa diselesaikan antaranggota tim, saya akan mencoba menyelesaikannya secara profesional. Tetapi kalau masalahnya berulang dan mulai berdampak pada pekerjaan atau pelayanan pasien, saya akan melakukan eskalasi melalui jalur yang berlaku.”
Jika interviewer meminta contoh, barulah Anda ceritakan pengalaman yang relevan.
Gunakan Prinsip “Masalah, Bukan Orangnya”
Ini salah satu cara paling sederhana untuk membuat jawaban terdengar lebih profesional.
Jangan fokus:
“Teman saya malas.”
Fokus:
“Ada pembagian tugas yang belum berjalan dengan baik.”
Jangan:
“Dia susah diajak komunikasi.”
Lebih baik:
“Koordinasi dalam tim belum berjalan optimal.”
Jangan:
“Dia selalu bikin masalah.”
Lebih baik:
“Ada masalah berulang yang mulai memengaruhi pekerjaan.”
Dengan mengubah cara berbicara seperti ini, Anda menunjukkan bahwa Anda berusaha melihat masalah secara objektif, bukan menyerang orang.
Empat Kata yang Bisa Diingat Saat Interview
Kalau Anda takut lupa ketika mendapatkan pertanyaan ini, ingat empat kata:
Pahami
Cari tahu masalahnya sebelum mengambil kesimpulan.
Komunikasikan
Bicarakan secara profesional jika masih memungkinkan.
Prioritaskan
Pastikan pekerjaan dan pelayanan pasien tidak terganggu.
Eskalasi
Jika masalah tidak selesai atau mulai berdampak serius, minta arahan melalui jalur yang sesuai.
Dari empat kata tersebut, Anda sudah bisa membangun jawaban sendiri.
Jadi, Apa Jawaban yang Paling Tepat?
Jika interviewer bertanya:
“Kalau ada teman yang tidak kooperatif dalam tim, kamu mau bagaimana?”
Anda tidak harus menjawab:
“Saya akan menegurnya.”
Anda juga tidak harus mengatakan:
“Saya langsung lapor kepala ruangan.”
Jawaban yang lebih menunjukkan pola pikir profesional adalah:
“Saya akan mencoba memahami penyebabnya terlebih dahulu. Jika masih bisa diselesaikan melalui komunikasi, saya akan membicarakannya dengan baik dan fokus pada pekerjaan serta pelayanan pasien. Jika masalah tersebut tetap berlanjut atau mulai mengganggu pelayanan, saya akan meminta arahan dari kepala ruangan atau pihak yang bertanggung jawab sesuai prosedur.”
Yang perlu diingat bukan kalimatnya.
Pahami alurnya.
Karena situasi yang diberikan interviewer bisa saja berbeda.
Kesimpulan
Pertanyaan “Kalau ada teman yang tidak kooperatif dalam tim, apa yang akan kamu lakukan?” bukan sekadar pertanyaan untuk mengetahui apakah Anda bisa bekerja sama.
Interviewer dapat menggunakannya untuk melihat cara Anda berkomunikasi, menyelesaikan konflik, mengendalikan emosi, mengambil keputusan, dan menjaga profesionalisme dalam tim.
Jangan terburu-buru menyalahkan rekan kerja.
Jangan pula menganggap bahwa semua masalah harus langsung dilaporkan kepada atasan.
Gunakan pola:
Pahami → Komunikasikan → Prioritaskan pekerjaan dan pasien → Eskalasi jika diperlukan.
Dengan pola tersebut, Anda dapat menunjukkan bahwa Anda bukan hanya ingin terlihat sebagai kandidat yang “bisa bekerja sama”, tetapi benar-benar memahami bagaimana bekerja sama ketika situasi tidak berjalan ideal.
Untuk memahami pertanyaan interview perawat lainnya, termasuk bagaimana menjawab pertanyaan tentang kesediaan menggantikan teman saat libur dan apa yang dilakukan jika melakukan kesalahan kepada pasien, Anda dapat membaca panduan interview kerja perawat di rumah sakit.